Arswendo Atmowiloto

Nama :
Paulus Sarwendo
 
Lahir :
Surakarta, Jawa Tengah,
26 November 1948
 
Pendidikan :
IKIP Solo/Universitas 11 Maret (tidak selesai),
International Writing Program di University of Iowa,
 Iowa City,
Amerika Serikat (1979)
 
Karier :
Pimpinan Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah (1972),
Pimpinan Redaksi majalah remaja Hai, Pimpinan readaksi/penanggung jawab tabloid Monitor (1986-1990),
Pengarah Redaksional Senang (1989),
Pemilik PT. Atmo Bimo Sangotrah  
 
Pencapaian :
Hadiah Zakse untuk esainya Buyung-Hok dalam Kreativitas Kompromi (1972),
Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk drama Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama memperoleh
(1972 dan 1973),
Hadiah Harapan dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk drama Sang Pangeran (1975),
Hadiah Harapan 1 Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-anak DKJ untuk drama Sang Pemahat memperoleh
(1976),
Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P&K untuk karya Dua Ibu (1981),
Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P&K untuk karya Keluarga Bahagia (1985),
Skenario film Arie Hanggara mendapat piala Citra kategori skenario terbaik FFI 1986,
Hadiah Yayasan Buku
Utama Departemen P&K Mendoblang (1987),
Hadiah Sastra ASEAN
(1987),
Skenario film Pacar Ketinggalan Kereta mendapat Piala Citra kategori skenario terbaik FFI 1989,
   Penghargaan Pengabdian selama 50 tahun dari Keraton Surakarta (2001)
 
Karya-Karya :
Bayiku yang Pertama: Sandiwara Komedi dalam 3 Babak (1974),
Sang Pangeran (1975),
Sang Pemahat (1976),
The Circus (1977),
Berbaring di Dadaku
(1980),
Dua Ibu (1981),
Serangan Fajar (1982),
Kawinnya Juminten (1985),
Airlangga (1985),
Anak Ratapan Insan (1985),
Arie Hanggara
(Skenario Film, 1986),
Telaah tentang Televisi
(1986),
Pengkhianatan G30S/PKI (1986),
Canting : Sebuah Roman Keluarga (1986),
Akar Asap Neraka (1986),
Dukun Tanpa Kemenyan (1986),
Garem Koki (1986),
Imung Indonesia from the Air (1986),
Lukisan Setangkai Mawar: 17 cerita pendek pengarang Aksara (1986),
Arie Hanggara
 (skenario film, 1986),
Senopati Pamungkas (1986/2003),
Pacar Ketinggalan Keeta (Skenario Film, 1989),
Tembang Tanah Air (1989),
Mengarang Itu Gampang
Menghitung Hari (1993),
Abal-Abal (1994),
Auk (1994),
Berserah Itu Indah : Kesaksian Pribadi (1994),
Khotbah di Penjara (1994),
Oskep (1994),
Projo & Brojo (1994),
Saat-saat Kau Sebutir Mangga di Halaman Gereja : Paduan Puisi (1994),
Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994),
Suksma Sejati (1994),
Jendela Rumah Kita (Skenario Sinetron, 1995),
Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995),
Menghitung Hari
 (Skenario Sinetron, 1996),
Vonis Kepagian
(Skenario Sinetron, 1996), 
Kisah Para Ratib
(1996),
Menghitung Hari
 (novel, 1996)
Darah Nelayan (2001),
Dewa Mabuk (2001),
Kadir (2001),
Keluarga Bahagia (2001),
Keluarga Cemara 1,2, 3 (2001),
Pesta Jangkrik (2001)
Senja yang Paling Tidak Menarik (2001),
Dusun Tantangan (2002),
Kiki Mencari Ayah Ibu (2002),
Mengapa Bibi Tak ke Dokter ? (2002),
Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)
 
Filmografi :
Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku (1984),
Arie Hanggara (1985),
Telaga Air Mata (1986),
Pacar Ketinggalan Kereta (1988),
Valentine (1989)
 
Sinetron :
Jendela Rumah Kita (1995),
Vonis Kepagian (1996),
Cinta di Awal Tiga Puluh (1997)
 
 


Penulis
Arswendo Atmowiloto
 
 
 
 
Dikenal sebagai seorang jurnalis, penulis dan kritikus film. Bernama lengkap Paulus Arswendo Atmowiloto, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948. Pendidikan formal terakhirnya di IKIP Solo (Universitas 11 Maret), tetapi tidak di selesaikannya. Tahun 1979, ia mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Mulai menulis tahun 1969 untuk majalah berbahasa Jawa Dharma Kanda di Solo. Karya-karyanya mencakup novel, esai, drama dan cerpen.
 
Beberapa dari karyanya pernah memperoleh penghargaan, tahun 1972, ia mendapat Hadiah Zakse untuk esainya, Buyung-Hok dalam Kreativitas Kompromi. Dramanya, Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama, memperoleh Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ 1972 dan 1973, tahun 1975 mendapat Hadiah Harapan dalam Sayembara serupa untuk drama Sang Pangeran. Sedangkan dramanya yang lain, Sang Pemahat, memperoleh Hadiah Harapan 1 Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-anak DKJ 1976. karyanya Dua Ibu (1981), Keluarga Bahagia (1985), dan Mendoblang (1987) mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K tahun 1981, 1985, dan 1987. Tahun 1987, ia memperoleh Hadiah Sastra ASEAN.
 
Pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, Solo (1972), pemimpin redaksi majalah remaja Hai, pemimpin redaksi/penanggung jawab tabloid Monitor (1986-1990), dan pengarah redaksional Senang (1989),
 
Sejak tahun 1974, ia mulai banyak menulis mengenai perfilman nasional dan kritik film dan kemudian dikenal sebagai pengamat televisi. Pernah menjadi juri sinetron pada FFI 1985 hingga 1989. Mendapat 2 nominasi untuk skenarionya Arie Hanggara (FFI 1986) dan Pacar Ketinggalan Kereta (FFI 1989). Naskah sinetron pertamanya adalah Jendela Rumah Kita (1995) dan Menghitung Hari (1996) yang diangkat dari pengalamannya dalam penjara. Sinetron ini menggondol lima penghargaan pada FSI 1995. Skenario Vonis Kepagian menyabet FSI 1996.
 
Tahun 1990, ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia pernah dipenjara karena satu jajak pendapat. Selama dalam penjara, Arswendo menghasilkan tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung. Sebagian dikirimkannya ke berbagai surat kabar, seperti KOMPAS, Suara Pembaruan, dan Media Indonesia yang semuanya menggunakan alamat dan identitas samaran.
 
Untuk cerita bersambungnya, Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), di harian KOMPAS, suami dari Agnes Sri Hartini ini, menggunakan nama Sukmo Sasmito. Untuk Auk yang dimuat di Suara Pembaruan ia memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah Said Saat dan B.M.D Harahap.
 
Setelah dibebaskan, penulis yang berdomisili di bilangan Ciledug, Jakarta Selatan ini, kemudian bergabung dengan tabloid Bintang Indonesia selama tiga tahun. Setelah itu ia kemudian mendirikan perusahaan sendiri, yaitu PT. Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak : tabloid anak Bianglala, Ina (yang kemudian menjadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Saat ini selain masih aktif menulis ia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron. Salah satu sinetronnya yang sangat di gemari adalah Keluarga Cemara.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...