Djadoeg Djajakusuma


Nama :
Djadoeg Djajakusuma
 
Lahir :
Parakan, Temanggung,
 Jawa Tengah,
1 Agustus 1918
 
Wafat :
Jakarta, 28 Okt’ober 1987
 
Pendidikan :
AMS, Semarang (1941), 
Program Theater, University of Washington, Seatle, USA,
Departement of Drama University of Southern California (1956-1957).
 
Karier :
Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1968-1971),
Wakil Ketua I Dewan Pekerja Harian DKJ (1971-1972).
Ketua DPH Dewan Kesenian Jakarta (1972 -1977), 
Penasehat Ahli dalam bidang kebudayaan dalam struktur Dinas Kebudayaan DKI Jakarta (1984)
 
Filmografi :
Puri dari Medan (1953)
Harimau Tjampa (1953),
Mertua Sinting (1954),
Tjambuk Api (1958),
Lahirnya Gatot Kaca (1960),
Masa Topan dan Badai (1963),
Bimo Kroda (1967),
Malin Kundang Anak Durhaka (1972),
Perempuan Dalam Pasungan (1980)
 
Penghargaan :
Film Harimau Tjampa mendapat hadiah pada Festival Film Asia (1955),
Film Bimo Kroda mendapat penghargaan dari Departemen Penerangan RI (1967),
Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI  (1970),
Hadiah Soerjosemanto dari Dewan Film Nasional (1987)
 
 

 
Djadoeg Djajakusuma
 
 
 
 
Dalam bidang teater, untuk beberapa lama Djadoeg Djajakusuma yang pernah bersahabat dengan Devi Dja penari mahir Indonesia yang kini bermukim di India untuk belajar tentang drama rakyat.
 
Pengabdian dalam bidang pendidikan kesenian formal, dicurahkannya melalui Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (kini Institut Kesenian Jakarta) terutama pada dua departemen yakni : Departemen Teater dan Departemen Sinematografi. Karir puncak dalam pengabdiannya ini, terhadap lembaga yang ia pelopori keberdiriannya ini, adalah kedudukannya sebagai rektor.
 
Djadoeg Djajakusuma adalah tokoh yang tak bisa dilepaskan dari kehadiran LPKJ-IKJ, juga tak bisa dipatahkan dari keberadaan Dewan Kesenian Jakarta sebagai induk kelahiran LPKJ. Kini ia bagaikan sosok sesepuh bagi para seniman, tidak saja dalam lingkungan pendidikan formal. Lebih dari itu, ia adalah sesepuh baik bagi seluruh masyarakat kesenian. Dialah salah satu sosok yang memelopori bangkitnya wayang orang di Jakarta, Bharata, setelah runtuhnya W.O Pantjamurti. Wayang orang Bharata itu hingga kini tetap hidup dan manggung di bilangan Senen.
 
Pada sekitar tahun enam puluhan bersama-sama dengan Soemantri Sastrosoewondho, Yulianti Parani, dan SM. Ardan, mereka tertarik untuk menekuni kehidupan kesenian Betawi. Hasilnya yang sangat kesohor, ketika mereka berhasil merevitalisir teater rakyat Betawi, Lenong, dan sempat meledak diberbagai panggung pertunjukan terutama dibilangan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.
 
Selain tampil sebagai sutradara teater, ia juga dikenal sebagai penulis naskah sandiwara yang baik sekaligus dikenal sebagai tokoh yang menghayati tentang kehidupan teater tradisi. Oleh karenanya dalam berbagai kesempatan seminar dan diskusi tentang kehidupan seni tradisi, Djajakusuma merupakan tokoh sentral dan penting, yang tak bisa diabaikan kehadirannya.
 
Kecintaanya terhadap dunia pewayangan, dibuktikannya juga melalui naskah-naskah sandiwaranya antara lain ‘Karma Lembu Peteng’, disamping banyak artikel -artikel pewayangannya yang kemudian dimuat oleh berbagai mass media terutama majalah Zaman antara 1979-1984. Tidak hanya itu, Djadoeg Djajakusuma adalah pelopor terlaksananya Pekan Wayang Indonesia I dan II pada 1966 dan 1974.
 
Dalam dunia perfileman ia juga dikenal sebagai aktivis yang tangguh. Dirinya tidak hanya tampil sebagai penulis skenario yang baik, namun juga tampil sebagai sutradara yang disegani. Selain tersebut diatas Djajakusuma juga menterjemahkan drama ‘YU TANG CHUN’ dan ‘WEK WEK’yang sekaligus pernah di sutradarainya dan di pentaskan di teater Arena Taman Ismail Marzuki 1980. Kemudian pada 1984, memimpin rombongan wayang orang Bharata untuk mengikuti Gaukler festival di Jerman Barat.
 
(Apa dan Siapa tokoh Indonesia 1985-1986)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply