Ayu Laksmi

Nama :
I Gusti Ayu Laksmiyani
 
Lahir :
Singaraja, Bali,
25 Nopember 1967
 
Pendidikan :
Fakultas Hukum
 Universitas Udayana, Denpasar, Bali
 (lulus tahun 1993)
 
Penghargaan :
Juara 1 Pop Singer Anak-anak (1972),
Top 7 dalam Indonesian Rock Festival (1983),
Duta Lingkungan Hidup Bali (2005),
Terpilih sebagai The Ten Most Beautiful People in Bali oleh para pendengar di Hard Rock FM Radio Bali (2009),
10 best Musicians of the year oversi majalah TEMPO (2010)
 
Album :
Istana Yang Hilang (1991),
Svara Semesta (2010)
 
Filmografi :
Under The Tree (2008),
Soekarno(2013)
 
 

Penyanyi
Ayu Laksmi
 
 
 
Bernama lengkap I Gusti Ayu Laksmiyani, dilahirkan di Singaraja, Bali, 25 Nopember 1967. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mencintai seni, terutama seni musik. Sejak mengenal panggung di usia 4 tahun, putri bungsu I Gusti Putu Wiryasutha (alm) dan I Gusti Ayu Sri Haryati ini, tidak pernah berhenti berkesenian. Di era 1980-an, sarjana hukum lulusan Universitas Udayana, Bali, ini telah malang melintang dalam dunia musik rock Indonesia. Bahkan bersama dua kakaknya, Partiwi dan Ayu Wedayanti, sempat membentuk The Ayu Sisters dan pernah di nobatkan sebagai Best Performers dalam arena Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1983. Namanya juga sempat masuk Top 7 dalam Indonesian Rock Festival tahun 1983.
 
Ia juga merupakan penyanyi Bali pertama yang berhasil menembus industri musik nasional, dimana beberapa single dan soundtrack film yang dinyanyikannya, seperti untuk soundtrack film Catatan Si Boy II dan soundtrack film Asmara, cukup akrab di telinga para pecinta musik Indonesia masa itu. Meski namanya sudah tak asing di panggung hiburan, namun ia baru melahirkan album Solo yang berjudul Istana Yang Hilang pada tahun 1991. Setelah itu, ia memutuskan vakum sementara dan mulai menjelajah ruang-ruang baru. Setelah sempat bernyanyi dari kafe ke kafe, lalu mendirikan restoran, kemudian berlayar ke Karibia dan menjadi penyanyi di kapal pesiar, bernyanyi dalam bahasa Inggris, Spanyol dan Perancis, baru pada tahun 2006 ia seolah mendapat energi baru. Berawal saat ia di minta untuk ambil bagian dengan menghadirkan karya yang kental dengan warna bali pada acara Bali for the World. Orang asinglah yang menyadarkannya bahwa ia tak bisa lepas dari tradisi.
 

Dari sini, babak baru Ayu mulai hadir. Ia mulai belajar menembangkan gegitaan, bait-bait puisi yang terdapat dalam kitab-kitab Hindu. Setelah berkonsultasi dengan beberapa orang suci, ia menggubah ‘Wirama Totaka’ dan ‘Wirama Swandewi’ dari kitab Arjuna Wiwaha menjadi lagu dengan iringan alat-alat musik modern. Bersama kelompok musik Tropical Transit, ia mulai merambah panggung festival dan acara-acara yang bernuansa religi. Menurutnya, menembang bait-bait dalam kitab suci itu membutuhkan kesabaran, tidak boleh meledak, karena chord-nya cuma satu, pemusik juga harus menahan diri. Dari situlah ia belajar untuk sabar.


Kebaya For The World (2011)

 
Dalam tataran itu, perempuan yang suka mengenakan busana putih ini telah menjadikan musik pop sebagai wahana kontemplasi. Lewat musik dan gegitaan yang ia lantunkan, ia mengajak semua orang untuk kembali kepada kearifan lokal. Berkesenian baginya ibarat sebuah sajian, seperti dalam ajaran agama. Ia menjadikan seni, sebagai persembahan.
 
Sempat memasuki dunia seni peran di bawah arahan sutradara kenamaan Garin Nugroho dalam film Under The Tree dan pernah menjadi nominator pemeran utama wanita terbaik FFI tahun 2008. Sempat diundang menghadiri Tokyo International Film Festival 2008. Pada tahun 2010, kembali mengeluarkan album solo yang berjudul Svara Semesta yang berisi 11 lagu. Sembilan diantaranya diciptakannya sendiri. Ia membagi karyanya tersebut ke dalam dua ruang yang berbeda, yakni ruang Budaya-Teknologi serta Manusia. Album ini masuk dalam nominasi 20 album terbaik tahun 2010 versi majalah TEMPO.
 
Svara Semesta, yang menjadi album keduanya tersebut juga menghadirkan sosoknya yang berbeda, dengan citra dan penjelajahan musik berbeda, bahkan lebih berwarna. Dulu waktu ia menjadi penyanyi rock, ia memakai celana bergambar tengkorak. Sekarang ia memilih untuk tampil sebagai perempuan Indonesia. Kalau sekarang banyak perempuan yang ingin tampil sebagai model, ia justru sebalikannya. ia memilih untuk kembali ke ranah tradisi.
 
Pelajaran penting bagi istri Steven van Lierd, lelaki asal Belgia yang menikahinya pada tahun 2006 dan telah menetap lebih dari 16 tahun dari seluruh rangkaian perjalanan kariernya sebagai penyanyi, meski ia mulai dari jalur industri hiburan adalah, tumbuhnya kesadaran untuk kembali ke ranah musik sebagai nyanyian pengagungan semesta. Bermusik pada hakikatnya melantunkan persembahan, sebagaimana terdapat dalam agama.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...