Diah Hadaning


Diah Hadaning
 
 
 
Lahir di Jepara, Jawa Tengah, 4 Mei 1940. Berlatar belakang pendidikan PSA Semarang. Serius menulis sejak 1970-an, ia seangkatan dengan Piek Ardianto Soepriadi dan Rita Oetoro. Puisinya yang pertamanya termuat di Harian Simfoni (1973). Sejak itu ia rajin berkarya, mulai dari Yogyakarta, Semarang, sampai akhirnya menjelajah kota Jakarta. Namanya kerap menghiasi berbagai media massa cetak sejak 1980-an. Puisi-puisi, cerpen, novel dalam wujud cerita bersambung maupun artikel terus mengalir.
 
Pernah bekerja di Perwakilan Departemen Sosial, Semarang. Menjadi guru di Sekolah Tuna Netra, Semarang. Menjadi redaktur mingguan Swadesi di Jakarta (1987-1998), namun koran itu berhenti terbit pada 1999. kemudian menjadi penulis dalam bahasa daerah (Jawa ) berupa gurit (puisi), cerkak (cerpen) dan naskah lakon tradisional.
 
Pada tahun 1996 mendirikan Komunitas Sastra Indonesia. Ia juga membangun ’Warung Sastra Diha’, sebuah komunitas dialog jarak jauh yang melayani berbagai ‘urusan hidup‘ khususnya sastra. Warung tersebut masih tetap eksis sampai saat ini.
 
Kumpulan sajaknya antara lain : Surat dari Kota, Ballada Sebuah Nusa (1979), Kabut Abadi (bersama I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, 1979), Jalur-Jalur Putih (1980), Pilar-Pilar (bersama Putu Arya Tirtawirya, 1981), Kristal-Kristal (bersama Dinullah Rayes, 1982), Nyanyian Granit-Granit (1983), Balada Sarinah (1985), Sang Matahari (1986) dan Nyanyian Hening Senja Kala (bersama Rita Oetoro, 1996), Gong Bolong (bersama para penyair Depok, 2008)
 
Telah menerbitkan sekitar 35 buah buku, 11 di antaranya merupakan antologi puisi tunggal, 3 buku manuskrip antologi puisi bertema reformasi, masing-masing berisi 50 pucuk sajak,  serta novel. Tema-tema yang digarap dalam puisi Diha, nama panggilannya, cukup luas, antara lain bercerita tentang perjalanan, perjuangan wanita, lingkungan hidup, dan kisah anak manusia dari kawasan manapun.
 
Dalam bukunya yang bertajuk, Proses Kreatifku dalam Pesona Etika-Estetika dan Mistika, Diha membeberkan segala hal ihwal yang berkenaan dengan perjalanan kreatifnya sebagai penyair. Karya-karyanya dapat ditemukan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM). Usaha pendokumentasian tersebut merupakan penghargaan tak ternilai baginya. Pasalnya dengan demikian karya-karyanya dapat dilestarikan.
 
Atas dedikasinya yang tinggi di bidang sastra, telah banyak penghargaan yang telah ia peroleh antara lain, Manuskrip Surat dari Kota yang memuat 100 puisi mendapatkan Hadiah Gapena dari negeri jiran Malaysia (1980). Puisinya tentang pelestarian hutan mendapatkan penghargaan dari Yayasan Ebony yang diketuai oleh Ibu Pertiwi Hasan (2003). Lembaga Pusat Pengkajian Sastra dan Budaya Jawa, di Solo, memberinya anugerah sebagai penyair yang melestarikan budaya Jawa, karena memang banyak puisinya yang berakar pada budaya Jawa.
 
Pernah Ia penasaran dan bertanya kepada panitia, mengapa ia berhasil menang dalam kompetisi antar negara itu. Penjelasan juri antara lain : “Kesederhanaan bahasa dan isinya tentang perjuangan wanita merupakan kekuatan utama dibanding karya sastrawan lain.”
 
Sebagai penyair yang produktif, tentu saja tidak lepas dari berbagai macam kritik. Diah sendiri menyatakan terbuka untuk dikritik. Ia berpendapat, bahwa kritik itu ada bermacam-macam. Ada yang simpati, ada yang mencaci. Ada yang mendorong, ada yang menghantam begitu saja. Baginya semua itu adalah suatu resiko. “Jadi harus diterima secara wajar, bahwa kritik yang pahit hendaklah dijadikan obat dan kritik yang manis atau yang sifatnya hanya membumbung hati itu dijadikan tonik. Sehingga akan dapatlah ditarik hikmah,” ujarnya.
 
Pada 7 Juli 2010 silam, Diah Hadaning meluncurkan buku antologi puisinya ’700 Puisi Pilihan Perempuan yang Mencari’  terbitan Yayasan Japek dan Pustaka Yashiba. Buku ini berisikan puisi-puisinya yang telah dipublikasikan memalui media masa maupun diterbitkan dalam berbagai antologi, baik secara tunggal, duet maupun bersama penyair lain. Bersamaan dengan acara tersebut, digelar pula acara perayaan ulang tahunnya secara sederhana di PDS HB Jassin . Dalam acara tersebut, Diah Hadaning mendapat penghargaan Penulis Antologi tertebal pada usia tertua 700 halaman pada usia 70 tahun  dari Museum Rekor Indonesia.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

Nama :
Diah Hadaning
 
Lahir :
Jepara, Jawa Tengah,
 4 Mei 1940
 
Pendidikan :
SPSA Semarang
 
Karier :
Karyawan Perwakilan Departemen Sosial, Semarang,
Guru di sekolah Tuna Netra,
Redaktur Mingguan Swadesi, Jakarta (1987-1998),
 
Aktifitas Lain :
Mendirikan Komunitas sastra ’Warung Sastra Diha’
 (1996 s/d sekarang),
Anggota Komite sastra DKJ (2009-2012)
 
Penghargaan :
Manuskrip Surat dari Kota mendapatkan Hadiah Gapena Malaysia (1980),
Puisi tentang pelestarian hutan mendapatkan penghargaan dari Yayasan Ebony (2003),
Anugerah penyair yang melestarikan budaya Jawa, dari Lembaga Pusat Pengkajian Sastra dan Budaya Jawa, di Solo,
Penghargaan MURI sebagai Penulis Antologi tertebal pada usia tertua 700 halaman pada usia 70 tahun (2010)
 
Karya :
Surat dari Kota (1979),
 Ballada Sebuah Nusa (1979),
Kabut Abadi
(bersama I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, 1979),
Jalur-Jalur Putih (1980),
Pilar-Pilar
 (bersama Putu Arya Tirtawirya, 1981),
Kristal-Kristal  (bersama
Dinullah Rayes, 1982),
Nyanyian Granit-Granit (1983),
Balada Sarinah (1985),
Sang Matahari (1986),
Nyanyian Hening Senja Kala (bersama Rita Oetoro, 1996), Gong Bolong (bersama para penyair Depok, 2008),
Kreatifku dalam Pesona Etika-Estetika dan Mistika,
Antologi 700 Puisi Pilihan Perempuan yang Mencari (2010)

You may also like...