Binu D. Sukaman

Nama :
Binu Doddy Sukaman
 
Lahir :
Jakarta 12 Juli 1966
 
Pendidikan :
Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Wisconsin Conservatory of Music Amerika
 
Profesi :
Pendiri dan pengajar vokal Jakarta Conservatory of Music,
Pengajar Universitas Pelita Harapan
 
Album :
Tembang Puitik Indonesia (bersama Ananda Sukarlan, 2007)
 
 


Soprano
Binu D. Sukaman
 
 
 
 
Penyanyi sopran Binu D Sukaman mengaku sedang santai. Menurut perempuan yang lahir di Jakarta, 12 Juli 1966 ini, tiap bulan Januari dirinya memang sepi order menyanyi. Bulan Januari bagi salah satu pendiri Conservatory Music Jakarta ini, memang waktunya untuk berleyeh-leyeh, istirahat. Paling-paling ia hanya mengasah vokal dan mengajar vokal di conservatory.
 
Dikenal salah satu penyanyi soprano Indonesia yang telah tampil sebagai solis bersama orkes terkenal seperti Orkes Kamar Jakarta, European Camerata, Nusantara Symphony Orchestra, Orkes Simfoni Jakarta, Twilite Orchestra, Orkes Simfoni Institut Seni Indonesia, Orkes Cisya Kencana dan Orkes Parahiyangan. Ia juga memainkan peran-peran utama dalam opera, seperti dalam Dido and Aeneas karya Purcell, Loro Jonggrang karya Trisutji Kamal, Cavaleria Rusticana karya P. Mascagni, dan Kali karya Tony Prabowo.    
 
Ia juga bermain dalam Opera Buffa (comedy) karya Gian-Carlo Menotti The Telephone dan Die Zauberflote-The Magic Flute karya W.A Mozart. Ia memerankan ‘The Witch’ dalam Hansel und Gretel karya Humperdinck. Sebagai penyanyi lieder, ia sering memberikan berbagai recital di dalam maupun di luar negeri, diantaranya : Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Rabat (Maroko), Roma (Italia), Paris, Marseilles (Perancis), Bangkok, Chiang Mai (Thailand), Vienna (Austria).
 


Opera 3 Babak Tan Malaka (2011)

Tentang lembaga musik Conservatory Music Jakarta ini, yang ia dirikan bersama Ananda Sukarlan, Adelaide Simbolon dan Lendi Sudarno, Binu menuturkan, siswanya kini telah mencapai sekitar 200 orang. Selain sebagai pendiri, Binu juga bertindak sebagai guru vokal. Jika bulan Januari tiba, Binu bisa kembali merasakan sebagai orang biasa yang tidak dikejar-kejar jadwal menyanyi. Nanti jika masuk bulan Februari, ia mulai sibuk lagi, hingga akhir tahun. Saat ditanya, apakah tak jenuh hanya latihan vokal saja di bulan Januari ini tanpa pentas sama sekali, ia mengatakan lebih menikmati proses latihan, di situ ia lebih banyak belajar, penampilan baginya hasil akhir dari sebuah proses.

 
Kesulitan mendapatkan perusahaan rekaman yang mau mengedarkan albumnya, dialami oleh penyanyi sopran Binu D Sukaman. Tak kurang-kurangnya usahanyauntuk meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap musik klasik dan membantu melahirkan penyanyi-penyanyi baru di jalur tersebut. Ia mendirikan Jakarta Conservatory of Music, yang disebutnya sebagai sekolah musik klasik. Di situ ia mengajar. Ia juga tampil dalam pertunjukan-pertunjukan musik untuk tujuan yang sama, termasuk yang bukan klasik murni dan diperuntukkan bagi kaum muda, seperti konser simfonik Musicademia: Harmony in Diversity. Bahkan, akunya, demi idealismenya ia rela membuat sendiri konser-konser. 
 
Rupanya, usaha perempuan yang mendalami olah vokal pada, Pranajaya (alm) dan Catharina W. Leimena ini belum banyak berdampak ke kalangan perusahaan rekaman. Ia sulit mendapatkan perusahaan rekaman yang mau mengedarkan album Tembang Puitik Indonesia-nya. Album yang menampilkan Binu sebagai penyanyi, diiringi oleh pianis klasik ternama Ananda Sukarlan itu dan diproduseri bersama suaminya, Doddy Sukaman, salah satu aranjer terkenal di industri musik rekaman Indonesia tahun 1990-an
 
Pasangan tersebut memang memiliki label sendiri yang mereka namai Bindy, yang merupakan kependekan dari Binu dan Doddy. Untuk menjual album itu, mereka bermaksud menitipedarkan album tersebut ke perusahaan rekaman lain. Namun, agaknya, itu tak mudah, Bindy hsnys memproduksi dua album, satu album miliknya dan satu lagi album sebuah grup rock baru dari Cianjur.
 
Tapi sarjana hukum lulusan Universitas Indonesia ini, yang juga belajar vokal di USA, Belanda, dan Austria, serta belajar piano daripianis klasik terkenal Iravati Sudiarso ini tidak menyerah, Ia terus berusaha meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap musik klasik. Seperti berteriak-teriak di padang pasir, ujar ibu dua anak ini.    
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply