Ayu Raka

Seniman Tari
Ayu Raka
 
Baginyaa menari merupakan sarana ibadah dan persembahan kepada Tuhan, Sang Hyang Widhi. Bahkan, menjadi suatu kebanggaan bagi penari Bali jika mereka mendapatkan apa yang disebut taksu (kharisma) dari Sang Maha pencipta. Oleh, karena itu, sebelum berlatih tari, anak-anak didiknya diajak bersembahyang dahulu di pura agar Sang Hyang Widhi memberkati dan merestui selama mereka belajar menari. Intinya, agar anak-anak itu bisa berkonsentrasi dan tidak bersikap sembarangan selama berlatih tari.
 
Jika ingin menjadi penari Bali sejati, latihan harus disiplin dan keras. Tubuh harus lentur dan kepala dapat menyentuh tanah saat dilengkungan ke belakang. Untuk mendapatkan kelenturan tubuh seperti itu, seorang guru melatih secara keras muridnya dengan cara mengikat tangan, bahu, dan tubuhnya dengan selendang. Latihan seperti itulah yang dilakoninya hampir setiap hari sejak ia berusia tujuh tahun. hasilnya, serumit apapun tarian Bali telah ia kuasai. Sejak berusia 10 tahun, ia terjun total sebagai penari. Dengan tekad seperti itu, ia merelakan dirinya hanya mengenyam pendidikan formal sampai bangku kelas III sekolah rakyat.
 
Kesetiaannya tak tanggung-tanggung. Saat berumur 11 tahun, ia sudah menjadi penari Bali paling muda di antara rombongan penari Pulau Dewata ke Inggris. Itulah pengalaman pertamanya ke luar negeri. Tepuk tangan riuh penonton di suatu gedung pertunjukan di Inggris telah menumbuhkan kebanggaannya sebagai penari Bali. Perasaan yang tiada terkira. Jika mengingatnya, ia amat terharu dan merasa dihargai sebagai penari di negeri orang. Ia menerima penghargaan sebagai penari cilik terbaik dan dengan sambutan terbaik. Para penonton kagum oleh tarian Garuda yang dia bawakan. Kisahnya, mengutip komentar penonton, saat menari itu kakinya dengan lincah melompat-lompat, benar-benar menimbulkan kesan seperti burung garuda sedang terbang melayang tak menyentuh tanah.
 
Pengorbanannya demi kelestarian tarian Bali telah menggugah John Coast, penulis asal Inggris. Dalam buku Dancing Out of Bali karya Joan Coast, memilihnya sebagai salah satu potret penari Bali. Sampul itu tak lain adalah dirinya ketika berusia sekitar 15 tahun. Ia terharu saat memperlihatkan buku yang dikirimkan Joan Coast untuknya. Buku itu mencerminkan besarnya penghargaan Joan Coast terhadapnya. Dan karena kecintaannya kepada budaya Bali, ia memandang begitu istimewa penari Bali. Dalam usia yang hampir mencapai 70 tahun, cara berjalan perempuan Bali ini masih tegap. Ramah dan murah senyum. Deretan giginya masih utuh setiap kali senyum lepas dari bibirnya. Sekarang ia tidak lagi melawat ke luar negeri. Ia diberi gaji dari pemilik Museum Arma untuk melatih anak-anak menari secara gratis. Bahkan, tidak jarang beberapa wisatawan asing pun mengikuti kursus menari dengannya di museum itu.
 
Ia pun masih sanggup menerima tantangan siapa pun yang mengajaknya pentas menari. Ia tinggal bersama suaminya yang juga penabuh gamelan. Keempat anaknya sudah berkeluarga. Hanya seorang anak perempuannya yang mengikuti jejaknya sebagai penari Legong Bali. “Saya akan tetap setia merawat kesenian ini hingga akhir hayat,” tutur Ayunya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
I Gusti Ayu Raka
 
Lahir :
Tahun 1939
 
Pendidikan :
Kelas III Sekolah Rakyat
 

You may also like...

Leave a Reply