Alex Komang

 Nama :
Syaifi’in Nuha
 
Lahir :
Jepara, Jawa Tengah,
17 September 1961
 
Wafat :
Semarang, Jawa Tengah,
 13 Februari 2015  
 
Pendidikan :
SD 2 Pecangaan, Jepara,
 Jawa Tengah (1973),
SMP Wali Songo Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah (1976),
SMA Wali Songo Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah (1979)
 
Aktifitas Lain :
Ketua Badan Perfilman Nasional (2014-2017)
  
Filmografi :
Secangkir Kopi Pahit (1984), Doea Tanda Mata (1985),
 Ibunda (1986),
 Pacar Ketinggalan Kereta (1988),
A Long Road To Heaven (2006),
Laskar Pelangi (2008),
Romeo dan Juliet (2009),
Darah Garuda (2010),
True Love (2011),
Surat Kecil Untuk Tuhan (2011),
9 Summers 10 Autums (2013),
Sebelum Pagi Terulang kembali (2014),
Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)
 
Sinetron :
Kesaksian (1994),
Indonesia Berbisik (1995),
Tirai Sutra (1996),
Perkawinan Siti Zubaedah (1997)
Bila Esok Tiba (1997),
 Bingkisan Untuk Presiden (2000),
Cinta Terhalang Tembok (2002),
9 Summers 10 Autums (2013),
Gunung Emas Al Mayer (2014),
FTV – Wagina Bicara
 
Pencapaian :
Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 1985 sebagai Pemeran Utama Terbaik dalam Film Doea Tanda Mata,
Pemeran Pembantu Pria Terpuji melalui film 9 Summers 10 Autums di Festival Film Bandung (2013)

Seniman Teater
  Alex Komang
 
 
 
Ia adalah salah satu aktor yang tergabung dalam Teater Populer pimpinan Teguh Karya (alm). Ia amat aktif di dunia seni peran hingga sekarang. Meraih Piala Citra pada FFI tahun 1985 dalam film ‘Doea Tanda Mata’ arahan sutradara Teguh Karya sebagai pemeran Utama Terbaik. Ayahnya sama sekali tidak bangga tapi justru malu karena anaknya mengubah nama aslinya, Syaiful Nuha menjadi Alex Komang. Kalau dicemooh tetanggannya, si ayah beralasan Alex Komang itu ucapan lidah Jawa untuk kata-kata Alaika Komarun, artinya Untukmu Bulan. Tapi apa boleh buat, sejak awal sewaktu masih di Jepara, Jawa Tengah, pada dirinya sudah tumbuh minat terhadap sastra dan teater. Ia membaca buku sastra seperti karya Shakespeare, Hamlet, Chekov yang ia dapatkan bukan di sekolah tapi di toko buku milik ayahnya.
 
Niatnya terjun ke bidang kesenian di tentang ayahnya yang kiai. Maklum, didaerahnya Jepara, Jawa Tengah, kesenian masih diperdebatkan kehadirannya, bahkan dianggap haram. Ketika menulis cerpen pun ia terpaksa menggunakan nama samaran, Alex Komang, agar tidak melukai perasaan ayahnya. Makanya setelah lulus SMA ia hijrah ke Jakarta walau harus jauh dari ibu yang sangat mengayominya. Tinggal di Gelanggang Olah Raga Bulungan, Jakarta Selatan, tempat nongkrong para seniman, disitu pula ia pertama kali ikut bermain teater

Pada 1980-an itu, Ketua Badan Perfilman Nasional (2014-2017) ini bersama teater EGG (Teater Tetas) mengikuti festival teater Remaja dan mereka mementaskan ‘Jerit Tangis Di Malam Buta’. Perkenalannya dengan Teguh Karya membuatnya bergabung dengan Teater Populer pimpinannya memberinya peluang besar demi totalitas kesenian. Dalam setiap lakon, ia selalu memainkan peran yang menantang.


1001 Malam (2009)

 

Melalui film-filmnya ‘Secangkir Kopi Pahit’, ‘Doea Tanda Mata’, ‘Ibunda’, ‘Pacar Ketinggalan Kereta’, membuatnya menjadi tenar demikian pula lewat sejumlah sinetron. Walau terkenal sebagai aktor, ia menganggap profesi aktor tidak berbeda denga profesi yang lain. “Kalau tidak berada di atas panggung, saya tidak harus memberi jarak. Kalau saya diatas panggung, saya menghormati panggung itu”, ujarnya. Ia pengagum Teguh Karya, Gunawan Moehammad, dan Xanana Gusmao. “Pak Teguh buat saya berperan dalam mempengaruhi saya berkesenian. Dan yang mengantar saya untuk mengenal banyak hal”, begitu alasannya.
 
Melalui proses yang cepat, tanpa pacaran ia menikah dengan wanita asal Malaysia, Nory, di tahun 1998. Dari perkawinannya itu mereka dikaruniai satu anak. “Anak yang baru tumbuh itu semua spontan, tapi oleh orang dewasa diartikan sebagai kenakalan”, katanya. Untuk itu ia membangun kespontanan dengan cara memberi pengertian kepada anak ketimbang larangan. “Saya tidak punya suatu persepsi bahwa bila ayahnya seniman, anaknya juga harus jadi seniman”, ujarnya. “Kalau bapaknya seniman, lalu anaknya jadi seniman, itu karena si anak bersinggungan dengan kegiatan bapaknya, bukan karena darah bapaknya”, katanya.
 
Pada Kamis, 13 Februari 2015, pukul 20.00 WIB, Alex Komang menutup lembaran hidupnya di usia 53 tahun, akibat menderita kanker hati, di RSUP Dr. Kariadi, Semarang, Jawa Tengah. Dikebumikan keesokan harinya, Sabtu, 14 Februari 2015 di Jepara, Jawa Tengah, yang merupakan kampung halamannya.     
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...