Asep Budiman

Nama :
Asep Budiman
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
27 Oktober 1972
 
Pendidikan :
SMA Karya Pembangunan Baleendah, Bandung, Jawa Barat (1989-1991),
Akademi Seni Tari Indonesia/ASTI (1991-1994),
Sekolah Tinggi Seni Teater Indonesia /STSI Bandung,
 Jawa Barat (1996-1998)
 
Aktifitas Lain :
Pendiri Teater Behindtheactor’s,
Teknisi unit pelaksana teknis ajang gelar Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung
 
Penghargaan :
Kelompok teater Kaper yang didirikannya pada tahun 1989 menjadi juara Festival Teater Remaja Jawa Barat tahun 1992,
Wayang keroncong bentukannya menyabet empat medali emas dari 15 kategori, yakni kategori Pertunjukan, Dalang, Desain Artistik Pertunjukan, dan Desain Pertunjukan ketika tampil pada Festival Wayang Internasional di Vietnam, 5-9 September 2010
 
 
 
 


Seniman Teater
Asep Budiman
 
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 27 Oktober 1972, dari pasangan Iya Syahria dan Imas Nurhasanah. Ayahnya merupakan pegawai negeri sipil yang juga pemimpin latihan sandiwara masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Pentas pertunjukan baginya sudah tak asing lagi. Sejak di kelas tiga Sekolah Dasar, Sang ayah sudah melatihnya untuk memainkan lakon Ciung Wanara. Sejak itu, ia selalu jadi pemain sandiwara 17 Agustusan. Ketika duduk di bangku SMA Karya Pembangunan Baleendah, Bandung, Jawa Barat (1989-1991), ketertarikannya kepada dunia teater semakin mengental. ia kemudian mendirikan kelompok teater Kaper pada tahun 1989.
 
Teater yang hingga kini masih berdiri itu berhasil menjadi juara Festival Teater Remaja Jawa Barat tahun 1992. Kecintaannya pada teater terus berlanjut saat ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Seni Tari Indonesia/ASTI (1991-1994). Di ASTI, ia memperdalam seni teater, belajar menari, dan memainkan gamelan. Perkenalan dengan teater menjadi lebih intens ketika ia melanjutkan kuliah di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Teater Indonesia/STSI), Bandung, Jawa Barat (1996-1998). Ia banyak bertemu dengan pengajar yang juga pekerja dan penggiat teater. Ia berkenalan dengan Suyatna Anirun lalu bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) yang dipimpinnya. Ia juga belajar pada Benny Yohannes di teater Re-publik. Di kelompok ini, ia bekerja sebagai aktor dan belajar memahami kerja teater yang sesungguhnya. Militansi dan pelajaran menjadi kreator banyak ia peroleh saat bergabung dengan Teater Payung Hitam pimpinan Rahman Sabur.
 
Di samping itu, ia juga sering ikut garapan dari Teater Wot, Lab Teater dan Actors Unlimited. Hingga akhirnya dia merasa perlu memiliki kelompok sendiri yang menjadi wadah eksperimentasi dan eksplorasi bagi segala yang tak terwadahi di kelompok lain. Ia ingin mencoba bentuk dan gaya teater yang agak lain, berbeda dengan kelompok-kelompok yang pernah disinggahinya.
 
Ia mendirikan Behindtheactor’s pada 20 September 2004 di Bandung, Jawa Barat. Ia bercita-cita menjadikan Behindtheactor’s sebagai kelompok yang memiliki ruh, gambar, itikad dan semangat yang meng-Indonesia. Teater yang berangkat dari persinggungan kontekstual dengan problematika keseharian manusia dan masyarakat Indonesia. Teater modern Indonesia yang memiliki citra dan makna Indonesia. Jalan mewujudkan Behindtheactor’s sebagai kelompok teater yang berwajah Indonesia adalah dengan mempelajari dan mendayagunakan teater tradisi Indonesia.
 
Sejak mendirikan Behindtheactor’s, ia telah menyutradarai beberapa lakon antara lain: Humanus Balonitus, Hele Go Hele Ro (2005), Fatum, Mengapa Takut Pada Hujan (2006), An Ordinary Day (2008) dan CUK&CIS (2009). Sebelum itu dia telah menyutradarai Amat Jaga (2002), Monolog Orang Pertama (2001), Romeo dan Juliet (2001), Monolog Mei (2001), Opera Ikan Asin (2000).
 
Setelah banyak makan asam garam di dunia teater justru membuatnya semakin gelisah dan khawatir melihat teater Indonesia, yang kerap terpenjara oleh naskah asing. Muncul pertanyaan dalam pikirannya, ”Ke mana karya teater dengan cerita bercita rasa Indonesia? Kegelisahannya tersebut mendapat titik terang saat menonton dua pertunjukan yang digemari masyarakat, tetapi mulai terpuruk akibat perkembangan zaman, yaitu wayang dan keroncong. Saat ia menonton pertunjukan wayang golek. Ia melihat raut kebosanan penonton saat wayang golek dimainkan. Tanpa improvisasi gerak dan dialog, pertunjukan wayang golek jadi membosankan. Kondisi serupa juga muncul saat ia melihat pertunjukan keroncong. Musik yang dikenal di Indonesia sejak abad ke-17 ini hanya disaksikan penonton berusia tua yang ingin bernostalgia. Ia berpikir, seperti apa kalau teater, wayang, dan keroncong menjadi satu? Kolaborasi ketiganya pasti memunculkan identitas seni baru dengan rasa lebih Indonesia.
 
Setelah melakukan sejumlah penelitian kecil dan kolaborasi, Ia memunculkan genre baru seni asli Indonesia bernama wayang keroncong pada 2009 lewat lakon Cuk dan Cis. Dalam wayang keroncong, ia tak hanya menggunakan satu jenis wayang. Ia menggabungkan wayang golek, wayang orang, hingga wayang kulit. Pada awalnya, wayang keroncong mengundang komentar ‘miring’ karena dianggap menabrak pakem dan lemah dalam penataan panggung. Ada anggapan wayang keroncong terlalu sesak karena dipenuhi berbagai unsur kesenian. Muncul pula pendapat, wayang keroncong itu pertunjukan tanpa aturan jelas dan berjalan sporadis.
 
Atas dasar itu, teknisi unit pelaksana teknis ajang gelar Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung ini, justru semakin rajin mempromosikan wayang keroncong bersama kelompok seni Behind The Actor ke berbagai tempat, di dalam dan luar negeri. Pertengahan 2010 ia diajak berkolaborasi dengan musisi Dwiki Darmawan membawakan jazz wayang di pentas teater tiga kota di Italia, Roma, Napoli dan Venesia. Selain itu, kolaborasi pun dilakukan antara lain dengan nama-nama besar di dunia wayang seperti Wayang Kulit Gaya Solo Sanggar Redi Waluyo dan Wayang Orang Bharata dengan lakon Pendidikan Karakter Pandawa.
 
Ketika tampil pada Festival Wayang Internasional di Vietnam, 5-9 September 2010, wayang keroncong menuai pujian dengan menyabet empat medali emas dari 15 kategori, kategori Pertunjukan, Dalang, Desain Artistik Pertunjukan, dan Desain Pertunjukan. Lalu pada tahun 2011 wayang keroncong tampil dalam Festival Kesenian Turki dan Festival Tong Tong di Belanda. Setelah wayang keroncong dikenal banyak kalangan, tawaran pentas pun berdatangan. Pengundang biasanya tertarik dengan keberhasilan mengolaborasikan beberapa jenis kesenian tradisi menjadi sajian khas ala Indonesia.
 
Bagi suami Poppy Siti Sofia dan ayah bagi Sarah Syahira Syifa Af’idah ini, Berkarya adalah panggilan untuk ber-aksi, berbuat sesuatu untuk diri dan kehidupan. Ia sangat yakin akan pilihan hidupnya di teater sehingga ia memilih untuk tidak berhenti berkarya. Dukungan dana yang pernah diterimanya dari Kelola, dan Kedutaan Besar Belanda sangat membantunya dalam memproduksi teater. Ia berharap semakin banyak pihak, swasta ataupun pemerintah yang peduli pada seni pertunjukan. Dengan dukungan itu, para pekerja seni terpacu mencipta karya yang lebih serius, dengan penelitian dan pengetahuan mendalam terhadap karya yang digarapnya. Sehingga kualitasnya dapat mendongkrak wajah seni pertunjukan Indonesia.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...