Bambang Hermanto


Aktor Film
Bambang Hermanto
 
 
Piala Citra tidak mengubah keberuntungan Bambang Hermanto. Setelah memperoleh piala lewat film Ponirah Terpidana di Festival Film Indonesia (FFI), 1984, Yogyakarta, aktor kawakan ini sempat menganggur. “Hampir setahun saya absen main film,” katanya. Tawaran main sebenarnya bukan tidak ada. Sutradara Ami Priyono, misalnya, pernah menawarkannya menjadi ayah Rano Karno dalam film Pertunangan ‘85. Di situ ia menjadi pengusaha rokok yang kaya raya. Tetapi Bambang menolak. “Saya bosan dengan peran seperti itu,” ujarnya.
 
Sebagai aktor, anak tunggal bekas kepala pabrik kopi di Jawa Tengah ini sudah dikenal sejak 1950-an. Pada FFI 1955, ia meraih gelar Pendukung Peran Pembantu Terbaik lewat film Lewat Jam Malam. Pengakuan internasional diperolehnya melalui Festival Film di Moskow, 1962, saat meraih gelar Aktor Terbaik. Dari sinilah datang tawaran Bill Palmer dari perusahaan film 20th Century Fox untuk bermain dalam dua film Hollywood, satu di antaranya The King and I. Tawaran yang bernilai 2,5 juta dollar Amerika dan lawan main Marlyn Monroe ini langsung diramaikan pers. Bambang lalu dipanggil Bung Karno. “Kamu ini pejuang keblinger,” damprat Bung Karno.
 
Selepas film Ponirah Terpidana, tadinya Bambang berharap banyak dalam film Woyla. Di sini ia akan memerankan tokoh Jenderal Yoga Soegomo, Kepala Bakin, yang dikenalnya baik sehingga memudahkannya. “Saya mendapat tugas khusus dan tidak boleh menolak,” katanya. Sayang, film itu belum sempat beredar. Sudah memerankan lebih dari 20 film, ayah 13 anak ini satu dari Dien, dan sisanya dari tiga istrinya yang lain Rr. Murdiah, Detty Nafsiah, dan Emma Lasmi lebih banyak hidup dari hasil pertaniannya. Di atas lahan seluas 200 hektar di Jampang Kulon, Sukabumi, Jawa Barat, ia bertanam sayur, palawija, dan beternak ikan.
 
Bercita-cita menjadi insinyur, dan kemudian ternyata, menjadi Polisi Militer di Semarang. Pada 1950 Bambang menonton film di Bioskop Metropole kini Megaria Jakarta. Datanglah seorang bernama Anjar Subiono, sutradara, menawarinya main film. Bambang langsung setuju. Esoknya ia ke studio Persari di Bidaracina, berboncengan sepeda. Sebelumnya ia mampir membeli dasi di Pasar Rumput. “Harganya seringgit, tapi saya tidak bisa mengenakannya,” tutur Bambang. “Akhirnya saya tempel saja di leher.”
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Bambang Hermanto /
Herman Citrokusumo
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah, 
1 Agustus 1925
 
Wafat :
Solo, Jawa Tengah,
18 Desember 1991
Pendidikan :
HIS 7 tahun di Sragen (belum lulus),
ATNIKarir :
Latihan kemiliteran di Sragen, Jawa Tenga (1945),
Dirut PT Bambang Hermanto Film, Yogyakarta (1964),
Dirut PT Granadha Film, Jakarta (1972),
Dirut PT Sapta Damar Jaya Film, Jakarta (1975)
 
Penghargaan :
Meraih Piala Citra sebagai pemeran pembantu pria terbaik pada FFI  Yogyakarta, 1984 dalam film Ponirah Terpidana,
Aktor Terbaik pada Festival Film Moskow 1962 dalam film Lewat Jam Malam,
Meraih gelar Pendukung Peran Pembantu Terbaik pada FFI 1955 dalam film Lewat Jam MalamFilmografi :
 Sepanjang Malioboro (1952),
Harimau Campa (1953),
Lewat Djam tengah Malam (1954),
Kalau Jodoh Masa Kemana (1955),
A House A Wife and A Singing Bird / Rajuan Alam (1956),
Apa Jang Kunanti (1957),
Asmara Dara (1958), 
 Pedjuang (1960),
Mak Tjomblang (1960),
Aksi Kalimantan (1961),
Violetta (1962),
Tudjuh Pahlawan (1963)
Teror Sulawesi Selatan, (Westerling) (1963),
Djembatan Emas, (1971),  Mawar Rimba (1972),
Sopir Taksi (1973),
Rama Superman Indonesia (1974),
Krisis X (1975)
Detektif Dangdut (1976),
Hati Yang Tertinggal (1977)
Menantang Maut / M-5 (1978),
Sang Guru (1982),
Peristiwa Dua Muang (1982)
Berandal Kebogiro (1984),
Ponirah Terpidana (1984),
Woyla (1985),
Pertunangan 85 (1985), 
Mengembara ke Neraka (1985),
Telaga Air Mata (1986)

You may also like...