Asbon Madjid

Nama :
Asbon Madjid
 
Lahir :
Sibolga, Sumatera Utara,
 8 Mei 1926
 
Pendidikan :
SD (1937),
SLP (1940),
SLA tidak lulus (1943)
 
Profesi :
Beriraswasta di Padang (1942),
Penyanyi dan Gitaris pada musik hawaiian The Smiling Players di Padang
(1938-1944),
Pimpinan Orkes Gumarang (1955-1964),
Karyawan RRI Stasiun Pusat Jakarta,
Pendiri grup vokal Kaparinyo


Pencipta Lagu
Asbon Madjid
 
Untuk pencipta lagu pop masa kini, mungkin ia hanya tinggal sebuah nama. Dalam acara “Dari Masa ke Masa” TVRI di awal 1980, Asbon masih tampak cekatan. Ia bergaya mengayunkan tangan dan kaki. Tak kalah manis dengan penyanyi-penyanyi mutakhir. Orkes Gumarang yang di dirikannya Mei 1955, membawa angin baru kebangkitan lagu-lagu Minang popular. Kekuatan Gumarang dulu ada pada iramanya yang Amerika Latin, Asbon menerangkan, dan ciri khas musik Sumatera ialah kendangnya.
 
Rekaman lagu-lagu mereka dalam bentuk piringan hitam ketika itu laku keras. Bertahan dalam hampir satu dekade, 1964 Asbon menyertai New York World Fair ke Amerika Serikat. Kembali ke tanah air setelah 11 tahun, ia tercengang. Suasana baru melanda dunia musik Indonesia, katanya. Apa yang dijuluki musik ngak-ngik-ngok sedang merajai pasaran dan kemudian menurut Asbon ikut menenggelamkan Gumarang. Orkes ini bubar dengan senyap. Bekerja sebagai pegawai di RRI Jakarta, Asbon tidak pernah surut minatnya terhadap musik. Ia segera membentuk sebuah vokal group bernama Kaparinyo. Sempat vokal group ini ikut mengisi acara hiburan di Istana Merdeka. Ketika itu Asbon merasa senang hatinya meski sudah tua masih diakui.
 
Tapi popularitas rupanya tak lagi ramah terhadap Asbon. Ia makin terdesak ke belakang. Vokal group Kaparinyo tak pernah mencuat lebih tinggi. Biarpun tak sedikit wanita mengelilinginya, Asbon belum berhasil memetik salah satu untuk dijadikan istri. Tak ada yang tahu, mengapa ia belum juga menikah. 
 
Pensiun dari RRI, ia masih tetap membuat aransemen lagu. “Aransemen orkes pop Minang sekarang payah, katanya. Dulu kami main 2 1/2 jam masih tetap dielu-elukan orang”. Mengenang suksesnya di masa lalu, Asbon memberikan resep, harus universal. Ibarat makanan Padang yang pedas. Agar disukai orang Jawa dan suku lain, harus diberi bumbu Jawa plus yang lain-lain.
 
(Apa&Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982)

You may also like...

Leave a Reply