Didi Chia


Pianis
Didi Chia
 
 
 
 
Bernama asli Arthur Frederik Chia. Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 12 Agustus 1933. Di kalangan musisi jazz Indonesia akrab dipanggil dengan nama Didi Chia. Mulai belajar piano sejak berusia tujuh tahun pada seorang guru piano klasik yang bernama Ny. Stien de Vos, namun terpaksa berhenti ketika terjadi Perang Dunia ke II. Ia dikenal memiliki pendengaran yang tajam, untuk memainkan lagu ia cukup sekali mendengarkannya.  
 
Usai Perang Dunia II, orang tuanya kembali mencarikan seorang guru piano, namun rupanya ia tidak tertarik belajar piano klasik dan lebih suka memainkan boogie-woogie dan blues. Karena kemampuannya di jenis musik tersebut ia dijuluki ‘raja’ boogie-woogie Indonesia.
 
Tahun 1954, ia dikirim ke Jakarta untuk bersekolah oleh orang tuanya, tapi ia tidak mau dan justru membeli sebuah sepeda yang di gunakannya untuk berkeliling kota Jakarta menonton semua film yang sedang diputar di bioskop. Pada awal tahun 1960-an ia bertemu dengan Bill Saragih lalu mereka membentuk grup musik bersama Herman Tobing dan Ivo Nilakresna sebagai penyanyi.
 
Mulai berkiprah di dunia jazz Indonesia sejak tahun 1962, ketika Hotel Indonesia baru saja dibuka. Bersama Bill Saragih dan Jack Lesmana  ia bermain tetap di hotel tersebut. Bersama Bill Saragih, ia juga membentuk kelompok The Jazz Riders. Anggota Jazz Riders ketika itu adalah Didi Chia, Hanny Joseph, Tess Lopis, John Apitule, dan Sutrisno. John Apitule kemudian pada akhirnya digantikan oleh Oele Pattiselanno dan Perry Pattiselanno. Semantara Bob Tutupoly tampil sebagai penyanyinya
 
Tahun 1970-an, bersama dengan Jack Lesmana (gitar,bas), Benny Mustapha (drums), Benny Likumahuwa (trombone, bass), dan Oele Pattiselano (gitar), bergabung dalam sebuah kelompok yang khusus memainkan musik gaya Dixieland,  di Hotel Borobudur, Jakarta. Ia juga pernah membentuk grup Mellow Tones bersama Oele Pattiselanno (gitar), Jeffrey Tahalele (bass), Perry Pattiselanno (bass)  dan Douglas Verga (drum). Sayangnya grup ini tak berusia lama karena Douglas, yang berkebangsaan Amerika, kembali ke kampung halamannya.
 
Senantiasa berpenampilan tenang jika memainkan tuts piano, tercatat pernah merilis beberapa album rekaman, misalnya Rest & Rilex, yang diproduksi oleh PT. Pramaqua dengan Karim Suweileh sebagai produser musik sekaligus pemainnya. Ia juga pernah tampil dalam beberapa rekaman diantaranya bersama Margie Segers (Semua Bisa Bilang), Rien Djamain (Api Asmara), Kiboud Maulana (Instrumental Hits, Musik Santai), Mus Mualim (Mus Mualim Presents Swing Jazz), Various Artist (From Indonesia With Love), dan masih banyak lagi.
 
Tahun 2004, Didi tampil dalam acara penghormatan untuk dirinya yang digelar oleh para musisi jazz di Bug’s Cafe, Jakarta Selatan, meskipun pada saat itu dirinya dalam keadaan sakit setelah terkena stroke pada tahun 2003. Atas prestasi dan kontribusinya dalam konstelasi musik jazz Indonesia, pada 2 Maret 2007, ia mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement dari Java Jazz Festival. Tak lama berselang Didi Chia wafat pada 9 Mei 2007, di usia 73 tahun, meninggalkan empat orang anak, Michael Tjia, Sandra Marisa Tjia, Ester Tjia, dan Samuel Tjia hasil dari pernikahan dengan Rng. Soebosini Arijati, serta 3 orang cucu, Korinta, Kika dan Mesya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Arthur Frederik Chia
 
Lahir :
Manado, Sulawesi Utara,
12 Agustus 1933
 
Wafat :
2 Maret 2007
 
Penghargaan :
Lifetime Achievement dari Java Jazz Festival (2 Maret 2007)
 
Album :
Semua Bisa Bilang bersama Margie Segers (1975),
Api Asmara bersama Rien Djamain (1975),
Rest & Rilex (1976),
Instrumental Hits bersama Kiboud Maulana (1977),
Musik Santai bersamaKiboud Maulana (1978),
Mus Mualim Presents Swing Jazz bersama Mus Mualim (1980),
Various Artist (From Indonesia With Love)
 

You may also like...

Leave a Reply