Benny Likumahua

Nama :
Benny Likumahuwa
 
Lahir :
Kediri, Jawa Timur,
18 Juni 1946
 
Pendidikan :
SMA Perkapalan
 
Penghargaan :
The Most Dedicated Indonesian Jazz Artists dari Java Jazz Festival (2009),
Ambon Jazz Plus (2009)


Benny Likumahua
 
 
lahir di Kediri, Jawa Timur, 18 Juni 1946, mulai mengenal musik dari ibunya dan sejak remaja ia belajar musik dan not balok secara otodidak. Awalnya ia memainkan bongo, kemudian mengganti instrumennya dengan bass sebagai alat musik utamanya. Ketika mulai tertarik dengan musik jazz, ia mengganti instrumennya dengan klarinet, kemudian saksofon juga belajar meniup trombon. Alat musik tiup ini dipilihnya karena nada yang dipilih saat memainkan sebuah lagu tidak begitu banyak.
 
Tetapi dari yang sedikit tersebut, Benny mampu menyuguhkan permainan menawan. Enak dinikmati. Hal ini mengingatkan pencinta musik pada permainan piano Count Bassie yang biasanya sangat pelit dengan nada. Namanya sangat diperhitungkan dalam dunia musik jazz Indonesia. Ia pun cukup dikenal di kalangan pemusik jazz mancanegara. Sempat tampil di berbagai festival jazz internasional. Bahkan, sekitar pertengahan tahun tujuh puluhan, ia sempat tampil di sejumlah pub jazz di Bangkok, Thailand.
 

Tidak hanya berkecimpung dalam musik jazz. Ia juga memainkan musik rock dan pop. Pengalaman ini pula yang membedakannya dengan musisi jazz lain. Bahkan, ia tidak hanya sekadar ikut-ikutan main musik rock, tetapi menjadi motor dari grupnya. Tahun 70-an, ia bergabung dengan The Rollies, kelompok band beraliran rock yang sangat terkenal pada zamannya. Masuknya Benny mampu membawa warna baru. Musik The Rollies tidak lagi condong pada The Hollies, Rolling Stones dan The Beatles.
 
Pada tahun 1972, The Rollies ke Bangkok. Sesampai di sana personel The Rollies, kecuali Benny, tidak betah karena kerasnya kompetisi. Mereka memutuskan pulang ke Jakarta. Tetapi Benny tidak, di sinilah ia bertemu dan berkenalan dengan Bill Saragih. Setelah akrab, kami sering ber-jamsession. Bill  Saragih mengajaknya ke Australia, Ia setuju namun harus ulang ke Jakarta terlebih dahulu, sementara Bill  Saragih langsung ke Australia.

 
Sampai di Jakarta ia terpengaruh teman-teman. Ia kembali bergabung dengan Rollies. Akibatnya, ia  tidak jadi ke Australia. Waktu ia mendarat di Jakarta, setelah tiga tahun tinggal di Bangkok, teman-teman The Rollies mengajaknya kembali bergabung. Kebetulan suasana kehidupan musik di Indonesia cukup bagus. Bayaran yang diterimanya dua kali lebih besar dari yang di luar negeri. Maka ia pun membatalkan rencananya menyusul Bill Saragih ke Australia. Padahal, semua surat untuk tinggal di Australia sudah selesai diurus. Meskipun ikut terseret arus bergabung dengan kelompok musik yang memainkan musik rock, ia tetap menyempatkan diri memainkan jazz. Karena dunianya tetap jazz. Sejak usia sebelas tahun ia sudah memainkan jazz. Memasuki 80-an, praktis musik rock ia tinggalkan dan kembali ke musik jazz, meskipun sesekali ia masih bermain bersama The Rollies. Kemampuannya dalam memainkan alat musik tidak hanya sebatas pada satu alat. Belakangan ini ia sering tampil memainkan trombone.
 
Dunia musik merupakan keseharian dari keluarga Likumahua. Sejak kecil, seperti kebanyakan orang Ambon, ia sudah terbiasa dengan musik. Ibu dan ayahnya selalu memutar lagu-lagu jazz dan hal ini dirasakan mampu mempengaruhi jiwanya. Musik di tanah kelahirannya, Ambon, mirip dengan musik Hawaiian. Hal itu, telah membuatnya menyukai jazz. Komitmennya pada dunia jazz juga layak mendapat acungan jempol. Selain menjadi pembicara mengenai musik jazz di salah satu radio secara rutin, ia juga menyempatkan diri melatih sejumlah orang yang berminat pada musik jazz.
 
Tahun 1994 Benny membantu sekelompok tuna netra asal Bandung memainkan musik jazz. Sayang, kelompok yang diberi nama Sparkle dan sempat tampil di JakJaz 1995 itu, kemudian hari tidak lagi memainkan jazz. Yang cukup membanggakan adalah keberhasilannya mengangkat Syaharani menjadi penyanyi jazz terkenal. Karier Syaharani melejit, setelah ia tampil dalam pergelaran Big Band pimpinan Benny Likumahua di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tahun 1995.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply