Buya Hamka


Hamka
 
 
 
Hamka merantau dalam usia 16 tahun untuk belajar agama dan kemasyarakatan, antara lain dari H.O.S. Tjokroaminoto, H. Fachruddin, R.M. Suryopranoto dan A.R Sutan Mansur di Yogyakarta dan Pekalongan. Selain dikenal sebagai penulis, Buya Hamka, nama panggilannya, juga dikenal luas sebagai seorang ulama dari organisasi Muhammadiyah dan aktivis politik.
 
Sempat menjadi koresponden di harian Pelita Andalas. Ikut membantu menentang penjajahan Belanda pada tahun 1945 dengan pidato dan gerilya didalam hutan Medan, Sumatera Utara. Mulai aktif di organisasi Muhammdiyah tahun 1952, serta pernah menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). 
 
Tahun 1925, terbit bukunya yang pertama, Khatibul Ummah. Pada usia 19 tahun ia menunaikan ibadah haji, yang juga menjadi ilham bagi romannya Di Bawah Lindungan Ka’bah. Hamka telah mengarang 113 buku agama, filsafat dan kesustraan sejak 1925. Karangan panjangnya Pandangan Hidup Muslim tahun 1960 dan Dari Hati ke Hati tahun 1977, pernah dilarang terbit oleh Presiden Soekarno.
 
Pernah ditangkap oleh Presiden Soekarno karena khotbahnya pada hari raya di Masjid Agung Al-Azhar, yang mengatakan bahwa Islam dalam bahaya besar sebab komunis sudah leluasa, karena diberi kesempatan. Sempat pula dipenjarakan oleh Presiden Soekarno tahun 1964 dan 1966 karena dituduh pro Malaysia. Tetapi ketika mendengar berita meninggalnya Soekarno, air matanya menitik. Setelah sembahyang jenazah, ia berkata kepada jenazah Soekarno, “Aku telah doakan engkau dalam sembahyangku supaya Allah memberi ampun atas dosamu. Aku bergantung kepada janji Allah bahwa walaupun sampai ke lawang langit timbunan dosa, asal memohon ampun dengan tulus, akan diampuni-Nya”.
 
Setelah menjadi koresponden harian Pembela Islam di Bandung tahun 1930, dan penerbit serta redaktur majalah Al Mahdi di Makassar di tahun 1932, kemudian ia menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Masyarakat di Medan antara tahun 1936-1946. Ketika itulah romannya Di Bawah Lindungan Ka’bah muncul sebagai cerita bersambung dan menaikkan oplah majalah karena sangat memikat pembacanya.
  
Tahun 1977, Asrul Sani memfilmkan roman tadi. Roman pertamanya merupakan kisah nyata yang ditulisnya di dalam bahasa Minang berjudul Si Pulai. Menyusul kemudian Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1938), kumpulan cerita pendek Di Dalam Lembah Kehidupan (1940), Merantau ke Deli (1939) dan lainnya.
 
Penulis tafsir Al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya selama dipenjara ini, menikah dengan Hj. Siti Raham ia dikaruniai 10 orang anak. Setelah Hj. Siti Raham meninggal beberapa tahun, ia menikah dengan Hj. Siti Chadidjah atas persetujuan dan permintaan anak-anaknya (1973), dan dikaruniai sorang anak. Karena dianggap mempunyai pengetahuan yang luas, ia tempat orang bertanya. Sering pula ia diminta mengakad-nikahkan pasangan yang mau melayari bahtera rumah tangga. Rumahnya selalu penuh tamu.
 
Penyakit kencing manis, gangguan jantung, radang paru-paru, dan gangguan pada pembuluh darah membuat Buya harus dirawat di Bagian Perawatan Intensif (ICU) RS Pusat Pertamina, Jakarta sejak 21 Juli 1981. Sastrawan dan ulama terkenal serta berpengaruh di Asia Tenggara ini, akhirnya wafat pada hari Jumat, 24 Juli 1981, pukul 10.41 wib. Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah kusir, setelah disembahyangkan di Masjid Al-Azhar, Jakarta.
 
Atas jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2011.   
 
(Dari Berbagai Sumber)  

Nama :
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah
 
Lahir :
Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat,
17 Februari 1908
 
Wafat :
Jakarta, 24 Juli 1981
 
Pendidikan :
SD (tidak tamat)
Universitas Al Azhar, Kairo , Mesir (1960)
Universiti Bangsaan, Kuala Lumpur, Malaysia (1974)
 
Profesi :
Pemimpin Redaksi,
Penasehat Menteri P&K,
Pegawai Tinggi dan Penasehat Menteri Agama (1951-1960),
Dosen Universitas Muhammadiyah dan Universitas Dr.Mustopo di Jakarta,
Direktur Majalah Mimbar Utama dan Panji Masyarakat,
Imam Besar Masjid Al Azhar Jakarta,
Pengarang Roman,
Publisis bidang agama Islam
 
Karya-karya Novel :
Khatibul Ummah (1925),
Si Pulai,
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1938)
Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938),
Karena Fitnah (1938),
Tuan Direktur (1939), Merantau Ke Deli (1939),
Di Dalam Lembah Kehidupan (1940),
Keadilan Illahi (1941),
Dijemput Mamaknya (1949),
Menunggu Beduk Berbunyi (1950),
Lembah Nikmat (1959),
Pandangan Hidup Muslim (1960),
Cemburu (1961),
Dari Hati Ke Hati (1977)
 
Karya-Karya cerpen :
Di Dalam Lembah Kehidupan (1941),
Cermin Penghidupan (1962),
Kenang-Kenangan Hidup I-IV (1951-1952),
Ayahku (biografi, 1967) 
 
Penghargaan :
Gelar Pahlawan dari Presiden Republik Indonesia (2011)

You may also like...