Broto Wijayanto

Nama :
Muh Arif Wijayanto

Lahir :
Desa Bolo, Demak,
Jawa Tengah,
11 Februari 1976

Pendidikan :
Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta (lulus 2007)

Aktifitas Lain :
Pengajar Honorer SMKN I, Kasihan, Bantul, Yogyakarta,
Pembina dan pengajar di Deaf Art Community,
Pengajar teater di Art for Children,
Salah satu pendiri Bengkel Pantomim Yogyakarta yang pada akhirnya berganti nama menjadi Bengkel Mime Theater


Seniman Teater
Broto Wijayanto

Bernama asli Muh Arif Wijayanto. Lahir Desa Bolo, Demak, Jawa Tengah, 11 Februari 1976. Lulusan lulusan Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta (2007). Sejak duduk di bangku kuliah, ia sudah mengolah seni teater untuk meringankan beban anak-anak kurang beruntung. Tahun 2006, ia melatih teater anak-anak korban gempa di Bantul, DI Yogyakarta, untuk pemulihan trauma. Ia juga membantu pementasan amal anak-anak dengan kanker darah.

Tahun 2004, ia di ajak kenalannya untuk melatih sekaligus menyutradarai teater komunitas anak-anak tunarungu. Saat itu komunitas anak-anak dan remaja tunarungu yang ia latih berada di bawah pembinaan organisasi pemerhati tunarungu Matahariku Social Voluntary Group (Matahariku). Pada awal berada di antara anak-anak tunarungu, ia merasakan keterasingan luar biasa, karena ia tak mampu memahami komunikasi mereka. Namun, tembok keterasingannya runtuh seketika tatkala anak-anak itu berpantomim. Mereka amat mahir menggunakan bahasa dan isyarat tubuh. Meski tanpa kata-kata, bahasa tubuh mereka mampu menggambarkan maksud yang ingin disampaikan. Pertunjukan pantomim itu meyakinkan dia, penyandang tunarungu mampu menggeluti teater meski tanpa kata.


Teater Gandrik ‘Gundala Gawat’ (2013)

Pada bulan Desember 2004, komunitas yang dibinanya tersebut mementaskan produksi pertunjukan teater pertama berjudul Letter to God.  Setelah sukses dalam pementasan pertamanya, latihan teater komunitas itu terus berlanjut meski tak ada jadwal pentas. Lama-kelamaan latihan teater itu lepas dari kegiatan Matahariku yang cakupan kegiatannya lebih luas. Saat Matahariku berhenti beroperasi, mereka memintanya terus melatih. Komunitas itu lalu hidup tanpa nama resmi. Baru sekitar tahun 2009 nama Deaf Art Community (DAC) dipilih.

Selain aktif di DAC, ia juga bergabung dengan Teater Gandrik. Tercatat ia pernah beberapa kali ikut berpentas bersama Teater Gandrik, diantaranya ketika Teater Gandrik mementaskan Gundala Gawat di Taman Ismail Marzuki pada bulan April 2013, di mana ia memerankan tokoh Jin Kartubi. Guru honorer pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Kasihan, Bantul, Yogyakarta ini, juga mengajar teater untuk anak-anak Art for Children di Taman Budaya Yogyakarta.

Suami Dona Mestikasari ini juga aktif di pantomin. Ia merupakan salah satu pendiri Bengkel Pantomim Yogyakarta (BPY) di tahun 2001 bersama dengan Ari Dwianto, Andy Sri Wahyudi, dan Asita. Tahun 2004, mereka mulai memasukkan lebih banyak unsur teater di dalam pertunjukan mereka. Pantomim yang biasanya hanya berkisah fragmen, kini ditampilkan dengan cerita yang lebih utuh dan dengan pengaruh panggung teater yang lebih kuat. Di sana diatur cahaya, musik, set dan juga pengadeganan yang lebih tegas. Produksi Langkah-langkah (2004), Romantika Daun Pisang 1-2 (2005), Tiga Fragmen dan Superyanto (2006) merupakan contoh karya yang mereka produksi dengan pengaruh teater.

Tahun 2007, BPY mengubah namanya menjadi Bengkel Mime Theater (BMT). Pengubahan nama ini sekaligus menegaskan kebijakan artistik baru mereka yang telah dirintis sebelumnya. Lewat produksi Aku Malas Pulang ke Rumah (2008), Bengkel Mime membuat tabrakan estetika serius yakni mempertemukan pantomim dengan dramaturgi realis. Keputusan ini membuat nama mereka semakin dikenal luas di kancah seni pertunjukan sebagai satu bentuk interdisipliner.

Baginya, seni teater tak semata hasrat memuaskan ekspresi diri, tetapi jalan membuka harapan bagi sesama.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...