Desainer Grafis

Nama :
Syahrinur Prinka
 
Lahir :
Bogor, Jawa Barat,
27 Februari 1947
 
Wafat :
Desember 2004
 
Pendidikan :
SD di Kebon Sirih (1959),
SMP Perguruan Tjikini
 (tamat 1962)
SMA Perguruan Tjikini
 (tamat 1965),
Sarjana Muda Jurusan Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi  Bandung (tamat 1972),
Sarjana S1 Jurusan Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi  Bandung ((tamat 1974)
 
Karier :
Bekerja di  Win Advertising, Matari Advertising &
Sanggar Pratiwi,
Pengajar desain grafis di FSRD IKJ (1976-2003),
Desainer, Ilustrator & Redaktur Artsitik majalah Tempo
(1977-1994),
Kepala Bagian Desain pada situs TEMPO Interaktif
 (1994-1995)
 
Aktifitas Lain :
Salah satu pendiri Persatuan Seniman Gambar Indonesia (Persegi),
Perintis Ikatan Perancang Grafis Indonesia,
Anggota Asosiasi Desainer Grafis Indonesia
 
Penghargaan :
Penghargaan Kebudayaan Kategori Pencipta, Pelopor dan pembaharu (2015)
 
 
 
 
 
 

Seniman Grafis
Syahrinur Prinka
 
 
 
Anak ke dua dari tiga bersaudara dari keluarga Minang ini, lahir di Bogor, Jawa Barat, 27 Februari 1947. Masa kecilnya di jalaninya dengan berpindah-pindah bersama keluarga di beberapa kota di Sumatera Utara karena mengikuti tugas ayahnya sebagai polisi. Sejak kecil ia di kenal gemar menggambar, membaca dan mengoleksi komik.
 
Masa sekolahnya dilaluinya di Jakarta, SD di Kebon Sirih (1959), SMP Perguruan Tjikini (tamat 1962) dan SMA Perguruan Tjikini (tamat 1965). Tahun 1967, ia melanjutkan kuliah di ITB, Jurusan Mesin, untuk memenuhi keinginan ayahnya walaupun minatnya ke seni rupa. Namun atas keinginannya yang kuat untuk belajar seni rupa, ibunya akhirnya merestui dan medukung keinginannya. Kuliahnya di jurusan Mesin yang telah berjalan setahun ia tinggalkan, untuk kemudian masuk ke jurusan Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (1968), sampai akhirnya meraih gelar Sarjana Muda (1972) dan Sarjana S1 (1974). Selama menjadi mahasiswa seni rupa, ia aktif sebagai Ketua Studi Teater Mahasiswa Seni Rupa (STEMA Seni Rupa)
 
Setelah lulus ia tidak langsung mengajar, tetapi sempat bekerja antara lain di Win Advertising, Matari Advertising dan Sanggar Pratiwi. Baru pada tahun 1976, ia mulai mengajar di LPKJ/IKJ atas ajakan Kaboel Suadi (alm), perupa grafis yang juga merupakan gurunya ketika di ITB dan sahabatnya, Hildawati Soemantri. Mata kuliah yang di ajarkannya adalah ilustrasi dan Desain Grafis yang merupakan mata kuliah Studio Desain.
 
Sebagai seorang pendidik visioner, ia selalu memikirkan kemajuan bidang desain grafis ke masa depan. Melalui komitmen yang tinggi, ia kemudian mendirikan studio desain grafis Fakultas Seni Rupa LPKJ pada tahun 1977, kemudian berkembang menjadi Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), yang merupakan pendidikan desain grafis pertama di Jakarta pada waktu itu. Di samping sebagai pendiri, ia juga penggagas pengembangan DKV menjadi tiga peminatan yakni Desain Grafis, Ilustrasi Animasi dan Multi Media pada tahun 1990-an.
 
Sebagai pengajar, Syahrinur Prinka menggunakan pendekatan tidak hanya pada kemampuan skill, kepekaan rasa dan wawasan saja, tapi juga bagaimana mengolah elemen dengan efektif dan menarik, serta mampu dengan cerdik melihat berbagai aspek yang bersinggungan dengan visualisasi konsep berpikir. Pengajarannya tentang ‘tata bahasa visual’ dilakukan dengan berbagai pendekatan, gagasan, gaya, media serta teknik, ‘bermain-main’ ‘mencoba-coba’, ‘mengulang-ulang’. Dalam proses eksplorasi kemampuan analisis dan kritis dibicarakan dalam satu team work. Hal ini ditekankan agar setiap mahasiswa dapat mengembangkan minat dan potensinya masing-masing.
 
Setelah bertemu Goenawan Muhamad, Pemimpin Redaksi majalah Tempo, saat kumpul-kumpul di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1976, ia sering di minta untuk mengisi ilustrasi cover majalah Tempo dan akhirnya pada tahun 1977, ia resmi bergabung dengan majalah mingguan itu sebagai desainer dan illustrator hingga menjadi Redaktur Artistik.
 
Kepiawaiannya membuat gambar ilustrasi yang menarik dan mampu memberi makna komunikasi yang mudah dipahami diselesaikan dengan kemampuan teknik gambar yang luar biasa, ditampilkan dengan garis-garis apik, titik-titik yang rapi, halus dan berkarakter serta efektif, cermat dan struktural dalam menggambarkan objek. Gagasannya yang imajinatif kadang terlihat janggal bahkan liar, namun dengan penempatan objek yang tepat dalam ruang, mampu merangsang imajinasi pemirsanya. Di sisi lain gambar ilustrasinya tampil dengan suasana yang tenang, tertib dalam penerapan setiap unsurnya, cara gambar, ukuran, antar hubungan objek yang diselesaikan dalam konfigurasi atau komposisi yang tidak biasa. Ciri lainnya adalah kekuatan bermain dalam pengembaraannya berimajinasi melalui perenungan yang matang dan diaktualisasikan melalui gambar yang mengajak pemirsanya merasakan kebebasan berinteraksi dalam memaknai objek.
 
Sebagai ilustrator, peran Syahrinur Prinka di majalah Tempo tampak pada rubik Catatan Pinggir (Caping) yang ditulis oleh Goenawan Mohamad, serta rubik kolom. Pada ilustrasi Caping yang di buatnya semula memang untuk dapat memberi nuansa pada tulisan Goenawan Muhamad, namun pada akhirnya antara tulisan dan ilustrasi dapat berdiri sendiri dengan kekuatannya masing-masing, tapi hal ini justru saling mendukung.
 
Ketika majalah Tempo dibredel di tahun 1994 pada masa pemerintahan Orde Baru. Ia tetap eksis dalam kegiatan perwajahan media, ini dapat di lihat dari perannya dalam mengepalai bagian desain untuk membuat tampilan visual pada situs Tempo Interaktif, sementara itu Priyanto Soenarto mengisi kartun pada situs tersebut. Setahun setelah majalah Tempo dibredel, Syahrinur Prinka kembali mengajar dan lebih banyak memfokuskan perhatiannya pada penataan sistem pendidikan, terutama bagaimana mengembangkan pendidikan yang di kaitkan dengan pemangku kepentingan dan perkembangan teknologi dewasa ini, terlebih setelah ia berkunjung ke Jerman, melihat perkembangan industri advertising, penerbitan dan percetakan yang sudah memasuki era teknologi digital, pada tahun 1990-an.
 
Di bidang organisasi profesi, Syahrinur Prinka juga tercatat pernah membentuk Persatuan Seniman Gambar Indonesia (Persegi) bersama teman-temannya dengan membuat pameran-pameran gambar, membawa suatu pandangan baru tentang penggambar sebagai seniman yang punya tempat dan perlu diperhitungkan dalam dunia seni rupa. Ikut juga merintis Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI), yang didirikan pada tanggal 24 September 1980, merupakan suatu organisasi yang digagas untuk wadah para desainer grafis dalam mengaktualisasikan eksistensi profesi di mata masyarakat melalui karya-karya desain grafis. 7 Mei 1994, IPGI berakhir, organisasi tersebut berubah nama menjadi Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Namun ia tidak sepenuhnya aktif di organisasi tersebut dan memilih berkarir dan berkarya sebagai penggambar di Jakarta.
 
Syahrinur Prinka terpaksa mengurangi kegiatannya baik sebagai pengajar maupun sebagai desainer-ilustrator professional sejak terkena serangan jantung dan stroke berat pada tahun 2001. Pada tahun 2003, kondisinya semakin menurun dan mengakibatkan ia tidak dapat berbicara. Setahun kemudian, tepatnya bulan Desember 2004, ia meninggal dunia. Dedikasinya bagi dunia pendidikan seni rupa terutama secara khusus berhasil menempatkan peran dan eksistensi DKV FSR-IKJ menjadi yang terdepan dalam dunia pendidikan desain grafis di Indonesia
 
(19 Tokoh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta 1970-2010)
 

You may also like...

Leave a Reply