Budi Ros

Seniman Teater
Budi Ros
 
Bercita-cita menjadi atlet atau sastrawan, namun jalan hidupnya justru bermuara sebagai aktor teater. Awalnya ia ke Jakarta karena di ajak kakaknya dengan tujuan utamanya mengikuti tes sekolah pilot di awal tahun 1980-an, namun tidak lulus. Sempat luntang-lantung di ibu kota, sampai suatu ketika ia bersentuhan dengan agen model milik Tit Qadarsih. Memulai kariernya di dunia teater bersama Teater Koma dari peran-peran kecil hingga sekarang menjelma menjadi aktor andalan Teater Koma.
Lahir di Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, 6 Januari 1959. Pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Jurusan Sinematografi. Begabung dengan Teater Koma atas ajakan Titi Qadarsih pada tahun 1982, sempat menghilang karena mengejar cita-citanya menjadi sastrawan. Tahun 1985 kembali lagi ke Teater Koma hingga sekarang. Bersama Teater Koma, ia mendalami bidang penulisan, seni peran, dan penyutradaraan. Selama 9 tahun tinggal di sanggar Teater Koma di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan (1986-1994). Kesenian diserapnya sejak ia masih kanak-kanak. Sastra Mihardja, sang ayah, sering mengajak nonton wayang kulit semalaman hingga paginya sering bolos sekolah. Selain itu, wayang orang dan ketoprak seolah jadi tontonan wajibnya. Pasalnya, sang ayah sering nimbrung main setiap ada ketoprak atau wayang orang keliling mentas di kampung.
Pada pagelaran Teater Koma yang ke 110, Budi Ros terkena giliran berkiprah sebagai sutradara. Lakon tersebut di pentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada Mei 2006, dengan lakon Festival Topeng. Festival Topeng berhasil menyabet salah satu penghargaan dalam Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta 2005.


DEMONSTRAN, Teater Koma (2014)

Bagi penyuka olahraga bersepeda ini, mengangkat karya sendiri ke atas pentas, tentu memiliki tantangan yang khas. Dan lakon, biasanya sulit memperoleh peluang untuk dipentaskan, apalagi jika penulisnya tidak memiliki kelompok sendiri. Budi Ros meraih peluang itu, karena dia bergabung dengan kelompok yang peduli terhadap konsep regenerasi. Dalam penyutradaraan, Budi Ros bukan orang baru. Dia banyak menyutradarai lakon-lakon Teater Koma, yang naskahnya juga dia tulis sendiri, di berbagai venue di Jakarta.
 
Bergabung dengan Teater Koma sekak tahun 1985, tepat pada pergelaran Opera Kecoa yang pertama di TIM. Pada waktu itu, sebagai pemula, dia bekerja secara serabutan. Apa pun dia tangani, baik sebagai pencatat, pelaksana busana, pelaksana artistik, petugas piket, pemegang keuangan, hingga stand-in pada saat latihan jika ada aktor yang absen. Secara tidak langsung dia mempelajari semua pekara yang berkaitan dengan teater.

Belakangan dia dipercaya sebagai asisten sutradara N. Riantiarno. Sebagai aktor, dia tekun tapi pendiam. Dan sebagai sutradara, dia penyabar. Dia selalu berkeinginan memberikan ruang kreatif yang seluas-luasnya bagi aktor. Dia senantiasa percaya, aktor mampu mengejar apa yang sesungguhnya dia inginkan.
Sebagai aktor, pengalaman pentasnya sangat bervariasi. Berperan sebagai Macun dalam Sampek Engtay di tahun 1988. Memainkan peran Hanbun, suami ular putih, dalam Opera Ular Putih tahun 1994. Memerankan Semar dalam Semar Gugat tahun 1995, Nata Sasmita Picum, Raja Pengemis, dalam Opera Ikan Asin tahun 1997, Kala dalam Kala tahun 2001, Romeo dalam Roman Yulia tahun 2002, Tibal dalam Opera Kecoa tahun 203 dan Samiaji dalam Republik Togog tahun 2004, Martin dalam Kenapa Leonardo tahun 2008 dan menjadi Petruk dalam Republik Petruk tahun 2009. Tahun 2010, pada pementasan produksi ke-119 tahun 2010 Teater Koma, Sie Jin Kwie,pada pementasan produksi ke-122 Teater Koma tahun 2011, Si Jien Kwie Kena Fitnah, dan pada pementasan produksi ke-123 Teater Koma, Sie Jin Kwie Di Negeri Sihir, ia berperan sebagai Dalang.
Aktor yang sempat bekerja kantoran tetapi berhenti karena sudah tidak punya energi ini, menikah dengan Erna Novia Nursilawati, yang akrab dipanggil Nunung, seorang karyawan Bank of Tokyo. Dikaruniai seorang putri, Sekar Dewantari. Berdomisili di Perumahan Puri Anggrek Mas, Sawangan, Depok, Jawa Barat. 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Budi Yuwono
 
Lahir :
Banjarnegara, Banyumas,
Jawa Tengah,
6 Januari 1959
 
Pendidikan :
STM jurusan Listrik (Purwokerto, Jawa Tengah),
Institut Kesenian Jakarta
Jurusan Sinematografi
 
Pencapaian :
Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta
(2005)

You may also like...