Djenar Maesa Ayu

Penulis
Djenar Maesa Ayu
 
 
Lahir di Jakarta, 14 Januari 1973. Putri dari pasangan sutradara film Syuman Djaya dan Aktris di era 1970-an Tutie Kirana. Mengenal dunia sastra sejak Sekolah Dasar. Kerap mengirim cerpen dan puisi ke koran bulanan sekolah. Sangat senang Kalo tulisannya berhasil di muat. Gaya menulis metafora yang digunakan pada waktu itu sampai sekarang masih tetap ia pertahankan. Djenar ’jatuh cinta’ pada gaya tersebut setelah membaca dongeng Gadis Korek Api karya Hans Christian Andersen.
 
Memulai kiprahnya di dunia kepenulisan dengan menemui sejumlah sastrawan besar Indonesia yang dijadikannya sebagai ’guru’ menulisnya, seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma dan Sutardji Coulzum Bachri. Setelah cerpennya yang berjudul Lintah dimuat harian Kompas ditahun 2001, karya-karyanya cerita pendeknya terus mengalir diantaranya ’Siapa Bilang Saya Monyet’, ’Pelukis Jendela’, Menyusul Ayah’, ’Air’, Waktu Nayla’ dll. Cerpen-cerpennya tersebut di muat di berbagai media massa Indonesia seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan Lampung Post.
 
Selain membuat cerpen, ia juga menerbitkan sejumlah buku. Buku-bukunya banyak bercerita tentang seksualitas, dari mulai urusan selingkuh sampai hubungan sesama jenis. Di tengah kritik terhadap karya-karya sastranya, yang sempat dijuluki sebagai bagian dari ’gerakan syahwat merdeka’, Buku-buku yang ia buat ternyata di sukai oleh pembaca, terbukti bukunya selalu masuk dalam deretan daftar buku bestseller. Buku pertama pertamanya yang berjudul ‘Mereka Bilang Saya Monyet’ (Gramedia Pustaka Utama, 2002) yang berisi kumpulan cerita pendeknya telah di cetak ulang sebanyak delapan kali dan di terbitkan pula dalam bahasa Inggris They Say, I’m Monkey (2005). Buku ini masuk dalam 10 besar Khatulistiwa Literary Award 2003.
 
Buku keduanya, ’Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)’ (Gramedia Pustaka Utama 2004) juga meraih sukses dan cetak ulang keduanya hanya berselang dua hari setelah diluncurkan pada Februari 2005 dan masuk dalam 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2004. Karya bukunya yang lain, seperti ’Nayla’ (Gramedia Pustaka Utama, 2005), masuk dalam 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2005. ’Cerita Pendek tentang Cerita Pendek’ (Gramedia Pustaka Utama, 2006) juga menuai sukses di pasaran. Masih berkutat pada persoalan seksualitas, di tahun 2008, ia membuat sebuah novel berjudul ’Ranjang’, yang mengadaptasi dua cerpen karya Nugroho Suksmanto yang termuat dalam kumpulan cerpen ’Petualangan Celana Dalam’.
 
Cerpen ’Menyusul Ayah’ menjadi cerpen terbaik versi Jurnal Perempuan (2003) dan dialih-bahasakan oleh Richard Oh ke dalam bahasa Inggris dengan judul ’Suckling Father’ untuk dimuat kembali ke dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan. Cerpen ’Menyusul Ayah’ menjadi cerpen terbaik dalam cerpen Pilihan Kompas 2003.
 
Ia pun mengembangkan kemampuan didunia film. Dunia film sudah tidak asing lagi baginya, karena ia biasa dia ajak ayah dan ibunya ke lokasi shooting. Debut awalnya di film dengan membintangi film garapan Arswendo Atmowiloto yang berjudul ’Pemahat Berobudur’ (2006), selanjutnya ikut bermain dalam film ’Koper’ garapan Richard Oh (2006), ’Cinta Setaman’ (2008), ’Dikejar Setan’ (2009) serta ’Melodi’ (2010).
 
Pernah menjadi juri Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta pada tahun 2007. Menyutradarai langsung film ’Mereka Bilang Saya Monyet’ (2008), film tersebut diambil dari judul buku kumpulan cerpennya yang terbit ditahun 2002. Namun, ceritanya justru diambil dari cerpen yang berjudul ’Lintah’ dan ’Pelukis Jendela’ yang termasuk dalam isi buku tersebut. Film yang bercerita tentang potret realitas kehidupan sehari-hari, tantang kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual terhadap anak-anak ini diproduksi oleh PT. Intimas Production. 
 
Ibu dari Banyu Bening dan Bidari Maharani ini, pernah masuk nominasi aktris pendatang baru terbaik dan terpilih sebagai aktris terfavorit dalam Indonesian Movie Award lewat film ’Koper’ (2007). Filmnya yang berjudul ’Mereka Bilang Saya Monyet’, menjadi unggluan kompetisi Silver Screen Award untuk kategori Best Asian Feature Film di Singapore International Film festival. 
 
Menetap di Graha Raya Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.   
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

 

Nama :
Djenar Maesa Ayu
 
Lahir :
Jakarta, 14 Januari 1973
 
Karya Buku :
Mereka Bilang, Saya Monyet (Gramedia Pusataka Utama, 2002)
Jangan Main-main
 (Dengan Kelaminmu)
(Gramedia Pustaka Utama, 2004),
Waktu nayla (2005),
Cerita Pendek tentang
Cerita yang Pendek,
 (Gramedia Pustaka Utama, 2006),
Ranjang  (2008),
SAIA (2014)
 
Karya Cerpen :
Siapa Bilang Saya Monyet,
Pelukis Jendela,
Menyusul Ayah,
Waktu Nayla,
Pelukis Jendela
 
Filmografi :
Pemahat Borobudur (2006),
Koper (2006),
Mereka Bilang, Saya Monyet! (2007),
Cinta Setaman (2008),
Dikejar Setan (2009),
Melodi (2010),
Purple Love (2011)
 
Pencapaian :
Cerpen Waktu Nayla meraih predikat Cerpen Terbaik Kompas (2003),
Cerpen Menyusul Ayah menjadi Cerpen Terbaik versi Jurnal Perempuan (2003)

You may also like...