Amir Hamzah


Amir Hamzah
 
 
 
Dalam diri seorang penyair, ada dua aspek yang sering diperbincangkan, yaitu realitasnya sebagai seorang manusia, dan kapasitasnya sebagai seorang penyair. Dua realitas ini berjalan seiring, saling mempengaruhi dan saling menjelaskan. Semua penyair adalah manusia, namun, tidak semua manusia menjadi penyair. Amir Hamzah adalah seorang manusia penyair. Karena kepenyairannya, ia menjadi terkenal sebaliknya, karena sisi kemanusiaannya yang terlahir sebagai seorang anggota keluarga kesultanan Langkat, ia kemudian dibunuh.
 
Ia terlahir sebagai putera dari seorang keluarga istana, sebuah posisi politik yang tidak selamanya menguntungkan. Sebab ia tak kuasa untuk memilih, apalagi menolak, apakah menjadi bagian dari rakyat jelata, atau bangsawan istana. Lahir pada 28 Januari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, Amir tumbuh dan berkembang dalam suasana harmonis keluarga sultan. Sebagaimana kerajaan Melayu lainnya, Langkat juga memiliki tradisi sastra yang kuat. Lingkungan istana inilah yang pertama kali mengenalkan dunia sastra pada dirinya. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil adalah seorang pangeran di Langkat yang sangat mencintai sejarah dan sastra Melayu. Pemberian namanya sebagai Amir Hamzah disebabkan ayahnya yang sangat mengagumi Hikayat Amir Hamzah.
 
Dalam lingkungan yang seperti itulah, kecintaan Amir terhadap sejarah, adat-istiadat dan kesusasteraan negerinya tumbuh. Lingkungan Tanjungpura juga sangat mendukung perkembangan sastra Melayu, mengingat penduduknya kebanyakan berasal dari Siak, Kedah, Selangor dan Pattani. Dalam masa pertumbuhannya di Tanjungpura, ia bersekolah di Langkatsche School, sebuah sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda. Di sore hari, ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar bekas istana Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat. Setelah tamat HIS, Amir melanjutkan studi ke MULO di Medan. Tidak sampai selesai, ia  pindah ke MULO Jakarta.
 
Saat umurnya masih 14 tahun. Disamping lingkungan istana Langkat dan kota Tanjungpura, perkembangan kepenyairan Amir Hamzah juga banyak dibentuk selama masa belajarnya di Jawa, sejak sekolah menengah di MULO Jakarta, Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, hingga Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Semasa studi di Jawa inilah, terutama ketika masih di AMS Solo, Amir menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya.
 
Pada tahun 1931, ia pernah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo ia bergaul dengan para tokoh pergerakan nasional dan telah memberikan sumbangan tak ternilai pada dunia kesusasteraan. Ia telah memberikan sumbangan tak ternilai dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia, melalui karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Menurutnya, bahasa Melayu adalah bahasa yang molek, yang tertera jelas dalam suratnya kepada Armijn Pane pada bulan November 1932.
 
Bahasa Indonesia bagi Amir adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan, dan juga keislaman. Syair-syair Amir adalah refleksi dari relijiusitas, kecintaan pada ibu pertiwi dan kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu. 
 
Selama hidupnya Amir telah menghasilkan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan. Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Karya-karya tersebut terkumpul dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Bhaghawat Gita. Dari karya-karya tersebutlah, Amir meneguhkan posisinya sebagai penyair hebat. Amir adalah perintis yang membangun kepercayaan diri para penyair nasional untuk menulis karya sastranya dalam bahasa Indonesia, sehingga posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan semakin kokoh.
 
Penghargaan terhadap jasa dan sumbangsih Amir Hamzah terhadap bangsa dan negara Indonesia baru diakui secara resmi pada tahun 1975, ketika Pemerintah Orde Baru menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Dalam tataran simbolik lainnya, penghargaan dan pengakuan terhadap jasa Amir Hamzah ini bisa dilihat dari penggunaan namanya sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, dan nama masjid di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
 
Amir Hamzah lahir dan besar di tengah revolusi, dan revolusi juga yang telah menguburnya. Ia meninggal akibat revolusi sosial di Sumatera Timur pada bulan Maret 1946, awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ia hilang tak tentu rimbanya. Mayatnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kuala Begumit. Ia tewas dipancung tanpa proses peradilan pada dinihari, 20 Maret 1946, ia meninggal dalam usia yang relaif mati muda, 35 tahun. Kesalahannya saat itu adalah, ia lahir dari keluarga istana. Karena pada saat itu sedang terjadi revolusi sosial yang bertujuan untuk memberantas segala hal yang berbau feodal dan feodalisme. Sebagai korbannya, banyak para tengku dan bangsawan istana yang dibunuh, termasuk Amir Hamzah sendiri. Saat ini, di kuburan Amir Hamzah terpahat ukiran dua buah sajaknya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Tengku Amir Hamzah Indera Putera
 
Lahir :
Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur,
28 Februari 1911
 
Wafat :
Kuala Begumit,
20 Maret 1946
 
Pendidikan :
Sekolah Menengah Langkatsche School (HIS),
MULO di Medan dandi Jakarta,
Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo,
Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta
 
Profesi :
Penyair,
Sasatrawan
 
Karya :
Kumpulan sajak Buah Rindu,
Kumpulan sajak Nyanyi Sunyi,
Kumpulan sajak Setanggi Timur,
Buku Sastra Melayu dan Raja-Rajanya,
Buku Kesustraan Indonesia Baru,
Terjemahan Bhaghawat Gita,
Buku Esai dan prosa
 
Penghargaan :
Penghargaan Satya Lencana (1967),
Penghargan sebagai Pahlawan Nasional bidang bahasa dan sastra (1968),
Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebudayaan dari Persiden RI (1969),
Anugerah Seni Sastrawan Indonesia Utama dari Mendikbud (1969),     
Diangkat sebagai Pahlawan Nasional (1975)

You may also like...