Dolorosa Sinaga

Nama :
Dolorosa Sinaga
 
Lahir :
Sibolga, Sumatera Utara,
31 Oktober 1953
 
Pendidikan :
Institut Kesenian Jakarta,
St. Martin’s School of Art, London, Inggris,
Karnarija Lubliyana, Yugoslavia,
Piero’s Art Foundry Berkeley, Amerika Serikat
 
Profesi :
Pengajar  Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta
 
Penghargaan :
Citra Adhikarya Budaya,
Visual Arts Award (2011)
 
 

Pematung
Dolorosa Sinaga
 
 
Seni patung telah menjadi pilihannya. Mematung bukanlah cita-citanya. Karena mematung harus melibatkan kerja keras, banyak masalah teknik yang harus dikuasai dan yang paling utama adalah bahwa seni patung tersebut menawarkan persoalan relasi dimensional pada manusia. Itulah yang di ungkapkan oleh Dolorosa Sinaga, seorang wanita pematung. Dilahirkan 31 Oktober 1953 di Sibolga, Sumatera Utara.
           
Perhatiannya terhadap seni patung kelihatan setelah ia mengikuti pendidikan seni rupa (seni patung) di Institut Kesenian Jakarta. Untuk mendalami seni tersebut ia meneruskan pendidikannya di St. Martin’s School of Art di London, Inggris. Kemudian ia menambah pengetahuan di Karnarija Lubliyana, Yugoslavia dan di Piero’s Art Foundry Berkeley, Amerika Serikat.
           
Dalam menekuni seni patung, akhir-akhir ini, media patungnya beralih ke logam perunggu. Pilihan tersebut karena perunggu mempunyai kualitas yang dapat memukau dan permukaannya berkilau. Didalam perunggu tersebut tersimpan nuansa karakter perempuan dan pada sisi lain perunggu memiliki kekuatan dan ketahanan yang cenderung sebagai karakter laki-laki. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa dalam karakter perunggu itu ada dua karakter yang bertentangan, tetapi tak dapat dipisahkan antara satu dan yang lainnya. Karena itulah ia memilih perunggu sebagai medianya.
 


Quiet Zone, Fiberglass,
122 x 83 x 95 cm (2008)

Ia mencermati, bahwa kehadiran patung sebagai karya seni di tempat-tempat umum, seperti halnya lukisan hampir ada di setiap sudut-sudut ruang hotel, perkantoran dan tempat pertemuan dan tempat-tempat lainnya belumlah mendapat tempat yang maksimal. Begitu juga penempatan monumen-monumen sebagai penghias kota dengan monumen-monumen, seperti yang telah diprakarsai oleh Presiden Soekarno, yang diantaranya adalah Tugu Pembebasan Irian Barat, Patung Dirgantara, Tugu Selamat Datang, masih memperlihatkan sifat penciptaan yang representatif atau dengan kata lain masih dibuat dalam bentuk letter. Belum terlihat adanya pembuatan monumen dalam pendekatan simbolik artistik, seperti ide-ide Soekarno. Dalam artian yang jelas bahwa abstraksinya masih kurang.
           

 
Dalam masalah tersebut diakui olehnya, bahwa hal demikian saja seniman atau pematung yang membuat kekeliruan, tetapi juga agaknya berkaitan erat dengan wawasan para pemesan yang kurang memberi peluang bagi lahirnya karya-karya yang kreatif sebagai penghias kota. Dalam permasalahan tersebut ia menyadari bahwa sebenarnya dirasakan juga belum banyak pematung yang mengerti tentang pendekatan abstrak. Bertolak dari permasalahan tadi, ia bukan saja mengharapkan, tetapi dengan nada anjuran agar seniman dan masyarakat lebih meningkatkan komunikasi, agar pemahaman terhadap ekspresi seni bukan melulu wilayah yang hanya dimengerti oleh seniman saja.
 
Perjalanannya dalam menggeluti profesinya ini telah menelurkan karya-karya besar, diantaranya ‘Gate of Harmony’ di Kuala lumpur, Malaysia dan ‘The Crisis’ yang ia buat tahun 1998 bertengger di kota Hue, Vietnam. Pekerjaan ini dilakukannya ketika ia mendapat kepercayaan untuk mewakili Indonesia dalam Asean Squan Sculpture Symposium pada tahun 1987. Selain itu ia telah pula membuat monumen ‘Semangat Angkatan 66’ yang dipajang dibilangan Kuningan, Rasuna Said, Jakarta Selatan. Juga ia telah membuat elemen estetika untuk Bandar Kota Kemayoran, Jakarta.
           
Diluar itu, dengan dibantu oleh 15 orang karyawannya merancang pembuatan piala dan trophy. Piala rancangannya diantaranya adalah untuk penghargaan Yap Thiam Hien, Kridha Wanadya Tahama. Anugerah Menteri Negara Urusan Peranan Wanita untuk almarhum Ny. Tien Soeharto dan trophy kegiatan budaya Jakarta International Women’s Festival.
           
Menyadari akan arti pentingnya seni, terstimewa seni patung, maka demi kemajuan seni patung ia merelakan diri untuk duduk sebagai dekan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dan untuk mendukung kemajuan bidang tersebut ia terus mencurahkan segala daya dan kemampuannya agar seni patung dapat lebih memasyarakat. Selain dari tiga pemenang Monumen nasional.
           
Dari aktifitas yang terus digelutinya, yang terus merenung dan mencipta serta berkarya, berarti ia telah memberikan perhatian besar pada kelangsungan karya budaya. Dan perjuangan tersebut tidaklah sia-sia, karena ia sebagai wanita pematung telah terpilih sebagai salah satu orang yang mendapat penghargaan Citra Adhikarya Budaya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply