Alfons Taryadi

Nama :
Alfons Taryadi
 
Lahir :
Klaten, Jawa Tengah,
11 Mei 1936
 
Wafat :
Jakarta, 18 Mei, 2013
 
Pendidikan :
Pontifical Athaeneum, Poona, India (1965),
Jurusan Filsafat Fakultas Sastra UI (1979)
 
Karier :
Editor majalah Intisari,
Editor Kebudayaan Kompas,
Presiden Direktur PT Sarana Informatika (1987-1996), Presiden Direktur PT Elex Media Komputindo
 (1987-1996),
Presiden Direktur PT Gramedia Widiasarana (1990-1996), Presiden Direktur PT Gramedia Pustaka Utama (1990-1996), Wakil Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (1990-1996)
 
Kegiatan Lain :
Ketua I Dewan
Pertimbangan Ikapi,
Koordinator Program Pustaka IKAPI-Ford Foundation,
Wakil Ketua Yayasan Bhumiksara,
 Koresponden Indonesia untuk Asian/Pacific Book Development (sejak 1998),
Pengajar pada Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan Politeknik UI (1997-1999),
Anggota
Dewan Kesenian Jakarta, Ketua Ikatan Sarjana Filsafat Indonesia cabang DKI Jaya,
Anggota Yayasan Driyakarya,
Anggota Himpunan Penerjemah Indonesia

Karya :
Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl R. Popper (1989),
Strategi Pengembangan Perbukuan Nasional (bersama Bun Yamin Ramto dan Zakarsyi Nurdin, 1995),
Wanita I, II, terjemahan dari The Female karya I Paul Wellman (1975),
Buku dalam Indonesia Baru
(kata pengantar dan editor, 1999),
Papilon I, II, terjemahan dari Daughter of Silence karya Morris West (1979),
Rahasia Shambala terjemahan dari The Secret of Shambhala karya James Redfield (2001)


Penulis
Alfons Taryadi
 
 
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 11 Mei 1936. Walau berasal dari keluarga kurang berada, dan ayahnya tak tamat sekolah dasar, bahkan ibunya buta huruf, sejak kecil Alfons sudah menyukai buku. Buku apa pun yang bisa ia dapatkan, dibacanya, termasuk kitab Suci. Kegemarannya tersebut betul-betul ‘termanjakan’, sewaktu ia masuk Seminari Martoyudan di Magelang, Jawa Tengah, pada usia 17 tahun. Tempat tersebut memiliki koleksi buku sangat lengkap. Apalagi salah seorang pastur di sana mengkondisikan Alfons untuk mencintai buku sastra dan humaniora. Oleh pihak seminari, akhirnya Alfons disekolahkan di Poona, India, mengambil jurusan filsafat, sampai memperoleh gelar Licentiate in Philosophy dari Pontificial Athaeneu, Poona, India (1965).
 
Namun, karena ada keraguan dan ketakutan tak patut dan tak kuat menyandang posisi pastur, akhirnya, setahun setelah pulang dari India pada usia 29 tahun, Alfons keluar dari seminari. Keluarganya sempat kecewa karena menjadi pastur adalah suatu kehormatan. Selanjutnya Alfons masuk grup Kompas (1966), mengawali karir sebagai editor majalah Intisari, sebelum ditugaskan sebagai editor kebudayaan Kompas. Untuk mendukung profesi tersebut, ia nyambi kuliah filsafat di UI.
 
Setelah lulus dan meraih sarjana filsafat dari jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1979), Kariernya di grup Kompas semakin menanjak dengan di percaya menjabat sebagai Presiden Direktur PT Sarana Informatika (1987-1996), Presiden Direktur PT Elex Media Komputindo (1987-1996), Presiden Direktur PT Gramedia Widiasarana (1990-1996), Presiden Direktur PT Gramedia Pustaka Utama (1990-1996), serta Wakil Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (1990-1996).

Setelah pensiun dari Gramedia pada tahun 1996, ia masih tetap berkutat pada perbukuan. Selain menjadi Ketua I Dewan Pertimbangan Ikapi, Koordinator Program Pustaka Ikapi-Ford Foundation, Wakil Ketua Yayasan Bhumiksara dan Koresponden Indonesia untuk Asian/Pacific Book Development sejak 1998. Ia juga pernah menjadi pengajar pada Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan Politeknik UI (1997-1999).
 
Kegiatannya yang lain yang sempat ia jalani yakni menulis kesenian dan budaya di berbagai media, bergaul dengan seniman, ikut teater keliling, dan sempat bergabung dengan Sanggar Prativi bermain drama, serta pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta serta Ketua Ikatan Sarjana Filsafat Indonesia cabang DKI Jaya.

Pria yang menguasai empat bahasa asing ini juga kerap menterjemahkan karya-karya sastra asing, diantaranya ‘Wanita I & II’ (1975, karya Paul I. Wellman), ‘Papillon’ (1987, karya Henri Charrierre), ‘Gadis Penyemir Sepatu’ (1995, karya Robert Balla), ‘Manuskrip Celestine’ (1997; karya James Redfield). Ia juga menjadi editor buku dalam Indonesia Baru (kumpulan esai, 2000).

Karya terjemahannya yang berjudul ‘Wanita I & II’ (1975; karya Paul I. Wellman), yang dimuat di Kompas dan meledak. Membuat namanya semakin dikenal, bahkan ketika ada misi penerbit Inggris berkunjung ke Ikapi, Alfons ditunjuk untuk memandu mereka mengenalkan dunia buku Indonesia. Setelah itu menggelindinglah kesempatan lain, diantaranya diundang ke luar negeri menjadi pembicara pada forum buku internasional.
 
Kunci suksesnya dalam berkarya selama ini adalah, antusias, terbuka, dan ‘respons’ total. Sebagai praktisi perbukuan, ia melihat bahwa perhatian kolektif sebagai bangsa terhadap perbukuan di Indonesia masih kurang. Di Australia, kata Alfons, pengarang diberi subsidi untuk menulis seumur hidup. Tapi, bila dibandingkan dengan zaman ketika Alfons masih muda, sekarang ada peningkatan, terutama pada penerbitan buku-buku terjemahan, kendati kualitas penerjemahannya banyak yang amburadul.
 
Menikah di Yogyakarta, dengan Maria Theresia Sri Suhesti, seorang perawat di RS St Carolus Jakarta, pada tahun 1968, di karuniai 4 orang anak. Kepada anak-anaknya, ia juga memperkenalkan kegemaran membaca sejak dini. setiap pulang dari keluar kota atau luar negeri, ia selalu membawa oleh-oleh buku.
 
Pada hari Sabtu, 18 Mei 2013, pukul 18.05 wib, Alfons Taryadi wafat karena penyakit jantung dan stroke di RS. St. Carolus Jakarta. Dimakamkan pada Minggu siang di Pemakaman San Diego Hills. Karawang, Jawa Barat.  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

 

 

You may also like...