Dedy Mizwar

 Nama :
Deddy Mizwar
 
Lahir :
Jakarta, 5 Maret 1955
  
Pendidikan :
LPKJ/IKJ (tidak tamat)
 
Kegiatan Lain :
Anggota DKJ Komite Film
 (1994-1998),
Wakil Sekjen Parfi
(1980-1985),
Anggota BP2N (sejak 2004),
Anggota Dewan Pertimbangan Organisasi Parfi (2006-2010),
Ketua BP2N (2007),
Pendiri dan Pemimpin Production House PT. Demi Gisela Citra Sinema,
Wakil Gubernur Jawa Barat (2013-2018)
 
Penghargaan :
Aktor Terbaik Festival Teater Remaja,
Aktor Terbaik FFI 1986 dalam film Arie Hanggara,
Pemeran Pembantu Tercaik FFI 1986 dalam film Opera Jakarta,
Aktor Terbaik FFI 1987 dalam film Naga Bonar,
Pemeran Pembantu Terbaik FFI 1987 dalam film Kuberikan Segalanya,
Pemeran Pembantu Terbaik FSI 1996 dalam sinetron Vonis Kepagian,
Aktor Terbaik dan Sutradara Terbaik FSI 1999 dalam sinetron Mat Angin,
Panasonic Lifetime Achievement Award 2006,
Aktor terbaik dalam film Naga Bonar Jadi 2 pada FFI 2007,
Aktor Terbaik Indonesian Movie Award 2008,
   Lifetime Achievement Award dari Festival Film Bandung (2011)
 
Filmografi :
Cinta Abadi (1976),
Kekasih (1977),
Ach Yang Bener (1979),
Bukan Impian Semusim (1981),
Sorta (1982),
Sunan Kalijaga (1983),
Hati Yang Perawan (1984),
Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1985),
Kerikil-Kerikil Tajam (1985)
Naga Bonar (1986),
Arie Hangara (1986),
Opera Jakarta (1986),
Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986),
Cintaku Di Rumah susun (1987),
Bilur-Bilur Penyesalan (1987),
Ayahku (1987),
Omong Besar (1988),
Kipas-Kipas Cari Angin (1989),
Lupus II (1989),
Putihnya Duka Kelabunya Bahagia (1989),
Perempuan Kedua (1990),
Jual Tampang (1990),
Curi-Curi Kesempatan (1990),
Dua Dari Tiga Lelaki (1990),
Antri Dong (1990),
Plong/Naik Daun (1991),
Kuberikan Segalanya (1992),
Naga Bonar Jadi 2 (2007),
Ketika Cinta Bertasbih (2009),
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009),
Cinta 2 Hati (2010),
Bebek Belur (2010),
Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010),
Kentut (2011),
Negeri Surga Katanya (penampilan khusus, 2012),
Bangun Lagi Dong Lupus (2013),
Sayap Kecil Garuda (2014)
 
Sinetron :
Abu Nawas (1993),
Bengkel Bang Jun (1994),
Duren-Duren (1994),
Antara Jakarta-Perth (1996),
Pengembara (1996),
Sang Juragan (1996)
Mat Angin (1997),
Vonis Kepagian,
Lorong Waktu,
Kiamat Sudah Dekat (2003),
Ketika (2005),
Nagabonar  (2007),
Para Pencari Tuhan
 (2006-2007, 2009-2012)

Seniman Teater
  Deddy Mizwar
 
Sutradara, produser, sekaligus aktor kawakan, Deddy Mizwar, dikenal aktif memproduksi film dan sinetron bernuansa dakwah dengan pesan moral dan agama yang ringan dan menghibur. Aktor senior pemenang 4 piala Citra dan 2 piala Vidya ini sudah berpengalaman membuat sejumlah sinetron bermuatan dakwah dari serial pengembara, Mat Angin sampai Lorong Waktu.
 
Kecintaan aktor asli Betawi ini pada dunia seni tidak terbantahkan lagi. Buktinya, selepas sekolah, ia sempat berstatus pegawai negeri pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Namun ayah dari 2 anak ini hanya betah 2 tahun saja sebagai pegawai karena ia lebih gandrung main teater ia bergabung di Teater Remaja Jakarta ditahun 1970-an. Selebihnya, jalan hidupnya banyak ia aktifkan pada dunia seni, lebih tepatnya seni peran.
 
Darah seni itu rupanya mengalir deras dari ibunya, Ny. Sun’ah yang pernah memimpin sanggar seni Betawi. Akhirnya, ia dan ibunya kerap mengadakan kegiatan seni di kampung sekitarnya. “Pertama kali manggung, saat acara 17 Agustus-an di kampung. Saya bangga sekali waktu itu, karena ditepuki orang sekampung. Saya pun jadi ketagihan berakting”, kenang Deddy.
 
Kecintaannya pada dunia teater telah mengubah jalan hidupnya. Beranjak dewasa, sekitar tahun 1973, Deddy mulai aktif di Teater Remaja Jakarta. Lewat teater inilah bakat akting Deddy mulai terasah. Deddy pernah terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater Remaja di Taman Ismail Marzuki. Tidak sekedar mengandalkan bakat alam, Deddy kemudian kuliah di LPKJ, tapi Cuma dua tahun.
 
Memulai karier di film pada 1976, Deddy bekerja keras dan mencurahkan kemampuan aktingnya, di berbagai film yang dibintangi. Pertama kali main film, dalam Cinta Abadi tahun 1976 yang disutradarai Wahyu Sihombing, dosennya di LPKJ, dia langsung mendapat peran utama. Puncaknya, perannya di film Naga Bonar kian mendekatkannya pada popularitas. Kepiawaiannya berakting membuahkan hasil dengan meraih 4 Piala Citra sekaligus dalam film Arie Hanggara tahun 1986, Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam film Opera Jakarta tahun 1986, Aktor Terbaik FFI dalam film Naga Bonar tahun 1987, dan Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam film Kuberikan Segalanya di tahun 1987.
 
Di awal tahun 90-an, karir Deddy Mizwar mencapai puncak. Melalui kekuatan aktingnya yang mengagumkan, popularitas ada dalam genggamannya. Meski namanya semakin populer, Deddy merasa hampa. Di tengah rasa hampa, pikirannya membawanya kembali pada masa kecilnya. Ia tumbuh di tengah nuansa religius etnis Betawi. Ia terkenang suasana pengajian di surau yang tenang dan sejuk. Jiwanya ingin kembali mencicipi suasana teduh di masa kecil itu.
 
Ia meyakini bahwa hidup ini semata-mata beribadah kepada Allah. Sejak itu, Deddy belajar agama secara intens. Kini segala hal harus bernilai ibadah bagi Deddy. Termasuk pada bidang yang digelutinya yakni dunia perfilman dan sinetron.
 
Suami dari Giselawati ini kemudian memutuskan untuk terjun langsung memproduksi sinetron dan film bertemakan religius sebagai wujud ibadahnya kepada Allah. Didirikanlah PT Demi Gisela Citra Sinema tahun 1996. Tekadnya sudah bulat kendati pada perkembangan berikutnya banyak rintangan dan hambatan ditemui.
 
Ketika itu sinetron religius Islam masih menjadi barang langka dan kurang bisa diterima pihak stasiun televisi. Kondisi ini tidak menyurutkan langkahnya. Maka dibuatlah sinetron Hikayat Pengembara yang ditayang di bulan Ramadhan. Usahanya berbuah hasil. Rating sineton ini cukup menggembirakan. Setelah itu hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron religius bulan Ramadhan. “Berjuangnya sungguh keras tapi setelah itu semua orang bisa menikmati”, kata Deddy bangga.
 
Aktor yang telah bermain film sejak tahun 1976 dan telah bermain dalam sekitar 75 fim dan 150 sinetron ini mengakui bahwa produk sinetron yang bernafaskan religius Islam sulit mendapatkan tempat di stasiun televisi selain di bulan Ramadhan. Hal ini disebabkan stasiun televisi terlampau under estimate di samping memang tidak banyak sineas yang mau membuat tayangan sinetron religius di luar bulan Ramadhan.
 
Dalam pandangan Deddy Mizwar, film merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat luas termasuk kalangan non muslim. “Saya contohkan sinetron Lorong Waktu yang ternyata diminati pula oleh warga non muslim. Bahkan, saat ini Lorong Waktu diputar ulang diluar bulan Ramadhan hingga saya berkesimpulan sinetron atau film dakwah tak harus identik dengan bulan Ramadhan”, katanya. Dengan kata lain, masyarakat rupanya mau menerima dan menyambut hangat tayangan religius di luar Ramadhan.
 
Ke depan, Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) ini akan terus berusaha konsisten memproduksi film dan sinetron religius. Ia juga menyarankan agar umat Islam mendirikan stasiun televisi sendiri, sehingga umat Islam dapat mengisi dan mewarnai acara-acara televisi. Ia melihat potensi kearah itu cukup besar terutama dari kalangan sineas muda dan mahasiswa.
 
Sempat maju menjadi calon Presiden RI pada kampanye pemilihan Presiden 2009-2014 lalu, ketika ditanyakan alasannya, ia mengatakan hanya untuk memberikan pembelajaran politik yang selama ini terjebak pada budaya politik transaksional, yang menyebabkan banyak politisi yang menjadi ‘kutu loncat’ dari satu partai kepartai yang lain. 
 
Pada hari Kamis, 13 Juni 2013, ia diangkat menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat (2013-2018), bersama Ahmad Heryawan yang menjadi Gubernur Jawa Barat setelah memenangi pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013.  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...