Bondan Nusantara

Seniman Teater
Bondan Nusantara
 
 
 
Pelaku seni pertunjukan ketoprak di Yogyakarta ini lahir di Yogyakarta, 6 Oktober 1952. Sejak kecil telah mengenal dunia ketoprak, karena ibunya merupakan pemain ketoprak legendaris. Mulai aktif di ketoprak sejak lulus SMP tahun 1970, dengan bergabung pada ketoprak keliling Dahono Mataram. Tahun 1980, ia belajar menulis naskah ketoprak dari Handung Kussudarsana. Tak hanya sampai di situ, di era tahun 1980-an, ia kerap pula masuk keluar kampung di Bantul untuk melatih kesenian rakyat tersebut.
 
Banyak naskah pementasan yang pernah ia buat, naskah-naskah tersebut umumnya ia kerjakan di rumahnya yang ia tinggali bersama keluarganya di kawasan Kasongan, Bantul, DI Yogyakarta. Naskah yang ia buat biasanya lahir dari berbagai inspirasi yang bisa datang dari mana saja, termasuk dari peristiwa gempa besar yang melanda Yogyakarta tahun 2006. Peristiwa itu menginspirasi lahirnya dua lakon, yakni ‘Lindu’ (gempa) dan ‘Saijah Adinda’. Di rumah tersebut juga kerap di jadikan tempat persiapan pentas, mulai dari bedah naskah hingga reading.
 
Dua lakonnya yakni ‘Lindu’ (gempa) dan ‘Saijah Adinda’ tersebut telah dipentaskan. Lakon pertama ‘Lindu’ (gempa) di pentaskan di Yogyakarta untuk menghibur korban gempa. Lakon keduanya, ‘Saijah Adinda’, dipentaskan di Yogyakarta, Solo dan Jakarta. Selain itu naskahnya yang lain juga telah banyak dimainkan dan disiarkan di beberapa radio di Yogyakarta, di antaranya di Rasia Lima, Retjo Buntung, dan MBS Kotagede. Dia juga menulis naskah ketoprak sandiwara di TVRI sampai dengan 1999.
 
Menurut pria yang sering wira-wiri Bantul – Yogyakarta dengan vespa tuanya, yang kini telah di gantikan dengan motor bebek yang tak kalah tuanya tersebut, tidak mungkin ketoprak bisa hidup bila tetap mempertahankan pakem seperti dulu. Jika ada lembaga seni yang memberi dana ke kelompok ketoprak agar bermain sesuai pakem, sama halnya membunuh ketoprak itu sendiri. Atas dasar pandangan semacam itu, ia berani membuat konsep pementasan ketoprak plesetan ‘Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro’ pada tahun 1991.
 
Kemampuan dan pengalamannya dalam dunia seni pertunjukan tidak diragukan lagi. Prestasi serta penghargaan pernah diraihnya, di antaranya sebagai Aktor Terbaik Festival Kethoprak se-DIY (1983); Sutradara Terbaik Festival Ketoprak antar Dati II se-DIY (1984-1986); Sutradara Terbaik Festival Pertujukan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (1987); Juara III Penulisan Cerpen Bahasa Jawa se-Jawa Timur (1993). Berbagai penghargaan juga dia peroleh dari Sri Paduka Paku Alam VII; dari Sri Sultan Hamengkubuwono X; dan terakhir Penghargaan dar H. Aburizal Bakrie atas jasanya sebagai pelestari budaya Jawa (2012).
 
Selain menekuni dunia ketoprak, ia pernah bekerja sebagai wartawan di harian Kedaulatan Rakyat (1980-1990) dan harian Berita Nasional (1991-1998). Kini, selain menjadi sutradara dan penulis naskah untuk Komunitas Seni Dagelan Mataram Baru, ia juga sesekali bermain sinetron atau film, diantaranya bermain dalam film televisi ‘Perkutut Falls in Love’ dan ‘Sahabat Terhebat’
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Bondan Nusantara
 
Lahir :
Yogyakarta, 6 Oktober 1952
 
Karier :
Pemain kethoprak keliling Dahono Mataram,
Wartawan di harian Kedaulatan Rakyat
(1980-1990),
Wartawan di harian Berita Nasional (1991-1998),
Sutradara dan penulis naskah Komunitas Seni Dagelan Mataram Baru
 
Pencapaian :
Aktor Terbaik Festival Ketoprak se-DI Ypgyakarta (1983),
Sutradara Terbaik Festival Ketoprak antar Dati II se-DI Yogyakarta (1984-1986),
Sutradara Terbaik Festival Pertujukan Rakyat DI Yogyakarta (1987),
Juara III Penulisan Cerpen Bahasa Jawa se-Jawa Timur (1993),
Penghargaan dari Sri Paduka Paku Alam VII,
Penghargaan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X,
Penghargaan H. Aburizal Bakrie (2012),
Anugerah Kebudayaan Kategori Pelestari dan pengembang Warisan Budaya dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2014)
 
Karya :
Lindu(Gempa),
Saijah Adinda
 
Film/Sinetron :
Perkutut Falls In Love,
Sahabat terhebat

You may also like...