Amalia Sigit

Pematung
Amalia Sigit
 
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 24 November 1963. Pendidikan seninya di tempuh di Akademi Seni Rupa dan Desain ISWI, jurusan Desain Mode (1982-1985), dan menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana di Jurusan Desain Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Kesenian Jakarta (1987-1990).
 
Kiprahnya di dunia seni rupa sudah tidak diragukan lagi. Pengajar di Akademi Seni Rupa dan Desain ISWI (1988-1995), Lembaga Pendidikan Seni dan Desain Harry Darsono (1993-1996) dan di FSRD Institut Kesenian Jakarta (2003-2005) ini, tercatat telah menjadi desainer dan penata kostum pada operet yang diproduksi oleh beberapa lembaga dan rumah produksi, diantaranya membuat kostum karakter Bobo Planet Komersia, yang di sutradarai oleh Isdaryanto BU, produksi PT Gramedia (1988); Menjadi penata kostum SOLDAT, yang di sutradarai oleh Sena Utoyo, produksi Sena Didi Mime (1989); Penata kostum OTHELLO, yang disutradarai oleh Ratna Sarumpaet, produksi Satu Merah Panggung (1989); Desainer kostum operet Bobo Planet Elekton, yang di sutradarai oleh Isdaryanto BU, produksi PT Gramedia (1990), Desainer kostum Operet Murni, yang di sutradarai oleh Isdaryanto BU, produksi Sanggar Kreativitas Anak (1991); Membuat kostum karakter si Komo cs untuk Holiday on Ice Around The World di Istora Senayan Jakarta (1992); Desainer kostum Operet Si Nyangun, produksi Sanggar Legenda TVRI Jakarta (1999), dan lain-lain.
 


Hell Girl, 76 x 58 x 74 cm (2010)

Beberapa kali ia terlibat sebagai tim artistik set dan properti seperti pada sejumlah opera yang diproduksi oleh Teater Koma (2001); Tim artistik untuk patung Extra Joss, Bawen, Semarang (2002); Tim artistik diorama Anjungan DKI, di Taman Mini Indonesia Indah (2002), Tim artistik untuk patung Extra Joss, di tol Padaleunyi, Bandung (2003); Tim artistik diorama Museum Gedung Joang’45, Jakarta (2003), Tim artistik diorama Museum Husni Thamrin, Jakarta (2003), dan masih banyak lagi. Sedangkan kiprahnya sebagai pematung, di tunjukannya dengan mengikuti sejumlah pameran bersama yang selenggarakan oleh Kelompok 12 Pas, kelompok perupa yang berkiprah sejak tahun 2005, yang pada awalnya sebagian besar anggotanya adalah alumnus jurusan Seni Rupa IKJ-LPKJ, Jakarta, dengan latar belakang profesi mereka adalah pelukis, pematung, pegrafis, juga pelaku fashion.
 

 
Pameran yang pernah di ikutinya bersama kelompok 12 Pas antara lain Pameran Badung di Bandung, di The Peak Resort and Dinning, Bandung (2005), Pameran 12 Pas di Bali, di Popo Danes Art Veranda, Denpasar, Bali (2006), Pameran bersama 12 Pas di Galeri 678, Kemang, Jakarta (2006), Pameran Life…, di Showroom Volvo, Jakarta (2006), Pameran Celebration of Life di Permata Berlian Residence, Jakarta (2007), dan lain sebagainya.
 
Dalam sejumlah karyanya, wanita yang akrab disapa Liliek ini, kerap mengangkat figur perempuan sebagai objek, hal ini terinspirasi dari kegemarannya membaca komik HC Andersen semasa ia masih kecil, terutama yang digambar oleh Gerdi WK. Dalam komik karya Gerdi WK, ketika itu ia sangat terobsesi oleh kehadiran tokoh Gina. Tokoh Gina digambarkan sebagai perempuan muda dari Negeri 1001 Malam dengan kesaktian super. Selain serial komik Gina karya Gerdi WK, ia juga tergila-gila dengan komik-komik Teguh Santosa, dimana kisah-kisah fantasinya juga syarat dengan tokoh-tokoh sakti, dengan perpaduan setting dunia wayang dan surrealis. Dengan mencontoh dari komik-komik itulah, ditambah dengan pelajaran menggambar dari orangtuanya, ia kemudian semakin serius belajar menggambar manusia, terutama figur perempuan, dengan menggunakan elongated style, yang merupakan gayanya ketika menciptakan suatu karya.
 
Meski dikenal ahli dalam mendesain baju, namun dalam penciptaan figur-figur patung karyanya, ia cenderung tidak memberi mereka pakaian. Karena ia tidak ingin terjebak dengan masalah desain (pakaian) yang kemudian bisa menandakan suatu era atau periode tertentu. Desain selalu berkaitan dengan jaman. Ia ingin patung karyanya terlihat timeless. Untuk lebih memperindah karyanya tersebut, ia kerap menghiasi patung-patungnya dengan sirip, sayap dan sebagainya. Hal itu juga tak lepas dari fantasinya tentang manusia-manusia sakti dan kekagumannya akan gambar-gambar hewan yang unik. Sehingga pada akhirnya terciptalah konsep visualisasi dari karya patungnya, in the name of beauty, semata-mata demi keindahan.
 
Pada pameran tunggal bertajuk Pulp Fiction yang berlangsung di bulan Desember 2013 di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ia mencoba mewujudkan obsesi-obsesi fantasinya dengan melakukan sebuah terobosan baru dalam dunia senirupa Indonesia. Jika ditinjau dari pemilihan bahan, ia melakukan pengolahan material yang tidak lazim, yaitu Pulp (bubur kertas). Ia menjadikan pulp, berubah menjadi figur-figur anatomik (manusia) yang massif dan padat. Layaknya karya patung dengan menggunakan material konvensional seperti semen atau resin. Karyanya menjelma menjadi bentuk-bentuk 3 dimensional yang elok, enerjik sekaligus aktraktif.
 
Kini ia tinggal dan menetap di Bumi Pesanggrahan Mas, Jl. Pondok Raya/ P.12, Petukangan Selatan, Jakarta.
 
(Dari berbagai Sumber)

Nama :
Amalia Sigit
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
24 November 1963
 
Pendidikan :
Akademi Seni Rupa dan Desain ISWI, jurusan Desain Mode (1982-1985)
Jurusan Desian Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Kesenian Jakarta (1987-1990)
 
Profesi :
Desainer dan penata kostum,
Artistik set dan property,
Pengajar Akademi Seni Rupa dan Desain ISWI (1988-1995),
Pengajar Lembaga Pendidikan Seni dan Desain Harry Darsono (1993-1996),
Pengajar FSRD Institut Kesenian Jakarta (2003-2005)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply