Bulan Trisna Djelantik

Seniman Tari
Bulantrisna Djelantik
 
 
 
 
Penari yang sejak kecil telah menari di berbagai pelataran ini, telah lama memendam rasa prihatin akan kurangnya minat dan pengetahuan mengenai seni pertunjukan kita sendiri. Inilah yang mendorongnya memilih mendalami tari Legong Bali.
 
Walaupun telah memilih untuk melanjutkan pendidikan kedokteran, spesialis, meraih gelar Doktor dan menjalankan berbagai profesi yang sangat sibuk, akan tetapi dirinya tak pernah lepas dari kegiatan menari. Ini terjadi karena menari telah mendarah-daging dan baginya merupakan relaksasi dan penyegaran kalbu. Menari adalah tarikan nafas dan bekerja berkarya sehari-hari adalah mengeluarkan nafasku, demikianlah ia mengandaikannya.
 

Legong Lasem

Masa kecilnya di Bali diwarnai dengan belajar menari di Puri kakeknya di Karangasem, dan kemudian di desa Peliatan langsung pada maestro tari Ida Bagus Bongkasa, Gusti Biang Sengog, I Mario dan I Kakul. Hampir setiap minggu ia menari sampai larut malam, baik dibalai desa, pura, gedung dan istana Negara. Gaya tari yang paling dijiwainya adalah gaya khas Peliatan, yang didapatnya ketika berkiprah sebagai anggota Sekeha di bawah pimpinan Anak Agung Mandera. Tarian utama yang dibawakannya ketika itu adalah sebagai Condong dalam Legong Keraton dan Oleg Tamulilingan. Pada usia 11 tahun, ia pertama kali menari Oleg di Istana Negara Jakarta.
 
Ketika ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan sebagai dokter, dan kemudian bekerja sabagai dosen di Universitas Padjadjaran, ia tetap mengajar di sanggar-sanggar maupun di Akademi Seni Tari Indonesia. Setelah menanjak dewasa, ia ikut memperkenalkan budaya bangsa di panggung manca negara bersama penari dari daerah lainnya seperti Indrawati, Irawati, Retno Maruti, Sentot, S. Karjono (alm), Huriah Adam (alm) antara lain di EXPO ‘70 Osaka, Jepang.
 

Begitu pula ketika menuntut pasca-sarjana di Jerman, Belanda dan Belgia, tak pelak ia diminta mengajar dan menari ke berbagai pelosok, yang ternyata tak mengganggu kegiatan penelitian yang sedang ditekuninya. Sejak tahun 1977, ia juga tetap sebagai anggota Dewan Penyantun Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) yang berkantor di TIM, Jakarta.
 
Kini walaupun telah pensiun sebagai dosen dan ikut suami tinggal separuh waktunya di California Utara, Amerika Serikat, ia tetap aktif mengajar, berlatih dan berkreasi. Ini dilakukannya sebagai penyeimbang dan harmoni kehidupannya, di samping kesibukannya sebagai konsultan untuk WHO dan lembaga sosial lainnya. Tiga anak yang telah dewasa dan tiga cucu mungil melengkapi hidupnya.***
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

Nama :
Ayu Bulantrisna Djelantik
 
Lahir :
Deventer, Belanda,
 8 September 1947
 
Pendidikan :
Fakultas kedokteran Umum Universitas Padjadjaran Bandung (1975),
Spesialis THT (1985),
Program Pascasarjana/ Doktor Meidizin ,LM Universitas Munich, Jerman (1989),
Program Doktoral di Antwerp University, Belgia (1996)
 
Aktifitas Lain :
Pengajar ASTI Bandung (1972),
Pendiri dan Pengajar Bengkel Tari AyuBulan
Anggota Dewan Penyantun Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia/MSPI (sejak 1977)
Dosen Luar Biasa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
Pengajar Akademi Audiologi Indonesia,
Aktifis yayasan Kesehatan Telinga Bandung (sejak 1991),
Aktifis Jaringan Relawan Independen/JARI (sejak 1998),
   Aktifis Asia Society for Sound Hearing (sejak 2005),
Aktifis BaliRungu (2012)
 
Karya :
Legong Asmaradana (1996),
Topeng Sitarasmi (2005),
The Amazing Bedoyo Legong Calonarang bersama Retno Maruti (2006),
Legong Mintaraga (2007),
Topeng Panji dan Rengganis (2012)
 
Filmografi :
Under The Tree (2008)

You may also like...

Leave a Reply