Asdar Muis

Nama :
Asdar Muis RMS
 
Lahir :
Pangkep, Sulawesi Selatan,
13 Agustus 1963
 
Wafat :
Makassar, Sulawesi Selatan,
27 Oktober 2014
 
Pendidikan :
ASDRAFI/Akademi Seni Drama Indonesia) Yogyakarta,
Fisipol Universitas Hasanudin, Makassar, Sulawesi Selatan,
Sosiologi Pascasarjana, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan
 
Karier :
Pemimpin Redaksi Tabloid Harian Suaka Metro Jakarta,
Redaktur Pelaksana Manado Post,
 Redaktur Pelaksana Tabloid Anak Wanita Gita Jakarta,
Redaktur Harian Berita Yudha, Bekerja di Harian Fajar, koresponden MBM Tempo, Kepala Biro Harian Nusa-Bali di Jakarta,
Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat,
Direktur Berita Radio Suara Celebes,
Pengajar Universitas Fajar Makassar
 
Karya Tulis (Puisi) :
Akhirnya,
Aku Cucu Berdarah Nenek (dengan nama samaran Linaku N.Rosita),
Bingkai (dengan nama samaran L. Nunung Rosita RMS),
Bisik,
Duka Tanduk,
Hanya,
Hitam Tedong Bonga,
Kawini Harap (dengan nama samaran L. Nunung Rosita RMS),
Kini Hanya Kata (dengan nama samaran L. Nunung Rosita RMS),
Perempuan Tau-Tau,
Tukang Pos (dengan nama samaran L. Nunung Rosita RMS)
 
Karya Tulis (Cerpen) :
Ghetto ke Ghetto
 (dengan nama samaran Linaku Nunung Rosita),
Harga,
Muallaf
 
Karya Tulis (Esei) :
Antara Firman Djamil dan Henk Ngantung: Sketsa Merekam Masa Akan Silam,
Bila Seni Pertunjukan Gagap Interpretasi,
Birokrasi Kemaluan Ala Firman Djamil: Mengeritik Metode Pengajaran Sekolah,
Ketika Bulukumbaku Gelombang Berzikir,
 Disimak Mahrus Andis Tak Lagi Mencari Tuhan !,
Kursi bebas Nilai di Keruwetan lalu lintas,
Mengenang Arifin C. Noer, Terseling lawak,
Mengorek Cerpen-Cerpen Keluarga Gila Hudan Hidayat: Realisme Terbingkai Imajinasi Ilusi,
Menjajak Jiwa Rudy Harahap,
Nur Alim Djalil, Eseis Makassar di Hitungan Jari,
Pacaran, Memberi Semangat (dengan nama samaran Linaku N. Rosita),
Sawerigading Gagap Pulang Kampung,
Tanggapan Atas Orang Tua Pantas Melarang : Orang Tua Perlu Tahu (dengan nama samaran Linaku N. Rosita),
Tiga Generasi Gelisah Cari Bentuk,
TKU Sakitnya Para Sesepuh (dengan nama samaran Linaku N. Rosita),
Wabab: Amir Cari Muka, Terjebak Imajiner Line
 
Karya Tulis (Kolom Koran) :
Akting,
Anak Narkoba,
Aso,
Badut,
Bayi Tabung,
Black September,
Doa, Doa, Doa !,
Duka Aing,
Habibie,
Hanya,
Hidup Sederhana
di Lapangan Golf ,
Hilang malu,
Irasional,
Katte
(Fajar Minggu, 7 Juli 2002),
Kemerdekaan Pelacur,
Macai,
Mantang,
Merpati,
Mie Tsuna,
Mubha Kahar Muang,
Ne-Gara,
Nusakambangan,
Pasrah,
 Pesan,
Propaganda,
Puas-A,
Sarjana Tak tahu,
Sarung,
Satpam Perundingan,
Sekarat,
Sepatu,
Suatu Puang,
Suwardi dan Vietkong,
Telinga,
Tuhan Aku Malu
 (Sangat Malu),
 
Karya Tulis (Buku) :
Sepatu Tuhan (2009),
HZB Palaguna : Jangan Mati Dalam Kemiskinan,
Eksekusi Menjelang Shubuh (Novel, 2009)

Seniman Teater
Asdar Muis
 
 
 
Lahir di Pangkep, Sulawesi Selatan, 13 Agustus 1963. Berlatar belakang pendidikan ASDRAFI (Akademi Seni Drama Indonesia) Yogyakarta, Fisipol Universitas Hasanudin, Makassar, Sulawesi Selatan dan jurusan sosiologi Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Pendiri ‘Komunitas Sapi Berbunyi’ di Makassar ini dalam kesehariannya tak pernah lepas dari kegiatan teater. Bahkan saking gemarnya berteater, ia merancang rumahnya yang di beli pada tahun 2003 yang terletak Bukit Hartaco Indah Blok 2A/29 Sudiang Raya, Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan itu menjadi seperti panggung. Ia membuat semacam mezanin yang cukup luas di atas ruang tengah rumahnya. Mezanin dengan tangga kayu itu di gunakannya sebagai panggung utamanya. Sementara, ruang tengahnya digunakan sebagai tempat duduk untuk penontonnya.
 
Selain menekuni teater, ia juga aktif di bidang sastra. Laki-laki yang selalu bercelana pendek ke mana pun pergi ini mulai menulis puisi sejak masih SMA Pangkep. Karya tulisnya yang berupa sajak pada tahun 1987 dimuat di harian Pedoman Rakyat, SKK Identitas dan mingguan Fajar. Tahun 1988-1982, ia aktif menulis puisi di Harian Fajar, Manado Post dan Mercusuar Palu. Mantan wartawan di berbagai kota yang kini aktif berkesenian di Makassar sejak Juni 2000 ini juga aktif menulis esei pada rubrik Manusia-Manusia di Harian Fajar edisi Minggu. Dalam menulis karya sastra, ia kerap memakai berbagai nama samaran, antara lain Linaku Nunung Rosita.
 
Sejak awal 1984, ia menambahkan RMS pada namanya, yang merupakan singkatan dari Rachmatiah Muis Sanusi. Direktur Berita Radio Suara Celebes dan staf pengajar Universitas Fajar Makassar ini juga menulis sejumlah buku, antara lain ‘Sepatu Tuhan’ (2003) dan ‘HZB Palaguna : Jangan Mati Dalam Kemiskinan’. Serta yang sangat fenomenal yakni, novel ‘Eksekusi Menjelang Shubuh’ (2009). Ia juga menulis beberapa biografi sejumlah pejabat penting.
 
Di belantara jurnalistik, ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Harian Suaka Metro Jakarta, Redaktur Pelaksana Manado Post, Redaktur Pelaksana Tabloid Anak Wanita Gita Jakarta, Redaktur Harian Berita Yudha, jurnalis Harian Fajar, koresponden MBM Tempo, Kepala Biro Harian Nusa-Bali di Jakarta, Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat, dan beberapa media lainnya di Sulawesi dan Kalimantan.
 
Pada Senin dini hari, 27 Oktober 2014, seniman serba-bisa ini wafat di RS Pelamonia, Makassar, Sulawesi Selatan, karena serangan jantung. Sebelumnya, ia masih tampil membawakan esai berjudul ‘Kabar Dari Pelaut’ dalam acara Forum Sastra Kepulauan di Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. Namun setelah pementasan tersebut, ia mengeluh kurang sehat dan dilarikan ke RS Pelamonia sebelum menghembuskan nafas terakhir. Dikebumikan di Pangkajene dan Kepulauan, meninggalkan seorang istri, Herlina, dan dua anak, Irmayanti dan Muhammad Yusran Asdar.  
    
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...