Ali Sukri

Nama :
Ali Sukri
 
Lahir :
Pinjauan, Sumatera Barat,
28 Oktober 1978
 
Pendidikan :
Sekolah Menengah Kejuruan Indonesia/SMKI, Padang, Sumatera Barat (1995),
Sekolah Tinggi Seni Indonesia/STSI Padang Panjang,
Sumatera Barat
S-2 Penciptaan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta,
Jawa Tengah
 
Karya :
Dentuman Gong (1998),
Baliak Ka-asa (1998),
Mercuri (1999),
Rantak Saayun (2000),
Alang Bagaluik (2000),
Akhir Sebuah Penantian (2000),
Polibek (2001),
Giring-giring Perak (2002),
Buih (2003),
Batu (2003),
Tun Fatimah (2003),
Langkah Hang Tuah (2003),
Kaca (2003),
Puisi Tubuh (2009)
 
Pencapaian :
Juara I Penari Tunggal pada Lomba Karya Tari Kreasi Minang Se-Kota Madya Padang, Sumatera Barat  (1997),
Penghargaan Aktor dan Penari terbaik dalam Rangka Acara Dewan Kesenian Padang, Sumatera Barat (2002),
Penghargaan sebagai Penari Tunggal Terbaik  dalam Lomba koreografi Kategori Tari Tunggal Kontemporer (2003)
 

Koreografer dan Penari
Ali Sukri
 
 
Lahir di Pinjauan, Sumatera Barat pada 28 Oktober 1978. Menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Padang Panjang untuk komposisi tari. Berkecimpung di dunia tari dimulai sejak ia menimba ilmu pada tahun 1995 di SMKI Padang. Kemudian ia berguru pada Deslenda, Agrijum, Eri Mefri, Zuriati Zubir, Tom Ibnur, Ninon Sodia, Rasmida, Syaril Alex, Indra Utama, Susasrita Loravianti, Boi G. Sakti, serta banyak koreografer lain.
 
Begitu banyak ia menimba ilmu tari dari banyak koreografer dari berbagai aliran, cukup mematangkan ia sebagai koreografer muda. Pada tahun 1998, karya pertamanya dengan judul ‘Dentuman Gong’ tercipta. Karya itu dipentaskan untuk memperingati Ulang Tahun STSI Padang Panjang. Di tahun yang sama, ‘Baliak Ka-asa’ ia ciptakan. Setelah itu berturut-turut tercipta Mercuri (1999), ‘Rantak Saayun’, dan ‘Alang Bagaluik’ (2000), ‘Akhir Sebuah Penantian’ (2000), ‘Polibek’ (2001), ‘Giring-Giring Perak’ (2002). Karya ‘Polibek’ dan ‘Giring-Giring Perak’ dipentaskan di Gelanggang Tari se-Sumatera di Taman Budaya Padang, Sumatera Barat.

Tahun 2003, ia menggenjot segala kemampuannya untuk mencipta karya. Tak sia-sia, empat karya tercita. ‘Buih’ ia ikutkan pada kompetisi Tari Tunggal Kontemporer Bandar Serai Award Pekan Baru, Riau. Koreografi ‘Batu’ tampil pada Solo Dance Festival, Jawa Tengah dan Gelar karya 20 Tahun Pusat Latihan Laksamana Pekan Baru, Riau. ‘Tun Fatimah’ tampil di Peringkat Kejohan tari di Bengkalis Riau, dan ‘Langkah Hang Tuah’ dipentaskan di Bintan Zapin Festival, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.


Kaca (2003)

Beberapa penghargaan yang pernah diteriman adalah Juara I Penari Tunggal pada Lomba Karya Tari Kreasi Minang Sekodya Padang, Sumatera Barat pada tahun 1997, Penghargaan Aktor dan Penari Terbaik dalam Rangka Acara Dewan Kesenian Padang, Sumatera Barat tahun 2002, dan pada tahun 2003, Penghargaan sebagai Penari Tunggal Terbaik ia raih dalam Lomba Koreografi Kategori Tari Tunggal Kontemporer di Pekan Baru, Riau.
 
Selain sebagai penari dan penata tari, ia juga kini aktif di bidang Teater Hitam Putih pimpinan Yusril. Saat ini, ia juga bergabung dengan grup tari Taratak Padang Panjang pimpinan Tom Ibnur. Pada 29 Oktober 2009, Ali Sukri mementaskan karya terbarunya, ‘Puisi Tubuh’ di Bentara Budaya, Jakarta. Tari ini memperlihatkan sosok manusia dalama menghadapi kehidupan manusia kini, manusia yang semakin kehilangan ruang pribadi karena berbaur dengan ruang publik.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply