Arsono

Seniman Patung
Arsono
 
 
 
Sejak tahun 1966 s/d sekarang sering mengikuti pameran-pameran baik di Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Seoul – Korea Selatan. Karya-karyanya tersebar di Jakarta, Dumai, Samarinda, Banda Aceh, Sabang, Seoul – Korea Selatan, Paris – Perancis dan New Jersey – Amerika Serikat.
 
Tahun 1961, ia masih berkutat di jurusan seni patung ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia), sebuah sekolah seni yang sangat tersohor yang berkedudukan di Yogyakarta lantaran didirikan dan dibina oleh sederetan nama-nama besar seniman Indonesia antara lain : Hendra, S. Soedjojono, Affandi, Rusli, Trubus, Sudarso, Hendrojasmoro, dll. Adapula Gregorius Sidharta sebagai pengajar muda dan pembawa angin  baru keluaran dari Jan van Eieyk Academie dan Edhi Sunarso yang baru kembali dari Santineketan India dengan buah karyanya yang sangat terkenal pada saat itu yang berjudul ‘The Unknown Political Prisoner’.
 


Al-Masih Dalam Semesta,
3mm Steel Plate T 70 cm (2007)

Bisa dibayangkan bagaimana campur-aduknya metodologi pengajaran seni patung pada saat itu, karena berbagai karakter seniman pembinanya, sementara suasana politik dalam negeri sedang ramai dengan perdebatan dalam arus politik Manipol Usdek, Manifesto Kebudayaan, Seni untuk Rakyat, Seni untuk Seni antara kelompok LEKRA onderbouw PKI yang bermarkas di sanggar Bumi Tarung, dengan Nasionalis dan kelompok bebas termasuk saya dan teman-teman yang bergabung di sanggar Baja Biru.
 
Bersama para pematung lainnya, ia senang membahas karya para pematung dunia seperti Henry Moore, Marino Marini, Alexander Calder, Armitage, Giacometti, Naum Gabo, para perintis Constructivist, Surrealis, Realist, Expresionist dan kubisme seperti : Picasso dan Mondrian. Seni tradisional, pahatan-pahatan Borobudur, Prambanan dan candi-candi lainnya jug dianggap lebih menarik dan memberi inspirasi dalam berkarya.
 

 
Mendapat undangan untuk ikut serta dalam pameran besar seni patung Indonesia pertama sesudah kemerdekaan yang diselenggarakan oleh CC PKI di Jakarta. Patung berjudul ‘Dua Pemburu’ lolos seleksi dan dikirim ke Jakarta dengan imbalan sewa  tiga ribu rupiah. Pameran dibuka oleh tokoh PKI, D.N. Aidit. Namun setelah dipajang masih ada seleksi akhir yang dilakukan oleh Sekjen Nyoto. Dalam seleksi akhir karya Arsono disingkirkan karena dianggap tidak berkepribadian Indonesia.  
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Arsono
 
Lahir :
Yogyakarta,
7 Februari 1940
 
Pendidikan :
Jurusan Seni Patung ASRI Yogyakarta
 
 

You may also like...

Leave a Reply