Cok Simbara

Nama :
Ucok Hasyim Batubara
 
Lahir :
Tapanuli Selatan,
Sumatera Utara,
12 November 1953
 
Pendidikan :
SMA (tamat 1973),
LPKJ/IKJ Jurusan Teater (1973)
 
Filmografi :
Kugapai Cintamu (1977),
Gersang Tapi Damai (1977),
Kembang-Kembang Plastik (1977),
Para Perintis Kemerdekaan (1977),
Petualang-Petualang (1978),
Anak-Anak Buangan (1979),
Lima Cewek Jagoan (1980),
Ratapan Anak Tiri II (1980),
Bersemi Di Lembah Tidar (1981),
Symphonyku Yang indah (1981),
Nila di Gaun Putih (1981),
Djakarta 1966 (1982),
Anakku Terlibat (1983),
Kerikil-Kerikil Tajam (1984),
Merindukan Kasih Sayang (1984),
Arie Hanggara (1985),
Opera Jakarta (1985),
Balada Cewek Jagoan (1986),
Penyesalan Seumur Hidup (1986),
Terang Bulan di Tengah Hari (1987),
Jeram Cinta (1989),
Jangan Renggut Cintaku (1990),
Lagu Untuk Seruni (1991),
Saat Kukatakan Cinta (1991),
Zig Zag (1991),
Plong / Naik Daun (1991),
In The Name of Love (2008),
Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji (2009),
Kentut (2011),
Bait Surau (2012),
The Raid 2 : Berandal (2014),
Lamaran (2015)
 
Sinetron :
Di Timur Matahari (1989),
Trauma Marisa (1994-1995),
Kehangatan (1995),
Noktah Merah Perkawinan (1996),
Noktah Merah Perkawinan II (1997-1998),
Pariban Dari Bandung (1997),
Badai Kehidupan (1997),
Dua Pilihan (1997),
Bias-Bias kasih (1997-1998),
Cintailah Daku (1998-1999),
Jamin & Joan (2003)

Seniman Teater
 Cok Simbara
 
 
 
Lahir di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 12 November 1953 dengan nama lengkap Ucok Hasyim Batubara dari pasangan Hasyim Saleh Batubara dan Saribanun Nasution. Sejak kecil sebenarnya pria berkumis ini sudah mengenal dunia akting, ia sering bermain sandiwara-sandiwaraan bersama teman-temannya hanya saja saat itu ia tidak mengetahui apa itu akting.
 
Banyak orang sukses di suatu bidang padahal dia berada di sana secara tidak sengaja. Apa yang dialami Cok Simbara adalah salah satunya. Cok terjun ke film karena tidak sengaja. Selesai menamatkan SMA di kampung halamannya, tahun 1973, putra seorang pegawai negeri ini ingin meneruskan sekolah ke Jawa. Cok lalu berangkat ke Bandung untuk mendaftar di Jurusan Seni Rupa ITB. Tapi ia tidak diterima di sana.
 
Tak tahu harus berbuat apa, Cok lalu mendaftar ke LPKJ/IKJ, dan jadi mahasiswa Jurusan Teater. Tempaan seniman-seniman besar seperti Asrul Sani, Arifin C. Noer, Sjumandjaja, Wahyu Sihombing, Tatiek Maliyati dan lainnya, sedikit demi sedikit membentuk Cok jadi seniman, khususnya yang berhubungan dengan seni peran. Seperti kata pepatah, Tak kenal maka tak sayang, maka Cok pun akhirnya sayang dengan dunia seni yang telah dikenalnya itu. Pertama kali tampil dalam lakon Kucak Kacik bersama Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer di tahun 1975. Tapi sebelumnya, ia bergabung dengan Teater Kaki Lima pimpinan Tommy Soemarni. Bersama dengan rombongan itu, ia ikut main di night club Latin Quarter yang waktu itu di sekitar tahun 70-an cukup terkenal.
 
Lelaki Batak yang beristrikan perempuan asal Surabaya itu akhirnya bertekad untuk bertahan di film. Sudah belasan judul film diperankan. Bahkan memasuki era sinetron ini Cok juga tetap eksis. Ia antara lain bermain dalam sinetron-sinetron Wanita bersama aktris Meriam Bellina, Noktah Merah Perkawinan I & II, Hanya Satu Mutiara dll. Eksistensinya itu membuktikan bahwa Cok bukan saja pandai berakting, tapi lelaki Batak yang memiliki tutur kata lembut ini mampu beradaptasi dengan lingkungannya secara baik.Meski telah menjadi bintang, Cok tetap tidak lupa dengan masa lalunya, dunia teater. Namun sayang teater sudah berkurang drastis.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...