Arief Budiman

Nama :
Arief Budiman /
Soe Hok Djin
 
Lahir :
Jakarta, 1 Januari 1941
 
Pendidikan :
College d’Europe, Brugge, Belgia (1964),
Fakultas Psikologi UI, (1968)
Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat
 
Profesi :
Penulis Esei,
Dosen di University of Melbourne, Australia
 
Karier :
Redaktur Majalah Horison (1966-1992),
Anggota DKJ (1968-1971),
Anggota BSF (1968-1971),
Dosen Universitas Kristen Satyawacana Salatiga, Jawa Tengah (1981-1995)
 
Penghargaan :
Esei Manusia dan Seni mendapat Hadiah katiga majalah Sastra (1963)
 
Karya lainnya :
Chairil Anwar : Sebuah Pertemuan (1976),
Pembagian Kerja Secara Tekstual (1981),
Transmigrasi di Indonesia : Ringkasan Tulisan dan Hasil-Hasil Penelitian (1985),
Jalan Demokrasi ke Sosialisme: Pengalaman Chile dibawah Allende (1986)


Penulis
Arief Budiman
 
 
 
Arief Budiman sebelumnya bernama Soe Hok Djin. Lahir di Jakarta 1 Januari 1941. Menjelang pernikahannya dengan Sitti Laila Chairani tahun 1968, ia memeluk agama Islam. Menikah kembali di catatan sipil pada tahun 1971. Tamat SMA meneruskan pendidikan ke Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. Lulus 1968 dengan skripsi Manusia dalam Persoalan Eksistensinya, sebuah studi psikologi dan filsafat tentang penyair Chairil Anwar. September 1973 meneruskan pendidikan ke Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, mencapai gelar Ph.D. Sejak duduk di bangku kuliah telah mulai menulis esei. Tulisan-tulisannya antara lain dimuat dalam majalah Sastra, Budaya Jaya, Horison, Tempo, dan harian Sinar Harapan, Kompas, Indonesia Raya.
 
Tahun 1963, memenangkan kejuaran pertama penulisan esei berjudul Manusia dan Seni dari majalah Sastra. Dikenal sebagai salah seorang konseptor dan penandatangan Manifes Kebudayaan tahun 1963 yang menentang asas Politik sebagai Panglima yang dianut Partai Komunis Indonesia. Manifes itu kemudian, atas desakan golongan komunis dan nasionalis, dilarang oleh Presiden Soekarno. Arief dikenal sebagai salah seorang tokoh, meskipun bukan pemimpin, pergerakan mahasiswa Angkatan 66. Pada masa Orde Baru ia juga pernah melancarkan aksi-aksi anti korupsi.
 
Ketika Pemilu 1971 ia melancarkan aksi tidak memilih dan dinamakan golongan putih. Pernah ditahan karena salah satu aksi yang dilancarkannya. Berjiwa demokrat, dan pembela hak asasi manusia,ia dikenal sebagai seorang tokoh yang bersih dan jujur. Ia pemikir gerakan yang bersifat moral, bukan politik. Ini terutama terjadi setelah adiknya Soe Hok Gie (alm), seorang aktivitas yang mengritik kesewenang-wenangan dan korupsi, meninggal waktu mendaki gunung Semeru di tahun 1969.
 
Pada bulan Oktober 1972 ia bekerja di Paris selama setahun. Kemudian bulan September 1973 meneruskan kuliah ke Harvard, Amerika Serikat untuk meraih gelar doktor bidang sosiologi. Di Amerika Serikat, ia banyak berkenalan dengan pemikiran Marxis mutakhir, dan sangat memperhatikan keadaan sosial politik amerika latin, terutama Chili.
 
Kini ia menetap di Australia, menjadi dosen dibanyak universitas di negeri kangguru itu. Ia dianggap sebagai tokoh metode Ganzheit dan dianggap sebagai tokoh sastra konstekstual sejak sarasehan kesenian di Solo pada Oktober 1984.
 
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...