Anggun Cipta Sasmi

Nama :
Anggun Cipta Sasmi
 
Lahir :
Jakarta, 29 April 1974
 
Pendidikan :
SMAN 68 Jakarta
 
Aktifitas Lain :
Mendirikan Perusahan Rekaman Bali Cipta Records,
Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Skim Mikrokredit, sebuah program pengentasan kemiskinan di seluruh dunia,
Ambassador bagi Audemars Piguet, sebuah perusahaan jam tangan asal Swiss
Marraine des Prix Micro-Environnement/duta lingkungan hidup oleh National Geographic Channel dan Kementerian Ekologi dan Pembangunan Berkelanjutan Perancis,
Duta produk shampoo dan susu (2009),
Duta organisasi pangan Internasional Food and Agriculture Organization (FAO) dalam misi pengentasan kelaparan di seluruh dunia,
Pemilik Perusahaan Rekaman April Earth
 
Pencapaian :
Artis Indonesia Terpopuler 1990-1991,
Lagu Snow on the Sahara versi bahasa Perancis menjadi lagu yang paling sering diputar di Perancis (1998),
Diundang ke Vatikan oleh Paus Yohanes PaulusII dan menggelar konser bersama Dionne Warwick (2000),
The Cosmopolitan Asia Women Award (2000),
Album Chrysalis berhasil meraih penghargaan gold di Italia (2001),
The Women Inspire Award (2002),
Diamond Export Award atas keberhasilan album Snow on the Sahara terjual lebih dari 1,5 juta keeping diseluruh dunia (2003),
Diamond Award dalam acara MIDEM Award (2003),
Juru Bicara PBBB untuk program tahun mikrokredit internasional (2005),
Chevalier des Arts et Lettres dari pemerintah Perancis,
Penghargaan khusus dari Anugerah Musik Indonesia sebagai Artis Internasional Terbaik (2006),
Penghargaan Le grand couer de l’annee atas kontribusinya dalam sejumlah permasalahan sosial dan lingkungan hidup di Perancis,
Album Echoes berhasil meraih platinum di Indonesia pada minggu pertama perilisannya (2011),
Penghargaan Khusus Taormina untuk kegiatan kemanusiaan sebagai FAO Goodwill Ambassador dalam acara Festival Film Taormina 2013 di Italia,
World Best-Selling Indonesian Recording Artist di ajang World Music Awards 2014
 
Diskografi :
Dunia Aku Punya (1986),
Tua-Tua Keladi (1990),
Anak Putih Abu Abu (1991),
Noc Turno (1992),
Anggun C. Sasmi… Lah!!! (1993),
Yang Hilang (album kompilasi, 1994),
Snow on the Sahara (1997),
Chrysalis (2000),
Luminescence (2005),
Elevation (2008),
 

Penyanyi
Anggun C. Sasmi
 
 
 
 
Lahir di Jakarta, 29 April 1974. Putri pertama dari pasangan Darto Singo, seorang seniman Indonesia dengan Dien Herdina, seorang ibu rumah tangga yang masih keturunan keraton Yogyakarta. Menempuh pendidikan dasarnya di sebuah sekolah Katholik di Jakarta, meskipun ia sendiri adalah seorang muslim. Ia dibesarkan dalam keluarga yang penuh seni. Sejak usia tujuh tahun ia digembleng latihan vokal setiap hari oleh ayahnya. Diajarkan berbagai latihan teknik vokal dengan penuh disiplin. Tidak hanya itu, ia juga diajarkan bermain piano. Dengan di manajeri ibunya, ia kemudian mulai tampil di atas panggung, mengawali kariernya dengan tampil di panggung Ancol pada usia tujuh tahun, lalu merekam album anak-anak dua tahun kemudian.
 
Saat menginjak usia 12 tahun, ia meluncurkan album rock pertamanya ’Dunia Aku Punya’ (1986). Album tersebut diproduseri oleh gitaris terkenal Indonesia, Ian Antono. Di akhir tahun 1989, ia kembali merilis singel berjudul ‘Mimpi’, yang langsung melambungkan namanya. Popularitasnya terus melejit dengan dirilisnya sederet singel seperti ‘Tua-Tua Keladi’ dan ‘Takut’. Ia kemudian berhasil meraih penghargaan sebagai Artis Indonesia Terpopuler 1990-1991. Setelah sukses dengan singelnya, ia kembali merilis album studio berjudul ‘Anak Putih Abu-Abu’ (1991), yang disusul dengan ‘Nocturno’ (1992). Di usianya yang masih belia, ia telah berhasil melejit sebagai salah satu penyanyi rock paling sukses di paruh awal 1990-an. Album-albumnya terjual laris di pasaran dan singel-singelnya merajai tangga lagu di Indonesia.
 
Tahun 1992, ia menjalin hubungan dengan Michel Georgea, seorang insinyur berkebangsaan Perancis. Pertama kali bertemu saat ia mengadakan tur konser di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mereka kemudian menikah dan Michael diangkat menjadi manajenya. Di usia 19 tahun, ia berhasil menjadi penyanyi termuda yang mendirikan perusahaan rekamannya sendiri, Bali Cipta Records. Ia juga terjun langsung sebagai produser rekaman sehingga lebih bebas dalam menggarap albumnya sendiri. Ia kemudian merilis album studio terakhirnya di Indonesia berjudul ‘Anggun C. Sasmi… Lah!!!’ pada tahun 1993. Singel pertamanya, ‘Kembalilah Kasih (Kita Harus Bicara)’, kembali mencetak sukses dan videonya sempat menembus MTV Hong Kong.
 
Berselang satu tahun, ia kembali meluncurkan sebuah album kompilasi terbaik berjudul ‘Yang Hilang’ yang memuat lagu-lagu hitnya selama di Indonesia pada tahun 1994. Setelah itu, ia menjual perusahaan rekamannya dan hijrah ke Eropa untuk mewujudkan impiannya menjadi penyanyi internasional. Bersama Michel Georgea, ia menetap di London, Inggris, selama setahun untuk memulai kariernya. Ia rajin mengirim demo rekaman ke berbagai studio di Inggris dan juga pergi ke klub-klub untuk memperkenalkan dirinya sebagai penyanyi. Namun ia harus menerima kekecewaan berbulan-bulan kemudian tatkala semua demo rekamannya tidak mendapat respon positif, ia memutuskan hijrah ke Perancis.
 
Di Perancis, ia bertemu dengan Erick Benzi, salah seorang produser besar yang pernah menggarap album sejumlah penyanyi kenamaan seperti Celine Dion, Jean-Jacques Goldman dan Johnny Hallyday. Benzi terpikat oleh kemampuan vokalnya dan seketika itu menawarkannya untuk rekaman album. Setelah menerima tawarannya, ia memutuskan untuk mempelajari bahasa Perancis secara otodidak.
 
Dengan bantuan Benzi, ia direkrut oleh Columbia Records di Perancis. Tidak hanya itu, ia juga berhasil mendapat kontrak label induk Sony Music International untuk album yang diedarkan secara internasional. Album berbahasa Perancis pertamanya berjudul ‘Au nom de la lune’ di rilis pada 24 Juni 1997. Yang paling menonjol dari album ini adalah perubahan total jalur musiknya, dari musik rock yang bertahun-tahun digelutinya menjadi musik pop etnik dengan sentuhan bunyi-bunyian instrumen tradisional Indonesia. Singel pertama Anggun ‘La neige au Sahara’ langsung menjadi hit dan tercatat sebagai lagu yang paling sering diputar di radio-radio Perancis di tahun 1997. Album pertamanya tersebut berhasil mereguk sukses dengan penjualan lebih dari 150.000 kopi di Perancis dan Belgia. Ia juga berhasil menjadi nominator untuk Pendatang Baru Terbaik di Victoires de la Musique, penghargaan tertinggi bagi industri musik Perancis.
 
Setelah sukses lewat Album berbahasa Perancis, ia kemudian mencoba menggebrak pasar musik internasional dengan meluncurkan versi bahasa Inggris dari album pertamanya yang diberi judul ‘Snow on the Sahara’ di 33 negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Selain berisi lagu-lagu yang diadaptasikan dari album ‘Au nom de la lune’, ia juga mendaur ulang lagu lawas milik penyanyi David Bowie berjudul ‘Life on Mars?’. Untuk pasar Asia Tenggara, ia menyertakan sebuah lagu berbahasa Indonesia berjudul ‘Kembali’. Saat itu singel pertamanya ‘Snow on the Sahara’ berhasil meraih sukses dan menempati peringkat pertama di Italia, Spanyol, dan beberapa negara di Asia. Lagu tersebut juga mencapai posisi lima besar pada UK Club Chart di Inggris dan digunakan sebagai lagu promosi jam tangan Swatch. Album ‘Snow on the Sahara’ berhasil terjual lebih dari 1,5 juta keping diseluruh dunia dan meraih penghargaan Diamond Export Award. Album ini sempat tercatat sebagai album penyanyi Asia dengan penjualan paling tinggi di luar Asia pada saat itu.
 
‘Snow on the Sahara’ juga dirilis di Amerika Serikat, pada Mei 1998 oleh Epic Records. Ia melakukan tur selama sembilan bulan di negara itu untuk mempromosikan albumnya. Saat berada di sana, ia diundang oleh penyanyi Kanada, Sarah McLachlan, untuk tampil di Lilith Fair, sebuah festival musik wanita berkeliling Amerika Serikat. Ia juga tampil sebagai artis pendukung dalam tur konser beberapa artis seperti The Corrs dan Toni Braxton. Sempat muncul di berbagai media cetak Amerika Serikat, seperti majalah Billboard dan Rolling Stone dan juga beberapa kali tampil di televisi Amerika Seperti, seperti dalam acara The Rosie O’Donnell Show dan New York Sessions at West 54th, serta wawancara eksklusif di CNN dalam program World Beat.
 
Tidak memerlukan waktu lama, ia berhasil menoreh sejarah dengan menjadi artis berkebangsaan Indonesia pertama yang menembus tangga musik Billboard. Singel ‘Snow on the Sahara’ mencapai posisi 16 di Billboard Hot Dance/Club Play serta posisi 19 di Billboard Border Breakers Chart. Lagunya juga menduduki posisi kedua setelah Celine Dion pada daftar singel terfavorit jurnalis Billboard tahun 1998. Meskipun cukup fenomenal, namun albumnya ini terbilang tidak sukses di Amerika Serikat dan tidak mampu menembus tangga album Billboard 200. Album ini menduduki peringkat 23 di Billboard Heat Seekers Chart dan sampai saat ini terjual sekitar 200.000 keping di seluruh Amerika Serikat.
 
Resmi bercerai dengan Michel Georgea di tahun 1999. Setahun kemudian, ia juga memutuskan untuk memperoleh kewarganegaraan Perancis. Meskipun demikian, dalam suatu wawancara yang di tayangkan di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia pada tahun 2006, Anggun mengatakan “Buat saya yang ganti kan cuma warna buku kecilnya [paspor]… Tulang saya tetap putih dan darah saya merah. Saya tetap anak Indonesia.”
 
Album berbahasa Perancis keduanya berjudul ‘Désirs Contraires’ dengan singel andalan ‘Un Geste d’amour’ kembali di luncurkan tahun 2000, masih diproduseri oleh Erick Benzi. Album ini memuat jenis musik pop elektronik serta elemen ambient dan R&B. Namun, album ini gagal mengulang kesuksesan album pertamanya dan hanya terjual sebanyak 30.000 kopi di Perancis. Untuk versi internasional yang diberi judul ‘Chrysalis’, ia menulis semua lirik lagu dalam bahasa Inggris. Album internasional keduanya tersebut dirilis serentak di 15 negara pada 8 September 2000. Singel pertama dari album ini, ‘Still Reminds Me’, berhasil menjadi hit di berbagai radio di kawasan Eropa dan Asia. Lagu ini mencapai peringkat tiga di Italia dan sepuluh besar di Jepang. Singel tersebut juga menduduki posisi lima besar The Music & Media Europe Border Breakers Chart. Khusus pasaran Asia Tenggara, ia menyelipkan sebuah singel berbahasa Indonesia berjudul ‘Yang Ku Tunggu’. Tidak seperti versi berbahasa Perancis-nya, ‘Chrysalis’ tetap menjadi album multi-platinum dan berhasil meraih penghargaan gold di Italia hanya dalam waktu seminggu.
 
Akhir tahun 2000, ia mendapat undangan untuk tampil bersama penyanyi rock Kanada Bryan Adams pada konser Natal di Vatikan. Ia kemudian menggelar tur pertamanya keliling Eropa dan Asia. Konser pertamanya tersebut dimulai di Le Bataclan, Perancis pada 1 Februari 2001 dan berakhir di Kallang Theater, Singapura pada 30 April 2001. Setelah itu, ia mulai terlibat dalam banyak proyek kolaborasi. Dari banyak kolaborasi yang dilakukannya pada perode itu yang cukup sukses yaitu bersama DJ Cam dalam lagu jazz ‘Summer in Paris’, bersama Deep Forest pada lagu bercengkok Sunda ‘Deep Blue Sea’ serta duet bersama penyanyi rock terkenal Italia, Piero Pelu dalam singel ‘Amore Immaginato’, yang berhasil menduduki posisi puncak Italian Airplay Chart selama dua bulan. Ia juga terlibat dalam proyek besar dua film Skandinavia, yaitu ‘Anja & Viktor’ (2001) dan ‘Open Hearts’ (2002). Ia merilis sebuah lagu berjudul ‘Rain (Here Without You)’ untuk film ‘Anja & Viktor’. Untuk film ‘Open Hearts’, ia merilis sebuah album soundtrack di tahun 2002. Di album berbahasa Inggris ketiga ini, ia bekerja sama dengan dua musisi asal Denmark, Jesper Winge Leisner and Niels Brinck. Singel dari album ini, ‘Open Your Heart’, dinominasikan meraih penghargaan Lagu Terbaik pada Robert Awards 2003, anugerah tertinggi industri perfilman Denmark.
 
Pencapaian kariernya meraih sejumlah apresiasi. Ia dianugerahi penghargaan The Cosmopolitan Asia Women Award di tahun 2000 serta The Women Inspire Award ditahun 2002, sebagai penyanyi yang memberi inspirasi kepada seluruh wanita Asia atas kariernya sebagai penyanyi solo asal Asia yang sukses di dunia internasional. Pada Januari 2003, ia hadir di MIDEM Awards untuk menerima penghargaan prestisius, Diamond Award, yang diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Perancis. Penghargaan tersebut mengukuhkannya menjadi salah satu penyanyi berbahasa Perancis tersukses di luar Perancis. Di tahun yang sama, ia memutuskan untuk menghentikan kerja samanya dengan Sony Music akibat berubahnya struktur perusahaan itu setelah bermerger dengan BMG Music. Ia juga memutuskan pindah ke Montreal, Kanada. Di sana ia bertemu jodoh dengan Olivier Maury, seorang sarjana politik Kanada dan menikah di tahun 2004.
 
Di tahun yang sama, ia kembali ke Paris dan menandatangani kontrak dengan Heben Music, sebuah label independen Perancis. Dalam distribusi album, ia dibantu oleh Sony BMG untuk wilayah Eropa dan Universal untuk wilayah Asia. Ia kembali meluncurkan album internasional ketiganya berjudul ‘Luminescence’ di tahun 2005. Berbeda dengan album-album sebelumnya, kali ini untuk versi bahasa Perancis dan bahasa Inggris dirilis dengan judul yang sama. Selain itu, di album ini posisi Erick Benzi sebagai produser digantikan oleh beragam musisi Perancis seperti Jean-Pierre Taieb, Lionel Florence, Evelyn Kraal, dan Jean Faque. Di album ini, selain mengusung genre pop dan beberapa unsur musik urban, ia juga kembali ke akar musik rock yang pernah menjadi cirinya di awal karier.
 
Singel pertama dari album ini, ‘Être une femme’ atau ‘In Your Mind’, dinobatkan sebagai Lagu Paling Populer Tahun 2004 oleh Radio France International. Singel ‘Saviour’ terpilih sebagai soundtrack film Transporter 2. ‘Undress Me’ juga dirilis sebagai singel di beberapa negara dan mencapai peringkat pertama tangga lagu Turki dan Lebanon. Melalui ‘Luminescence’, ia melebarkan popularitasnya di negara-negara Timur Tengah dan Eropa Timur. ‘Luminescence’ dirilis ulang pada tahun 2006 dengan tambahan tiga lagu baru, termasuk singel ‘I’ll Be Alright’ atau ‘Juste avant toi’. Ia juga berduet dengan penyanyi legendaris asal Spanyol Julio Iglesias dalam lagu ‘All for You’.
 
Atas prestasi karier dan kontribusinya pada budaya Perancis di seluruh dunia, ia diberikan sebuah penghargaan prestisius ‘Chevalier des Arts et Lettres’ dari pemerintah Perancis. Ia juga ditunjuk sebagai juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Skim Mikrokredit, sebuah program pengentasan kemiskinan di seluruh dunia dan juga terpilih menjadi ambassador bagi Audemars Piguet, sebuah perusahaan jam tangan asal Swiss.
 
Konser terbesarnya di Indonesia bertajuk ‘Konser Untuk Negeri’, di gelar di Jakarta Convention Center, pada 25 Mei 2006. Konser tersebut berjalan dengan sukses dan tiket pertunjukan sebanyak 5.000 lembar yang disediakan habis terjual. Atas keberhasilannya mengukir nama di luar negeri dan menaikan nama industri musik Indonesia di mata internasional, ia menerima penghargaan khusus dari Anugerah Musik Indonesia sebagai ‘Artis Internasional Terbaik’. Ia menutup tahun 2006 dengan merilis sebuah album kompilasi, ‘Best Of’, di Indonesia dan Malaysia. Album ini menampilkan hitnyan selama karier internasionalnya, ditambah tiga lagu lawasnya, ‘Mimpi’, ‘Bayang-Bayang Ilusi’, dan ‘Takut’, yang dinyanyikan ulang dengan aransemen musik Andy Ayunir dan Orkestra Saunine. ‘Best-Of’ juga dirilis untuk pasaran Italia dengan daftar lagu berbeda dan lagu ‘I’ll Be Alright’ sebagai singel andalannya.
 
Setelah pernikahannya dengan Olivier Maury kandas di tahun 2006, ia menjalin hubungan dengan penulis Perancis Cyril Montan dan dianugerahi putri pertama mereka bernama Kirana Cipta Montana Sasmi pada 8 November 2007. Di awal tahun 2007, ia menulis dua lagu untuk Julian Cely, salah seorang penggemarnya dari Perancis yang merilis album pertamanya di Indonesia. Ia juga terlibat dalam penggarapan film dokumenter bertema lingkungan hidup produksi BBC berjudul ‘Un jour sur terre atau Earth’, di mana ia bertindak sebagai narator sekaligus juga merilis singel soundtrack film tersebut. Ia juga didaulat sebagai ‘Marraine des Prix Micro-Environnement’ (duta lingkungan hidup) oleh National Geographic Channel dan Kementerian Ekologi dan Pembangunan Berkelanjutan Perancis. Atas kontribusinya dalam sejumlah permasalahan sosial dan lingkungan hidup di Perancis ia di anugerahi penghargaan ‘Le grand couer de l’annee’.
 
Kembali mendapat undangan dari Vatikan untuk tampil di konser Natal di Verona, Italia, bersama Michael Bolton pada bulan Desember 2007. Selain itu ia juga tampil di World Music Awards 2008 dengan membawakan lagu ‘No Stress’ bersama DJ Laurent Wolf.
 
Album internasional keempatnya ‘Elevation’ dirilis pada akhir tahun 2008. Kali ini ia mengganti aliran musiknya menjadi hip-hop dan urban. Ia menggandeng duo produser hip hop, Tefa dan Masta, untuk album ini. Ia juga berkolaborasi dengan sejumlah penyanyi rap yaitu Pras Michel (peraih Grammy Awards dan mantan personel grup The Fugees), Sinik dan Big Ali, serta para DJ seperti Laurent Wolf dan Tomer G’ untuk meremix lagu-lagunya. Singel pertama album ini, ‘Si tu l’avoues’ untuk pasaran Perancis, ‘Crazy’ untuk pasaran internasional, serta ‘Jadi Milikmu’ untuk pasaran Indonesia. Di Rusia, ‘Elevation’ dirilis dengan tambahan sebuah lagu berjudul ‘О нас с тобой’, versi bahasa Rusia dari lagu ‘No Song’ yang dibawakannya berduet dengan penyanyi Rusia, Max Lorens. Di Indonesia, sebelum dirilis resmi pada 1 Desember 2009, album ini telah mendapat penghargaan double platinum, menjadikannya album dengan penjualan tercepat sepanjang kariernya di Indonesia. Sayangnya, album ini juga menjadi album studio dengan penjualan terendah sepanjang karier internasionalnya.
 
Duta produk shampoo dan susu ini pada akhir tahun 2009, kembali ditunjuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kali ini sebagai duta organisasi pangan Internasional Food and Agriculture Organization (FAO) dalam misi pengentasan kelaparan di seluruh dunia. Ia juga didaulat oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, sebagai juru bicara Healthy Water Fundraising Program. Selain itu, ia diangkat sebagai salah satu juri dalam kontes kecantikan Miss France 2009. Pada awal tahun 2010, penyanyi populer Portugal Mickael Carreira mengajaknya untuk berduet dalam lagu ‘Chama por me (Call My Name)’ dan tampil dalam konser tunggalnya di Lisabon, Portugal, 26 Februari 2010. Ia juga berkolaborasi dengan musisi Jerman Schiller dalam lagu ‘Always You’ dan ‘Blind’ untuk album Schiller berjudul Atemlos. Bersama Schiller juga menggelar tur konser keliling Jerman selama bulan Maret 2010.
 
Tahun 2011, ia kembali menggarap album internasional kelimanya bersama beberapa musisi seperti Gioacchino, Pierre Jaconelli, Jean-Pierre Pilot, dan William Rousseau. Album tersebut berjudul ‘Echoes’ untuk versi berbahasa Inggris dan ‘Echos’ untuk versi berbahasa Perancis. Ini merupakan album internasional pertama yang diproduseri sendiri olehnya dan digarap oleh perusahaan rekaman miliknya sendiri April Earth. Untuk distribusi album, ia dibantu Warner Music untuk wilayah Eropa dan Sony Music untuk Asia bagian Timur. Di album ini ia menyajikan jenis musik pop organic. Album ini dirilis pertama kali di Indonesia pada Mei 2011 dengan singel ‘Hanyalah Cinta’, disusul negara-negara berbahasa Perancis pada November 2011 dengan singel andalan ‘Je partirai’. Album ini berhasil meraih platinum di Indonesia pada minggu pertama perilisannya.
 
Tujuh bulan kemudian, ‘Echoes’ berhasil meraih empat platinum dan memegang rekor sebagai album terlaris untuk tahun 2011. Singel ‘Je partirai’ mencapai peringkat lima di Belgian Ultratip 50 Chart. Untuk mempromosikan album ini, ia menggelar konser tunggal keduanya di Jakarta Convention Center bertajuk Konser Kilau Anggun pada 27 November 2011. Ia juga tampil untuk ketiga kalinya dalam konser Natal tahunan di Vatikan, berduet dengan penyanyi Irlandia, Ronan Keating. Tidak hanya itu, saluran televisi publik France Televisions sebagai wakil Perancis untuk Kontes Lagu Eurovision 2012, kompetisi musik terbesar di Eropa yang diikuti lebih dari 40 negara sejak 1956 juga mendaulatnya untuk tampil. Ia kemudian menulis sebuah lagu berjudul ‘Echo (You and I)’ sebagai entri Perancis untuk kontes tersebut.
 
Lagu ini turut direkam secara duet dalam empat versi berbeda bersama penyanyi dari berbagai negara, bersama Claudia Faniello untuk pasaran Malta, bersama Niels Brinck untuk Denmark, bersama Viktor Varga untuk Hungaria, serta bersama Keo untuk Rumania. Ia lalu menggelar tur di 15 negara di Eropa untuk mempromosikan singel tersebut. Ia menampilkan lagu tersebut pada grand final Eurovision 2012 di Baku, Azerbaijan. Namun, hasil akhir kompetisi hanya menempatkan lagu tersebut di peringkat 22.
 
Tidak berhenti sampai di situ, pada Maret 2012, ia kembali merilis album ‘Echoes’ untuk pasaran internasional dengan ‘Echo (You and I)’ sebagai singel andalan. Album ini juga kembali diluncurkan di Perancis dalam edisi khusus dengan tiga lagu tambahan. Setelah menyelesaikan tugasnya di Eurovision, ia melanjutkan promosi album ini dengan menggelar tur konser di beberapa kota di Perancis, Swiss, dan Kaledonia Baru, termasuk di antaranya konser tunggal Anggun di gedung Le Trianon, Paris, pada 13 Juni 2012. Di akhir tahun 2012, ia juga kembali diajak oleh Schiller dalam tur konser di 10 kota di Jerman. Tahun 2013, ia lebih memilih menghabiskan waktu di kawasan Asia, diantaranya menjadi juri internasional X Factor Indonesia.
 
Prestasinya juga tidak berhenti sampai di situ, tercatat pada ajang World Music Awards 2013, ia berhasil meraih nominasi untuk tiga kategori sekaligus, yakni World’s Best Female Artist, World’s Best Live Act, dan World’s Best Entertainer of the Year dan pada Festival Film Taormina 2013 di Italia, ia menerima Penghargaan Khusus Taormina untuk kegiatan kemanusiaan sebagai FAO Goodwill Ambassador.
 
Karena keberhasilannya pada X Factor Indonesia, ia direkrut sebagai juri oleh Simon Cowell dalam salah satu ajang yang dibuatnya, Indonesia Got Talent, pada tahun 2014. Pada tahun yang sama penyanyi yang kerap dijuluki sebagai Diva Indonesia oleh media dalam dan luar negeri ini, juga didaulat sebagai wakil Indonesia dalam perhelatan musik tahunan World Music Awards 2014 di Monte Carlo, Monako, pada 27 Mei 2014, di mana ia berhasil meraih penghargaan dalam kategori Regional Award: World Best-Selling Indonesian Recording Artist.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...