Dodong Diwapradja


Penulis
Dodong Djiwapradja
 
 
 
 
Lahir di Garut, Jawa Barat, 25 Desember 1928, dari keluarga petani. Perwira Hukum pada Biro/Direktur Kehakiman Angkatan Udara di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, hingga tahun 1975 yang pernah menjadi Kepala Redaksi majalah Angkasa, majalah Angkatan Udara (1951–1956) ini, mulai menulis sejak duduk di bangku sekolah menengah. Pada masa revolusi, ia mulai menulis sajak, di antaranya dimuat dalam majalah Gelombang Zaman yang dipimpin Achdiat K. Mihardja. Ketika tinggal bersama kawannya, Eddy Abdurrachman, di rumah orangtuanya di Purwakarta, Jawa Barat, ia berkenalan dengan H.J.C. Princen seorang tentara Republik Indonesia yang menyukai sastra dan bersahabat dengan Chairil Anwar di Jakarta. Ketika dia melihat bahwa Dodong suka menulis sajak, sejumlah sajaknya ia bawa ke Jakarta dan diserahkan kepada Chairil Anwar yang waktu itu menjadi redaktur majalah Gema Suasana. Sajaknya yang berjudul ‘Cita-Cita’ kemudian dimuatkan Chairil Anwar dalam majalah Gema Suasana.
 
Di samping itu, salah satu pendiri Beungkeutan Pangulik Budaya (BPB) Kiwari ini juga memuatkan sajak-sajaknya dalam majalah Mimbar Indonesia yang dipimpin H.B. Jassin (1948–1952) dan dalam ruangan Gelanggang yang dipimpin oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin sebagai lampiran Warta Sepekan Siasat (1959–1960). Karyanya yang lain juga di muat di majalah Sastra (1963) dan majalah Budaya Jaya (1970–1973).
 
Bersama Eddy Abdurrachman, ia pernah melakukan gerakan bawah tanah melawan Belanda sehingga mereka tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Kebon Waru, Bandung. Mereka baru dibebaskan setelah gencatan senjata menjelang Konferensi Meja Bundar. Setelah bebas dari tahanan Belanda, ia pergi ke Jakarta. Mula-mula bekerja pada penerbit Pustaka Rakjat kepunyaan St. Takdir Alisjahbana. Selanjutnya ia diterima sebagai karyawan Angkatan Udara Republik Indonesia. Sambil bekerja di Angkatan Udara, Halim Perdana Kusuma, Jakarta, ia melanjutkan studinya ke Akademi Hukum Militer (AHM). Setelah lulus dan memperoleh gelar sarjana muda hukum militer (Bc.Hk.) pada tahun 1960, ia kembali melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM). Ia dapat menyelesaikan studinya dan menjadi sarjana hukum militer pada tahun 1963. Sempat pula menempuh pendidikan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, selama dua tahun, yang waktu itu masih bertempat di Rawamangun, Jakarta (1951–1952), pernah menjadi guru di SMA-IPI Jakarta (1953-1958), dosen Estetika Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1962–1964), anggota Komisi Istilah Seksi Penerbangan (1951-1960) dan menjadi anggota Pengurus Pleno BMKN (1960).
 
Sebagai seorang penulis kreatif, ia juga tercatat pernah menghadiri Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uni Sovyet, sekarang ibukota Uzbekistan (1958), Pertemuan Pengarang Asia-Afrika di Tokyo, Jepang (1960), dan pertemuan serupa di Bali (1962). Serta ditugaskan oleh AURI untuk mewakili Indonesia dalam pembuatan film kerja sama dengan Yugoslavia (1960). Beberapa pengalaman melawat ke luar negeri itu menambah wawasannnya sebagai sastrawan dalam mengembangkan estetika.
 
Setelah pensiun dari dinas Angkatan Udara Republik Indonesia (1976), ia menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, Bandung (1979–1985). Mengajar mata kuliah Pengantar Kajian Kesusastraan, Kritik Sastra Indonesia Modern, dan Kesusastraan Sunda. Sebagai pengajar, ia banyak melakukan penelitian sastra Indonesia modern dan juga sastra Sunda bersama J.S. Badudu, Livain Lubis, Syofyan Zakaria, Saini K.M., Kusman K. Mahmud, dan Ajip Rosidi. Beberapa penelitian tersebut antara lain : ‘Memahami Sajak-Sajak Saini K.M (1977), ‘Memahami Sajak-Sajak Ajip Rosidi (1978), Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an Hingga Tahun 40-an (1979), Penelitian Apresiasi Cerita Rekaan Sastra Indonesia Murid Kelas III SPG Jawa Barat (1980), Pendekatan Sastra dan Gagasan Estetik dalam Sastra Indonesia di Zaman Pujangga Baru (1982), Sastra Tradisional pada Masyarakat Cikeruh Kabupaten Sumedang (1983) dan ‘Pandangan Hidup Orang Sunda seperti Tercermin dalam Ungkapan Tradisional Karya Sastra (1985–1987). Penelitian kesusastraan yang dialakukan oleh Dodong Djiwapradja dan kawan-kawannya itu mendapat bantuan dana dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1977–1979), Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi, Universitas Pajajaran Bandung (1982–1984), dan Direktorat Kebudayaan, Sundanologi (1985–1987).
 
Tahun 2007, buku kumpulan sajak karyanya yang bertajuk ‘Kastalia’ di terbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya, Jakarta. Judul buku itu sendiri diangkat dari salah satu sajak karyanya yang ditulis pada tahun 1960. Kumpulan sajak karyanya ini mendapatkan hadiah dari Yayasan Buku Utama (1998) dan Hadiah dari Pusat Bahasa (2000). Buku kumpulan sajak ini diberi kata pengantar oleh W.S. Rendra. Dalam buku ini memuat 67 sajak yang ditulisnya antara tahun 1948-1973. Sajak-sajak dikelompokkan menjadi lima bagian, ‘Jalan Setapak’ (1948-1949), ‘Getah Malam’ (1951-1959), ‘Kastalia’ (1960), ‘Jari-Jemari’ (1961-1963) dan ‘Penyair yang Lahir di Tanah Air’ (1970-1973). Pengelompokan sajak dalam buku itu tidak didasarkan pada kesamaan tema, tetapi didasarkan pada urutan kronologis atau urutan waktu penciptaan sajak. Hal ini memudahkan pembaca untuk mengikuti sejarah perkembangan estetis pemikirannya tentang kehidupan yang tertuang dalam puisi selama 25 tahun masa kepenyairannya. 
 
Sajak-sajaknya juga dapat ditemukan dalam buku Gema Tanah Air (susunan H.B. Jassin, 1948), Laut Biru Langit Biru (editor Ajip Rosidi, 1977), Tonggak 1 (suntingan Linus Suryadi A.G., 1987), dan Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi (penyelia Taufiq Ismail dan kawan-kawan). Sementara itu, buku karya terjemahannya adalah, Rumah Tangga yang Bahagia (1976, karya Leo Tolstoy A Happy Marriage Life) dan Islam, Filsafat, dan Ilmu (1984, dari empat ceramah yang diadakan Unesco bertajuk Islam, Phylosophy and Science) Beberapa puisi karya penyair Inggris dan Perancis, seperti Saint-John Perse, W.H. Auden, dan Charles Madge, telah diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia yang dimuat dalam majalah Siasat dan Budaya Jaya.
 
Penulis yang pernah menjadi Dewan Juri Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976, bersama H.B.Jassin, M. Saleh Saad, Ali Audah, dan Rustandi Kartakusuma ini, wafat pada 23 Juli 2009.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Dodong Djiwapradja
 
Lahir :
Garut, Jawa Barat,
 25 Desember 1928
 
Wafat :
23 Juli 2009
 
Pendidikan :
Sekolah Dasar,
Sekolah Menengah Pertama (lulus tahun 1946),
 Sekolah Menengah Atas
(lulus tahun 1951),
Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, (1951–1952),
Akademi Hukum Militer
(Lulus tahun 1960)
Perguruan Tinggi Hukum Militer (lulus tahun 1963)
 
Karier :
Karyawan penerbit Pustaka Rakjat,
Karyawan Angkatan Udara Republik Indonesia,
Kepala Redaksi majalah Angkasa, majalah Angkatan Udara (1951–1956),
Guru di SMA-IPI Jakarta
(1953-1958),
Perwira Hukum pada Biro/Direktur Kehakiman Angkatan Udara di
Lanud Husein Sastranegara, Bandung
(hingga tahun 1975)
Pengajar Estetika Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1962–1964),
 Anggota Komisi Istilah Seksi Penerbangan (1951-1960),
Anggota Pengurus Pleno BMKN (1960)
 
Aktifitas Lain :
Pendiri Beungkeutan Pangulik Budaya (BPB)
 
Karya :
Kastalia (Kumpulan Puisi, Dunia Pustaka Jaya, 2007)
 
Penghargaan :
Buku kumpulan sajak karyanya ‘Kastalia’ mendapatkan hadiah dari Yayasan Buku Utama (1998) dan Hadiah dari Pusat Bahasa (2000)

You may also like...