Didik Nini Thowok

Nama :
Didi Hadiprayitno
 
Lahir :
Temanggung,
Jawa Tengah,
13 November 1954
 
Pendidikan :
ASTI Yogyakarta (1974)
 
Karier :
Pegawai honorer di Kabin Kebudayaan Kabupaten Temanggung,
Pengajar tari di beberapa SD dan SMP,
Pengajar les privat tari untuk anak-anak,
Pengajar di ASTI Yogyakarta (1977-1985)
 
Aktifitas Lain :
Pendiri Sanggar Tari Natya Lakshita (1980)
 
Karya Tari :
Dwimuka (1987),
Kuda Putih (1987),
Dwimuka Jepindo (1999),
Topeng Nopeng (1988),
Topeng Walang Kekek
(1980)
 
Karya Tulis :
Stage Make-up (2012)
 
Pencapaian :
Kick Andy Heroes Award katagori Seni dan Budaya (2009)
 

Koreografer
Didi Nini Thowok
 
 
 
Terlahir dengan nama Kwee Tjoan Lian namun karena sering sakit-sakitan namanya diganti menjadi Kwee Tjoa An, setelah peristiwa G30S/PKI namanya diganti menjadi Didik Hadiparyitno. Ketertarikannya pada dunia tari dimulai sejak usia dini ketika ia sering menonton wayang orang, namun karena kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan ia hanya bisa meminta teman sekolahnya, Sumiarsih, untuk mengajarinnya menari dan menembang Jawa. Sampai dengan tahun 1995, ia telah memiliki 19 orang guru. Lelaki kelahiran Temanggung, Jawa Tengah ini, setidaknya telah berguru kepada 23 orangPada usia 15 tahun, ia belajar menari Bali oleh pemain ketoprak yang juga tukang cukur bernama Soegiyanto. Belajar tari Jawa klasik dari Ibu suiyati yang diabayarnya dari honor menyewakan komik koleksi kakeknya.
 
Setelah kuliah di ASTI Yogyakarta, sekarang ISI, ia seperti haus belajar tari kepada para maestro. Berguru kepada Ni Ketut Sudjani, I Gusti Gde Raka, Rasimoen, Sawitri, Ni Ketut Reneng, Kamini, Bagong Kussudiardjo, BRAy Yodonegoro, Sangeeta, Richard Emmert, Sadamu Omura, Jetty Roels, Gojo Masanosuke, serta beberapa nama maestro lain dari berbagai negara. Tak heran jika putra pertama dari pasangan Hadiprayitno (Kwee Yoe Tiang) pedaganng kulit sapi dan kambing, dan Suminah yang berjualan di pasar ini menguasai beragama tari, terutama yang berbasis pada tradisi. Menariknya, sejak ia melejit lewat tari Nini Thowok, ia memutuskan untuk terus menarikan tari-tari putri dengan warna komedi yang kental. Praktis sejak itu, barangkali ia menjadi satu-satunya penari lelaki yang sangat serius menekuni tari-tarian putri.
 

Ketika ia mulai sering keluar negeri, tahun 2000 lalu, mulai dikenal istilah cross gender, sebuah identifikasi terhadap sebuah kemampuan yang melintasi batas-batas seksualitas. Pada Maret 2003, ia tergabung dalam pertunjukan yang berjudul Impersonators, The Female Role Players in Asian Dance and Theater di Tokyo, Jepang. Dalam pertunjukan yang disponsori Japan Foundation ini, ia bergabung dengan para penari cross gender dari Jepang, India, dan Tiongkok.
 
Nama Nini Thowok sebenarnya berasal dari sebuah koreografi yang diciptakan Bekti Budi Hastuti di tahun 1975, yang tak lain seniornya di ASTI Yogyakarta. Dalam tarian ini, ia berperan sebagai perempuan dukun tua bernama Nini Thowok, yang setiap saat ketiban musibah seperti konde lepas lalu dipasang lagi. Dan itu bagian dari tarian. Sejak itulah ia sadar bahwa dia lebih cocok menarikan tari-tari perempuan dengan corak komedi. Ia kemudian menarikan karya ini dari kampus ke kampus sampai-sampai ia dikenal sebagai Didik Nini Thowok. Ia sendiri kemudian melahirkan karya-karya penuh humor seperti tari ‘Dwimuka’ (1987), tari ‘Kuda Putih’ (1987), tari ‘Dwimuka Jepindo’ (1999), tari ‘Topeng Nopeng’ (1988), tari ‘Topeng Walang Kekek’ (1980), serta ratusan karya lainnya. Karyanya yang masih sering ia bawakan sampai sekarang tari ‘Dwimuka’ masih tetap mengundang decak kagum terhadap gerakan dan polah tingkah para tokoh yang dimainkannya di panggung. Tahun 1980 ia mendirikan sanggar tari bernama Natya Lakshita yang artinya, tari yang berciri.

 
Tahun 1999, ia pernah ditanggap oleh sebuah hotel di Yogyakarta untuk menari. Saat itulah ia pertama kalinya pentas berbarengan dengan kesenian Nini Thowok yang asli dari Purworejo. “Ini pakai nyurup segala. Ngeri juga, karena harus ada dukunnya untuk memanggil roh agar masuk ke dalam boneka,” katanya. Ia kemudian menembang Jawa yang mengundang roh Nini Thowok. Dalam kesempatan ngobrol dengan rombongan dari Purworejo, ia diberitahu bahwa kata yang benar sebenarnya Nini Towong. Nini artinya perempuan, kata towong berasal dari ngento-ento yang artinya menyerupai, dan wong itu orang. Jadi boneka perempuan yang menyerupai manusia. “Tapi ya sudah, saya sudah bertahun-tahun pakai Nini Thowok, nanti kalau diganti Thowong malah kesurupan,” katanya.
 
Masuk ASTI tahun 1974. Padahal cita-cita awalnya menadi pelukis. “Saya mau kuliah di ASRI Yogyakarta, tapi bapak saya bangkrut. Kan bapak kerja sebagai pengumpul kulit. Masuk ASRI itu banyak perlu biasa untuk membeli peralatan. Karena saya sudah menari sejak kecil dan menjadi guru tari saat tamat SMA, saya teruskan ke ASTI,” katanya.
 
Pada bulan Desember 2004, Ia mengadakan Festival Cross Gender di Yogyakarta. Ia mengundang para penari dari Jepang, India, dan Tiongkok. Kegiatan itu di isi dengan pameran lukisan dan barang-barang miniatur koleksi pribadinya. Pada 31 Januari sampai 17 Februari 2004, ia berada di Tokyo, Jepang. 19 Februari 2004 di San Fransisco, Amerika Serikat. 29 Maret sampai 3 April 2004 berada di Washington, Amerika Serikat, diteruskan menuju Vancouver, Kanada, kemudian setelah kembali ke Tanah Air. Juni 2004 ia berada di Berlin, Jerman dan September 2004 ke Barcelona, Spanyol dan beberapa kota di Inggris. Seluruh perjalanan ini dihabiskan untuk memberi apresiasi terhadap apa yang ia tekuni, cross gender.
 
Pada Senin, 16 Juli 2012, ia meluncurkan buku ‘Stage Make Up’ di Hotel Santika Premiere, Jalan KS Tubun, Jakarta. Buku tersebut menjadi referensi tentang panduan dandanan untuk teater, tari dan film di Indonesia. Rupanya ia telah menjadi perias wajah bagi artis tradisional di panggung wayang orang hingga pementasan di Keraton Yogyakarta. Karier meriasnya di awali ketika ia mulai merias penari Bedoyo Keraton. 
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply