Diyanto


Nama :
Diyanto
 
Lahir :
Majalengka, Jawa Barat,
23 Februari 1962
 
Pendidikan :
Jurusan Seni Rupa IKIP/UPI Bandung, Jawa Barat
(tidak selesai),
Jurusan Seni Lukis FSRD ITB
 (lulus 1991)
 
Pendidikan Lain :
Bengkel Kerja Pelukis Muda ASEAN di Nan Yang Academy, Singapura (1987),
Mendalami Tata Pentas Teater di Augsburg, Jerman, arahan Wolf Wanninger, Sponsor Goethe Institute (1992)
Artist In Residence di Curtin University, Perth, Australia (1999)
Wind of Artist In Residence. Fukuoka Asian Art Museum, Jepang (2001)
 
Profesi :
Pengajar Senirupa di Universitas Parahiyangan Bandung,
 Jawa Barat
 
Pencapaian :
Penghargaan FSRD-ITB (1987)
Penghargaan dari  Erasmus Huis
 

Pelukis
Diyanto
 
 
 
Lahir di Majalengka, Jawa Barat, 23 Februari 1962. Pendidikan seninya di tempuh di Jurusan Seni Rupa IKIP (UPI) Bandung, Jawa Barat (1981), namun hanya dua tahun ia menjalani kuliahnya. Pada tahun 1983, ia pindah ke jurusan Seni Lukis FSRD ITB.
 
Peraih penghargaan FSRD-ITB di tahun 1987 dan penghargaan dari Erasmus Huis ini, di kenal sebagai sosok yangkreatif. Hal tersebut tercermin dalam pengarapan karya-karya lukisannya. Semisal, sejak tahun 1980, ia mengeksplorasi rumah sakit menjadi subyek lukisan dengan cara, mengintip detail-detailnya, merekam haru-biru ketakberdayaan manusia yang menghuninya. Hasil eksplorasinya tersebut kemudian ia tuangkan ke dalam kanvas, menjadi lukisan corak impresionistik yang inspiratif, sehingga tak heran jika dirinya kerap di identikan sebagai ikon seniman ‘The Perfect Explorer’.
 
Dalam kegiatan kesenirupaannya, Pelukis yang kini menjadi pengajar Seni Rupa di Universitas Parahiyangan (Unpar) Bandung, Jawa Barat, ini pernah mengikuti kegiatan Bengkel Kerja Pelukis Muda Asean di Nan Yang Academy, Singapura (1987), Kedekatannya dengan penyair Afrizal Malna memberinya dorongan untuk membuat karya-karya instalasi. Sejak tahun 1982, ia tercatat telah mengikuti sekitar 20 kali pameran lukisan maupun instalasi, baik dalam bentuk pameran tunggal maupun pameran bersama yang di selenggarakan di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Singapura, Filipina, Jepang dan Jerman.
 


Para Pencari, 200 x 140 cm, acrylic diatas kanvas, 2008

Pameran tunggal yang pernah di gelarnya antara lain : Kasidah Izrail di Alliance Francaise, Bandung, Jawa Barat (1990), Put-Not Lukisan Instalasi dan Performance di Galeri Seni Rupa Taman Budaya, Surakarta, Jawa Tengah (1994), Batu yang Tak Sampai Padamu, Bandung Gallery, Bandung, Jawa Barat (1998), Lukisan dan Instalasi, Milenium Gallery, Jakarta (1999), Undangan Lalat, Koong Gallery, Jakarta (2000), Zeroretorika, Café Modernekunst Museum Pasau, Jerman (2001), Sosok/Tubuh, Mondecor Gallery, Jakarta (2002), Halaman Terbakar, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Jawa Barat (2002) dan Minima Moralia, Canna Gallery, Jakarta (2008).
 

 
Sedangkan pameran bersama yang pernah di ikutinya adalah : Eksperimen Citra Satu, Partere Bumi Siliwangi, Bandung, Jawa Barat (1982), Berdua Belas, Alliance Francaise, Bandung, Jawa Barat (1985), Kelompok Darurat-Ganksal, Alliance Francaise, Bandung, Jawa Barat dan Seni Sono, Yogyakarta (1986),  The 6th ASEAN Young Painter Exhibitions, Nasional Museum Singapura (1987), Seni Murni 88, Aula Timur ITB, Bandung, Jawa Barat (1988), Tiga Pelukis Muda Bandung, Lembaga Indonesia Amerika, Bandung, Jawa Barat (1989), Bandung-Braunschweig, Galeri Soemardja, Bandung, Jawa Barat (1990), Lintas Borneo, Kutai, Kalimantan Timur (1991), The 6th Asian International Arts Exhibition, Tagawa Museum of Art, Jepang (1992), dan lain-lain.
 
Selain melukis, ia juga di kenal akrab dengan dunia teater dan puisi. Tahun 1992, ia bergabung dengan teater SAE dan turut serta dalam pentas keliling teater SAE ke Swiss dan Jerman (1992-1993). Dilingkungan teater, ia mengkhususkan diri pada penataan panggung. Tahun 1988-1989, bersama Rahmayani dan kawan-kawan lainnya, ia membentuk kelompok eksperimen gerak dan rupa Sumber Waras. Pada tahun 1992 atas Undangan Goethe Institute, ia mendapat kesempatan mendalami Tata Pentas Teater di Augsburg, Jerman, arahan Wolf Wanninger. Selain itu ia juga mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan Artist In Residence di Curtin University, Perth, Australia (1999) dan Wind of Artist In Residence, Fukuoka Asian Art Museum, Jepang (2001). Ia mengakui bahwa puisi memberi dorongan yang besar baginya dalam membuat karya seni rupa. Menetap di Palang Dada Studio, di Jl. Jajaway No. 37, Dago Atas, Bandung, Jawa Barat.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply