Dicky Zulkarnaen

Nama :
Iskandar Zulkarnaen
 
Lahir :
12 Oktober 1939
 
Wafat :
8 Maret 1995
 
Pendidikan :
ATNI (1957)
 
Karier :
Manager Nite Club Hotel Pardede Jakarta,
Ketua II Parfi,
Ketua Umum Parfi
 
Prestasi :
Pemain harapan PWI untuk film Si Pitung dan Salah Asuhan,
Pemeran pembantu terbaik FFI 1973 untuk film Pemberang.
 
Filmografi :
Sehelai Merah Putih (1960),
Asmara dan Wanita (1961),
Kami Bangun Hari Esok (1963),
Ekspedisi Terachir (1964),
Matjan Kemajoran (1965),
Minah Gadis Dusun (1966),
Gadis Kerudung Putih (1967),
Nji Ronggeng (1969),
Si Pitung (1970),
Banteng Betawi (1971),
Pemberang (1972),
Laki-Laki Pilihan (1973),
Bandung Lautan Api (1974),
Cinta Abadi (1976),
Diana (1977),
Si Ronda Macan Betawi (1978),
Janur Kuning (1979),
Si Pitung Bangkit Kembali (1981),
Pasukan Berani Mati (1982),
Kawin Kontrak (1983),
Cinta Kembar (1984),
Gadis Hitam Putih (1985),
Perawan Di Sarang Sindikat (1986),
Pernikahan Dini (1987),
Kristal-Kristal Cinta (1989),
Zig-zag (1991)
 
Sinetron :
Bengkel Bang Jun (1994),
Tiga Duda (1994)
 


 Dicky Zulkarnaen
 
 
 
Tokoh yang telah banyak membangun citra perfilman nasional dan pemeran film ‘Jagoan Betawi’ dialah Iskandar Dicky Zulkarnaen. Ia memulai debut di dunia perfilman pada tahun 1959, dua tahun setelah lulus SMA. Ketika itu ia masih bekerja sebagai karyawan dan figuran film. Baru pada tahun 1973, ia mendapat tawaran serius dalam film Salah Asuhan, One Way Ticket dan Keris Pusaka di tahun 1976, Krakatau (1977) dan Si Ronda Macan Betawi (197. Beberapa kali meraih penghargaan antara lain sebagai pemain harapan dari PWI dalam film Si Pitung dan Salah Asuhan, serta piala Citra kategori peran pembantu terbaik dalam film Pemberang. Sebagian besar film-film yang diperankannya adalah jagoan silat.
 
Dicky yang pernah menjadi Ketua II Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), tetapi mundur pada tahun 1977 karena tidak sepaham dengan ketuanya, Soedewo, memang dikenal berpendirian keras. Ia misalnya, pernah mengkritik penyelenggaraan Festival Film Indonesia di Jawa Barat pada tahun 1985 yang seperti di tulis TEMPO, menyebut FFI sebagai pesta koruptor bukan pesta orang film.
 
Asrul Sani, sutradara dan penulis skenario yang pernah mengarahkan Dicky, menilai Dicky sebagai aktor yang konsisten pada profesinya. Dicky juga dikenal supel, mudah menyesuaikan diri dengan segala lapisan masyarakat. Lulus dari SMA ia langsung masuk ke ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) pada tahun 1957. Ia juga menjadi anggota Teater Astek tahun 1967 dan anggota bersama sang istri Mieke Wijaya, Dicky menjadi anggota Teater Populer ketika pertama kali didirikan pada 1959-1969 mulai dari karyawan dan peran-peran kecil sebagai figuran.
 
Hampir seluruh film yang dimainkannya, Dicky memerankan tokoh jagoan. Ia telah main dilebih 70 film layar lebar. Dari seluruh film yang telah dimainkannya, Si Pitung memang memberi kesan tersendiri buat Dicky. Meski lewat film Pemberang (1972), ia menyabet pengahargaan Piala Citra tahun 1973 untuk pemeran pembantu pria terbaik.
 
Dicky ikut membesarkan Parfi. Ia tidak menghancurkan organisasi perfilman itu ketika ia berselisih pendapat dengan Soedewo, Ketua Umum Parfi saat itu. Ketika itu ia sebagai Ketua II, mengundurkan diri menjelang kongres Parfi 1977. Tahun 1986, Dicky maju mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Parfi. Dan ketika kongres dilangsungkan di Senayan, ia terpilih dengan suara terbanyak, mengalahkan Ratno Timoer.
 
Tahun 1994, tepatnya bulan Maret, Dicky menjalani operasi jantung yang dilakukan di RS Elizabeth, Singapura. Sepulangnya dari sana, Dicky merasa sehat.. Namun beberapa waktu kemudian kesehatannya benar-benar merosot akibat komplikasi dengan penyakit lain yang diderita olehnya. Dia sempat dirawat beberapa waktu lamanya di RS Pusat Pertamina, Kebayoran, Jakarta Selatan.
 
Sejak itu, Dicky Zulkarnaen, praktis di bawah pengawasan dokter. Dicky sudah sempat sehat beberapa waktu, dan sesekali tampak hadir di markas Gabungan Artis Nusantara (GAN) Bendungan Hilir, Jakarta. Tetapi setelah itu kondisinya memburuk lagi, sampai akhirnya dia harus menjalani perawatan kembali di RS Pertamina Jakarta.
 
Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Dia dipanggil keharibaanNya dengan tenang, akhirnya dunia perfilman kehilangan seorang tokohnya Dicky Zulkarnaen yang akrab dipanggil bang Dicky, Jumat 10 Mei 1995 sekitar pukul 08.20 wib meninggal dunia. Almarhum di makamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Almarhum meninggalkan seorang istri, Mieke Wijaya dan empat orang anak, satu orang putra dan tiga putri seorang diantaranya adalah artis Nia Dicky Zulkarnaen .***
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply