D. Zawawi Imron

Sastrawan
D. Zawawi Imron

Lahir di desa Batang-Batang, Sumenep, ujung timur pulau Madura, Jawa Timur, mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982.  Sejak tamat Sekolah Rakyat (SR, setara dengan sekolah dasar) dia melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep. Kumpulan sajaknya ‘Bulan Tertusuk Ilallang’ mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilallang. Kumpulan sajaknya ‘Nenek Moyangku Airmata’ terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985.

Pada 1990 kumpulan sajak ‘Celurit Emas’ dan ‘Nenek Moyangku Airmata’ terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995.  Buku puisinya yang lain adalah ‘Berlayar di Pamor Badik’ (1994), ’Lautmu Tak Habis Gelombang’ (1996), ’Bantalku Ombak Selimutku Angin’ (1996), ‘Madura, Akulah Darahmu’ (1999), dan ‘Kujilat Manis Empedu’ (2003). Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.

Masih berdomisili di Batang-Batang, Madura, tanah kelahiran sekaligus sumber inspirasi bagi puisi-puisinya. Menjadi Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri (Yogyakarta). Zawawi banyak berceramah Agama sekaligus membacakan sajaknya, di Yogyakarta, ITS. Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta. Juara pertama menulis puisi di AN-teve (1955). Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002).

Puisinya yang berjudul ‘Kelenjar Laut’, mendapat Hadiah Sastra Asia Tenggara yang diberikan oleh Kerajaan Malaysia di Kuala Lumpur. Hadiah diserahkan oleh Wakil PM Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yassin. Puisi ini merupakan hasil pengembaraan rohaniahnya dalam memandang ‘orang kecil’ dan cinta tanah air. Bagimya, hadiah ini mendorong dirinya untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan kreatifitas meski dirinya dinilai telah senja.

“Usia tua bukanlah halangan untuk berkarya. Asalkan kita tetap konsisten merenung dan menyegarkan pikiran. Hidup ini anugerah Tuhan yang harus dimanfaatkan unyuk berolah pikir dan berolah rasa. Puisi bagi saya adalah salah satu cara menghargai umur dan kehidupan,” katanya. Penulis yang pernah membaca puisi dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002) ini, menikah dengan Maskiyah, dikaruniai dua orang anak, Zaki Imron dan Nikmah Ilahi.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
D. Zawawi Imron

Lahir :
Batang-batang, Sumenep, Madura, Jawa Timur, 1945

Pendidikan :
Sekolah Rakyat (1957),
Pesantren Lambicabbi, Gapura, Sumenep, Madura, Jawa Timur

Aktifitas lain :
Ketua Yayasan Pesantren A-Miftah, Madura,
Jawa Timur,
Pengasuh Pesantren Al Kirom, Madura, Jawa Timur,
Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Budaya Ilmu Giri, Imogiri, Bantul,  Yogyakarta,
Dosen tamu Pascasarjana UNESA Surabaya, UNHAS Makassar & UNBRAW Malang

Karya :
Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978),
Bulan Tertusuk Ilalang (1981) Nenek Moyangku Airmata (1985),
Celurit Emas (1986),
Berlayar di Pamor Badik (1994),
Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996),
Lautmu Tak Habis Gelombang (1996),
Madura Akulah Darahmu (1999),
Kujilat Manis Empedu (2003),
Kelenjar Laut (2008),
Jalan Hati, Jalan Samudera (2010)

Filmografi :
Penjuru 5 Santri (2015)

Pencapaian :
Buku Puisi Nenek Moyangku Airmata mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan  & Kebudayaan (1985),
Hadiah dari Balai Pustaka untuk buku puisi Celurit Emas (1986),
Hadiah Utama penulisan puisi ANTV dalam rangka 50 tahun Kemerdekaan RI (1995),
Hadiah Sastra Asia Tenggara (2007/2008)

You may also like...