Didi Petet

Seniman Teater
Didi Petet
 
 
 
Tak banyak aktor yang sudah popular dan laris mau menyempatkan diri untuk mengajar dan terlibat dalam dunia pendidikan, apalagi ditengah kondisi pendidikan di Indonesia yang memprihatinkan. Didi Widiatmoko atau yang lebih dikenal dengan Didi Petet hingga masih aktif mengajar di almamaternya hingga akhir hayatnya, Institut Kesenian Jakarta, bahkan ia merasa memiliki tanggung jawab untuk bisa mengajar teknik akting yang benar terutama dalam situasi dunia hiburan yang begitu pesat saat ini. Menurutnya, dunia peran saat ini sudah masuk ranah industri, terkadang sudah mementingkan pada seni perannya, melainkan pada permasalahan lain yang diutamakannya. Atas alasan inilah ia tetap meluangkan waktu untuk dunia pendidikan seni akting di Indonesia.         
 
Di dunia film namanya tenar setelah memerankan Emon, tokoh banci dalam film remaja laris ‘Catatan Si Boy’ besutan sutradara mendiang Nasri Cheppy  di tahun 80-an. Konon, salah satu faktor yang menyebabkan film produksi Bola Dunia Film itu laris manis karena tokoh Emon tersebut. Tak heran jika kemudian film yang bintang utamanya Onky Alexander tersebut diproduksi sampai lima sekuel.
 
Tokoh banci kemudian diikuti oleh film-film remaja lain kala itu. Seakan tak lengkap rasanya jika ada sebuah film remaja tanpa menghadirkan tokoh banci didalamnya. Tokoh yang menjadi bahan olok-olok yang memancing tawa penonton. Bahkan kemudian diproduksi secara tersendiri yang mengangkat Emon, yakni Catatan Si Emon. Namun bukan Didi Petet lagi yang memeraninya. Alasanya, ia merasa riskan memerankan tokoh banci. Ditambah lagi ia kena sasaran protes anak-anaknya gara-gara peran itu.
 
Lepas dari peran Si Emon, sosoknya kemudian lekat dengan Si Kabayan, tokoh lugu khas tanah Pasundan. Film ini pun mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Karena laris, seperti umumnya terjadi dalam dunia film. Si Kabayan pun dibuat sampai beberapa sekuel. Di film garapan sutradara H. Maman Firmansyah tersebut, Didi beradu akting dengan sejumlah artis, dari mulai Paramitha Rusady, Meriam Bellina Nurul Arifin sampai Desy Ratnasari.
 


Teater Lembaga – ‘Hamlet’ (2007)

Tahun 1988, melalui film ‘Cinta Anak Zaman’, ia meraih Piala Citra, sebuah penghargaan paling bergengsi bagi insan film dalam negeri. Ia meraih penghargaan dengan kategori peran pembantu terbaik. Ketika dunia sinetron merebak seiring dengan tumbuh maraknya stasiun televisi di tanah air, ia pun terjun kesana. Film iklan tak ketinggalan dirambahnya pula. Sejauh ini tak kurang dari sepuluh film iklan dibintanginya. Bahkan dia kemudian mendirikan sebuah rumah produksi. Disamping itu, pria bertubuh subur namun enerjik ini aktif pula dalam sejumlah pementasan teater, seminar tentang seni peran dan tentu saja mengajar di IKJ.

 
Jika karir keaktoran rekan-rekan sangkatannya mengalami penyurutan manakala memasuki usia paruh baya, eksistensinya di dunia film justru makin menguat. Ia terus terlibat sejumlah judul film. Ia bermain dalam film ‘Petualangan Sherina’ (2000), sebuah film anak-anak yang disebut-sebut sebagai tonggak kebangkitan kembali film Indonesia. Kemudian film ‘Pasir Berbisik’ (2001), film ‘Rindu Kami Padamu’ (2004) dan film ‘Banyu Biru’ (2005). Dalam dunia film selain meraih berbagai penghargaan, ia tercatat masuk nominasi dalam berbagai ajang penghargaan, seperti :  Nominasi Piala Citra 1990 kategori  Aktor Utama dalam film ‘Joe Turun Ke Desa’, nominasi Piala Citra 1991 kategori Aktor Utama dalm film ‘Boneka dari Indiana’, nominasi Piala Citra 2004 kategori Aktor Pembantu dalm film ‘Pasir Berbisik’, nominasi Indonesian Movie Award 2010 kategori Aktor Utama dalam film ‘Jermal’, nominasi Piala Vidia 2011 kategori Aktor Pembantu dalam sinetron ‘Bakpao Pingping’, dan nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2013 dalam film ‘Madre’.
  
Jika di luar negeri kualitas akting Robert De Niro mengantarkannya bisa berperan di film apa saja, dari drama hingga komedi, begitu pula dengannya. Bisa dibilang ia selalu bisa melebur ke dalam setiap perannya. Sehingga penonton tak lagi melihatnya di sana, tapi betul-betul sosok baru di film atau pementasan teater yang ia perani. Di panggung teater, ia tetap aktif berperan tak hanya di kelompok pantomim Senna Didi Mime tapi juga beberapa kali tampil bersama Teater Koma, panggung teater-lah yang mengasah  kualitas aktingnya. Jadi sangatlah wajar jika ia merupakan salah satu di antara sedikit aktor Indonesia yang masih bertahan dan bahkan laris dalam usia paruh baya. Ia terus terlibat dalam sejumlah judul film hingga sekarang.
  
Terakhir ia terlibat dalam sinteron ‘Preman Pensiun’, salah satu pendiri kelompok teater pantomim Sena Didi Mime bersama almarhum Sena A. Utoyo yang terbentuk pada awal tahun 1970-an ini, wafat dalam usia 58 tahun pada Jumat, 15 Mei 2015 pukul 05.00 WIB di rumah duka Jalan Bambu Apus, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Meninggalkan seorang istri, Uce Sriasih, 6 orang anak (Gentar Jagat Raya, Dayana, Sabana, Nabila, Batara, Jaro). Dimakamkan setelah sholat Jumat di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

Nama :
Didi Widiatmoko
 
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur,
12 Juli 1956
 
Wafat :
Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, 15 Mei 2015
 
Pendidikan :
Akademi Teater LPKJ (sekarang IKJ)
 
Aktifitas Lain :
Pengajar Institut Kesenian Jakarta/IKJ,
Ketua Koperasi Pelestari Budaya Nusantara
 
Pencapaian :
Piala Citra pada FFI 1988 Kategori Aktor Pembantu Terbaik dalam Film Cinta Anak Zaman,
Aktor Terpuji Festival Film Bandung 1988 dalam film Catatan Si Boy,
Aktor Terpuji  Festival Film Bandung 1994 dalam filmSi Kabayan Cari Jodoh,
Lifetime Achievement Award – MTV Indonesia Movie Award 2014
 
Filmografi :
Semua Karena Ginah (1985),
Catatan Si Boy (1987),
Namaku Joe (1988),
Gema Kampus 66 (1988),
Catatan Si Boy II (1988),
Cinta Anak Jaman (1988),
Catatan Si Boy III (1989),
Pacar Ketinggalan Kereta (1989),
Bercinta Dalam Mimpi (1989),
Si Kabayan Saba Kota (1989),
Sepondok Dua Cinta (1990),
Rebo dan Robby (1990),
Gampang-Gampang Susah (1990),
Joe Turun ke Desa (1990),
Oom Pasikom (1990),
Catatan si Boy IV (1990),
Catatan Si Boy V (1991),
Boneka dari Indiana (1991),
Si Kabayan dan Anak Jin (1991),
Asmara (1992),
Si Kabayan Saba Metropolitan (1992),
Si Kabayan Cari Jodoh (1994),
Petualangan Sherina (2000),
Pasir Berbisik (2001),
Arisan! (2003),
Eiffel I’m in Love (2003),
Rindu Kami PadaMu (2004),
Apa Artinya Cinta? (2005),
Tentang Dia (2005),
Ketika (2005),
Banyu Biru (2005),
D’Girlz Begins (2006),
Kamulah Satu-Satunya (2007),
Kirun + Adul (2009),
Jermal (2009),
Ketika Cinta Bertasbih (2009),
Emak Ingin Naik Haji (2009),
Ai Lop Yu Pul (2009),
Di Bawah Langit (2010),
Bebek Belur (2010),
Kabayan Jadi Milyuner (2010),
Baik-Baik Sayang (2011),
Lost in Papua (2011),
Catatan (Harian) si Boy (2011),
Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011),
5 cm (2012),
Madre (2013),
Bangun Lagi Dong Lupus (2013),
12 Menit (2014),
Ketika Tuhan Jatuh Cinta (2014),
Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)
 
Sinetron :
Buku Harian,
Cintaku Di Rumah Susun,
Promadona,
Ridho,
Maha Kasih,
Kapan Kita Pacaran Lagi,
Dunia Tanpa Koma,
Siapa Yang Meniduri Ranjangku,
Karina (1985),
Losmen (1985),
Si Kabayan (1996-1997),
Bakpao Pingping (2011),
3 Semprul Mengejar Surga (2013),
Preman Pensiun (2015)

You may also like...