Djoko, SS

Nama :
Djoko Suko Sadono
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
21 Agustus 1951
 
Karier :
PNS Dinas Kebudayaan DKI Jakarta,
Pengajar tari di Pusat Pengembangan Kesenian DKI Jakarta,
Pengajar tari di Sanggar Widyarini,
Pengajar tari Sanggar Setra Kirana
 
Pencapaian :
Juara I penata tari lomba tari anak-anak antar sanggar (1978-1980),
Juara I penata tari remaja antar sanggar (1979)  
 
Karya Tari :
Gado-Gado Jakarta
 (bersama Wiwiek Widyastuti, 15 Desember 1979),
Bodoran Jakarta,
Buto Ijo,
Anak Wewe,
Gudowo Sutasworo,
Sekar Rinonce


Seniman Tari
Djoko, SS
 
 
 
Lahir di Solo, Jawa Tengah, 21 Agustus 1951. Belajar tari Jawa Surakarta sejak masih kanak-kanak dengan Bapak R. Ng Wignyohambegso (alm) dan Pardi H (alm).  Pernah menjadi anggota Yayasan Kesenian Indonesia/YKI (1973-1975) di Surakarta, Jawa Tengah. Sejak tahun 1976 menetap di Jakarta, begabung dengan grup tari Padnecwara dan bekerja sebagai PNS di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta sejak tahun 1978 hingga sekarang.
 
Karena bekerja sebagai PNS di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, mau tak mau ia harus belajar budaya Betawi. Ia yang awalnya tidak tahu sama sekali tentang budaya Betawi akhirnya belajar kepada Haji Sa’abah. Selama 40 hari, ia belajar budaya, tari, serta musik Betawi. Dari 1976-1978, penari yang pernah bergabung dengan Teater Sardono, Jaya Budaya dan Sumber Cipta ini banyak belajar tari dari mulai Sunda, Betawi, Minang, sampai dengan balet. Bergabung dan mengajar tari di Sanggar Widyarini, sebuah sanggar Tari Jawa (1977-1981) dan pernah mengikuti penelitian tentang Betawi (1979).
 
Selain sebagai penari, ia juga di kenal sebagai penata tari yang handal. Ia pernah menggarap ‘Gado-Gado Jakarta’ bersama Wiwiek Widyastuti dalam pekan penata tari muda yang digelar di Teater Tertutup TIM (15 Desember 1979). Garapannya tersebut dibuat berdasarkan gerak tari Betawi yang terdapat dalam Kembang Topeng, Topeng Kedok dan Pencak Silat.
 
Seniman tari yang pernah menjadi juara pertama penata tari pada lomba tari anak-anak antar sanggar (1978-1980) dan juara pertama penata tari antar sanggar (1979) ini, juga menjadi penata tari ‘Bodoran Jakarta’ dalam Festival ASEAN I di Jakarta. Pernah menjadi peserta pada Festival Penata Tari Muda (1980), mengikuti misi kesenian Direktorat Kesenian ke luar negeri dan keliling Indonesia (1980-1991) dan mengikuti misi kesenian Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, pembinaan Seniman Tradisi Betawi (1980 s/d sekarang).
 
Beberapa kegiatan nasional pun tak luput darinya, antara lain; menjadi penata tari Hardiknas (1988), penata tari PON XII-XIV, penata tari dan asisten penata tari Kenduri Nasional (1995) dan penata gerak Gema Takbir dan Dzikir (1997). Karya-karyanya yang lain yang pernah ia buat adalah ‘Buto Ijo’, ‘Anak Wewe’, ‘Gudowo Sutasworo’ dan ‘Sekar Rinonce’ (gaya tari Jawa). Ia juga membuat Total Teater, gabungan tari Jawa yang menyabet banyak penghargaan.
 
Kini selain menjadi pengajar tari di Pusat Pengembangan Kesenian DKI Jakarta dan Sanggar Widya Rini, sutradara pementasan ‘Mirah, Singa Betina dari Marunda’ ini juga menjadi guru pada Sanggar Setra Kirana, dimana ia mengajarkan musik Betawi, teater dan tari untuk sekitar 400 anak-anak di wilayah sekitar kampung Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply