Aoh Kartahadimadja

Nama :
Aoh Kartahadimadja
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
 15 September 1911
 
Wafat :
Jakarta, 17 Maret 1973
 
Pendidikan :
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
 
Karier :
Employe (pekerja) di perkebunan Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat,
Bergabung dengan Pusat Kebudayaan,
Bekerja di Balai Pustaka
penerjemah di Sticusa (Amsterdam, Belanda, 1952),
Penyiar Radio Hilversum
(1952-1956),
Wartawan majalah PIA,
Wartawanmajalah Star Weekly,
Bekerja di perkebunan karet, di daerah Jasinga, Kabupaten Lebak, Banten,
Penyiar Radio BBC London (1959-1970),
Kepala Redaksi Badan Penerbit Pustaka Jaya
 
Pencapaian :
Kumpulan puisinya – Pecahan Ratna dan Di Bawah Kaki Kebesaran meraih hadiah sastra Balai Pustaka (1947),
Anugerah Seni 1972 yang diberikan pemerintah atas prestasinya dalam mengembangkan seni sastra
 
Karya :
Zahra (1950, kumpulan sajak),
Beberapa Paham Angkatan 45 (ed., 1952),
Pecahan Ratna
 (1952, kumpulan sajak),
Manusia dan Tanahnya (1952, kumpulan cerita pendek),
Seni Mengarang (1971),
Aliran-Aliran Klasik, Romantik, dan Realisme dalam Kesusastraan: Dasar-Dasar Perkembangannya (1972),
Poligami (1975),
Dan Terhamparlah Darat yang Kuning, Laut yang Biru….” (1975),
Sepi Terasing (1977)


Penulis
Aoh K. Hadimaja
 
 
 
Bernama Lengkap Aoh Kartahadimadja atau sering pula menggunakan nama samaran Karlan Hadi. Lahir Bandung, Jawa Barat, 15 September 1911. Ia merupakan putra dari seorang patih yang berdinas di Sumedang, Jawa Barat. pendidikan formalnya di tempuh di sekolah Belanda Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat SLTP pada zaman sekarang.
 
Setamatnya dari MULO, ia sempat mengikuti kursus-kursus sehingga mampu menguasai beberapa bahasa asing, ia bekerja sebagai employe (pekerja) di perkebunan Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat. Namun ia terpaksa berhenti bekerja dan beristirahat total di Sanatorium, Rumah Sakit Paru-paru Cisarua, Bogor, pada tahun 1939, ketika penyakit TBC menggerogoti tubuhnya. Sewaktu dalam perawatan penyakitnya di Sanatorium, ia memiliki banyak kesempatan membaca buku-buku agama dan sastra, di antaranya buku-buku karya Hamka yang pada waktu itu sudah banyak yang terbit di masyarakat.
 
Begitu selesai perawatan dari rumah sakit paru-paru Cisarua, ia kemudian meninggalkan kota Bogor dan pindah ke Jakarta. Kakak dari pengarang Ramadhan K.H (alm) ini, mulai menulis sajak pada awal pemerintahan Jepang berkuasa di Indonesia. Untuk menambah wawasannya di bidang kesusastraan, pada zaman Jepang, ia bergabung dengan Pusat Kebudayaan yang merupakan bentukan pemerintah fasis Jepang, di Jakarta. Di sini ia bekerja sebagai penerjemah kesusastraan Sunda Klasik ke dalam bahasa Indonesia. Di Pusat Kebudayaan ini pula ia dapat berkenalan dengan sesama sastrawan yang telah muncul terlebih dahulu, seperti Sanusi Pane, Armijn Pane, Chairil Anwar, Usmar Ismail, dan Sutan Takdir Alisyahbana, serta Hamka yang sudah ia anggap sebagai gurunya dalam hal agama dan sastra.
 
Ketika Jepang kalah perang dan dipaksa meninggalkan Indonesia, Pusat Kebudayaan bentukan Jepang itu pun ikut bubar. Memasuki masa Perang Revolusi Kemerdekaan R.I, ia tercatat ikut berjuang mengusir penjajah dari Indonesia. Ia harus keluar-masuk hutan ikut bergerilya berperang melawan tentara sekutu Belanda. Setelah perang kemerdekaan usai, ia melawat ke Sumatera untuk menyelidiki kebudayaan daerah yang ada di pulau tersebut. Hasil perlawatannya ke Sumatera (1949-1952) di mana ia banyak berdiskusi dengan pengarang-pengarang muda di sana, dibukukan dalam ‘Beberapa Paham Angkatan 45’ yang terbit tahun 1952.
 
Sepulangnya dari lawatan selama tiga tahun di Sumatera, ia sempat bekerja di Balai Pustaka beberapa bulan lamanya sebagai redaktur pernaskahan. Kesempatan bekerja di Balai Pustaka ini membuatnya dapat menerbitkan beberapa karyanya menjadi buku, yaitu ‘Zahra’ (1950, kumpulan sajak), ‘Pecahan Ratna’ (1952, kumpulan sajak), dan ‘Manusia dan Tanahnya’ (1952, kumpulan cerita pendek),
 
Akhir tahun 1952, ia mendapat tawaran bekerja sebagai penerjemah di Sticusa (Amsterdam, Belanda). Ia kemudian meninggalkan tanah air dan tinggal beberapa tahun di Eropa. Disana, ia bekerja pula sebagai penyiar Radio Hilversum hingga tahun 1956. Setelah kontraknya sebagai penyiar radio di Belanda itu habis, ia segera pulang ke tanah air. Namun, ia hanya beberapa bulan saja tinggal di tanah air dan harus berangkat lagi ke Eropa. Kali ini ia mendapat tawaran sebagai wartawan majalah PIA dan Star Weekly. Sebagai pekerja pencari berita, ia pun mendapat kesempatan meliput perayaan Kemerdekaan Malaysia di Kuala Lumpur pada tahun 1957.
 
Sepulangnya dari Malaysia, ia sempat kembali bekerja di perkebunan yang telah ia tinggalkan selama dua puluh tahun. Kali ini ia memilih perkebunan karet, di daerah Jasinga, Kabupaten Lebak, Banten. Ia menyingkir dari keramaian kota Jakarta dan memilih menyepi di sebuah perkebunan disebabkan oleh situasi politik yang kacau-balau waktu itu. Di tempat penyepiannya ini ia berhasil membuat dua cerita pendek yang masing-masing berjudul ‘Artis Yang Ulung’ dan ‘Poligami’.
 
Pekerjaan sebagai penyadap getah karet di perekebunan Jasinga itu segera ia tinggalkan ketika pada pertengahan tahun 1959, ia mendapat tawaran pergi ke Eropa lagi. Kali ini ia mendapat kesempatan pergi ke London, Inggris, untuk bergabung dengan Radio BBC London sebagai penyiar Seksi Indonesia. Selama menjadi penyiar BBC London, ia tidak mengendorkan bakat, minat, dan perhatiannya terhadap perkembangan sastra Indonesia modern. Sambil menjadi penyiar radio itu, ia tetap terus menulis cerita pendek dan esai. Dari London itu pula ia selalu mengirimkan karya-karyanya ke tanah air, seperti ke majalah Budaya Jaya, Basis, Horison, dan Indonesia Raya.
 
Ketika menjadi penyiar BBC London itu pula, ia sempat mengadakan pertemuan dengan beberapa sastrawan Indonesia yang kebetulan melawat ke London, antara lain, Achdiat K. Mihardja, Siti Nuraini, Mochtar Lubis, dan Nugroho Notosusanto. Ia baru pulang ke tanah air pada tahun 1970 setelah kontraknya dengan BBC habis. Sekembalinya petualangan dari Eropa, ia bekerja sebagai Kepala Redaksi Badan Penerbit Pustaka Jaya. Ketika menjadi kepala redaksi penerbitan Pustaka Jaya ini, ia sempat menerbitkan bukunya ‘Pecahan Ratna’ (1971, kumpulan sajak), dua esainya pun dapat terbit menjadi buku, yaitu ‘Seni Mengarang’ (1971) dan ‘Aliran-Aliran Klasik, Romantik, dan Realisme dalam Kesusastraan: Dasar-Dasar Perkembangannya’ (1972).
 
Atas peran aktifnya yang besar di dunia sastra, sejumlah penghargaan di dunia sastra pernai ia peroleh antara lain dua buah kumpulan puisinya ‘Pecahan Ratna’ dan ‘Di Bawah Kaki Kebesaran’ meraih hadiah sastra Balai Pustaka (1947). Ia juga memperoleh Anugerah Seni 1972 yang diberikan pemerintah atas prestasinya dalam mengembangkan seni sastra. Penulis yang tinggal di daerah Cipete, Jakarta Selatan ini, wafat di Jakarta, 17 Maret 1973, karena penyakit darah tinggi. Meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.
 
Beberapa cerita pendek yang dihasilan ketika ia berada di London, Inggris, seperti ‘Kemenangan di Jabal Nur’, ‘Tuan Miloszewski’, ‘Menuju Kemenangan’, dan ‘Menemukan Tujuannya’ yang dimuat dalam beberapa majalah, setelah ia wafat dikumpulkan menjadi buku kumpulan cerpen ‘Poligami’ (1975). Selain itu atas prakarsa Ajip Rosidi, dua buah buku fiksinya dapat terbit, yaitu ‘Dan Terhamparlah Darat yang Kuning, Laut yang Biru….’ (1975) dan ‘Sepi Terasing’ (1977). Sejumlah karyanya juga ada dalam antologi ‘Gema Tanah Air’ (1948 susunan H.B, Jassin), ‘Laut Biru Langit Biru’ (1977 susunan Ajip Rosidi), dan ‘Tonggak 1 Antologi Puisi Indonesia Modern’ (1987 susunan Linus Suryadi A.G.).
 
Tidak hanya itu, Beberapa pengamat sastra Indonesia telah menulis tentang biografi singkatnya dan mengulas karya-karyanya, antara lain, Boen S. Oemarjati (1971) dalamBentuk Lakon dalam Sastra Indonesia, Ajip Rosidi (1977) dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, A. Teeuw (1980) dalam Sastra Baru Indonesia I, Jakob Soemardjo (1982) dalam Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik, Pamusuk Eneste (1990) dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern, Puji Santosa dkk. (1993) dalam Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1920–1960, dan Anita K. Rustapa dkk. (1997) dalam Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia 1920–1950. Pada umumnya mereka manyambut baik dan menghargai karya-karyanya sebagai pengarang romantik yang memiliki keunikan tersendiri.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...