Dorman Borisman

Nama :
Kardiman Dorman Borisman
 
Lahir :
Jakarta, 5 Februari 1951
 
Pencapaian :
Aktor dan Sutradara Terbaik dalam Festival Teater Jakarta (1975),
IKJ Award kategori Aktor Terpilih (2012)
 
Filmografi :
Janji Pengantin 3 Kali (1974),
Kenangan Desember (1974),
Kugapai Cintamu (1975),
Kembang-Kembang Plastik (1975),
Suci Sang Primadona (1977),
Kugapai Cintamu (1977),
Binalnya Anak Muda (1978),
Jiwa (1979),
Anak-anak Buangan (1979),
Dari Mata Turun ke Hati (1979),
Kecupan Pertama (1979),
Suci Sang Primadonoa (1979),
Bibir Mer (1979),
Roman Picisan (1980),
GE…..ER (1980),
Pintar-pintar Bodoh (1980),
Lima Cewek Jagoan (1980),
Tempatmu Disisiku (1980),
Nostalgia Di SMA (1980),
Nikmatnya Cinta (1980),
Aduhai Manisnya (1980),
Senggol-senggolan (1980),
Perempuan dalam Pasungan (1980),
Srigala (1981),
Ratu Ilmu Hitam (1981),
Ira Maya Putri Cinderella (1981),
Manusia Enam Juta Dollar (1981),
Jaka Sembung Sang Penakluk (1981),
Gadis Bionik (1982),
Pasukan Berani Mati (1982),
Telaga Angker (1984),
Tergoda Rayuan (1984),
Ratu Sakti Calon Arang (1985),
Bangunnya Nyi Loro Kidul (1985),
Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986),
Ratu Buaya Putih (1988),
Malam Satu Suro (1988),
Santet (1988),
Kisah Cinta Nyi Blorong (1989),
Musnahkan Ilmu Santet (1989),
Taksi (1990),
Makelar Kodok Untung Besar (1990),
Yuyun Pasien Rumah Sakit Perempuan di Persimpangan Jalan (1993),
9 Naga (2006),
Amphibious (2009),
Serdadu Kumbang (2011),
Para Pemburu Gajah (2014)
 
Sinetron :
Rumah Masa Depan (1980),
Buniku Desaku (1984),
Pepesan Kosong (1984),
Saras 008 (1998-2000),
Saras Pembela Kebenaran (1998-2000),
Kecil-Kecil Ngobyek (2007),
Tukang Bubur Naik Haji (2012)

Seniman Teater
Dorman Borisman
 
 
Sejak awal tahun 1970-an sampai hari ini, ia sudah bermain dalam 300 lebih judul film, drama televisi, dan sinetron. “Selama terlibat dalam dunia seni dan hiburan itu, tak sekali pun saya kebagian peran utama. Selalu menjadi pemeran pembantu. Celakanya, saya hampir selalu memerankan tokoh Batak. Sampai-sampai saya jenuh, apa enggak ada peran lain. Syukurlah dalam sinetron belakangan saya sudah memerankan karakter-karakter Jawa dan Betawi”, tuturnya sedikit nyengir.
 
Keterkenalannya sebagai spesialis pemeran tokoh Batak dimulai ketika ia diminta menjadi pengisi suara untuk film ‘Kecupan Pertama’ pada tahun 1970-an. Sejak itu Dorman terlibat dalam film remaja yang dibintangi Rano Karno, seperti ‘Anak-anak Buangan’ dan ‘Binalnya Anak Muda’, dengan tetap memerankan tokoh Batak. Bahkan pada era sinetron yang meledak bersamaan dengan munculnya stasiun televisi swasta di Indonesia, ia tetap menjadi orang Batak. “Juga pemeran pembantu… ha-ha-ha. Tetapi, saya tak kecil hati kok,” katanya.
 
Begitu lekatnya peran itu, banyak yang kemudian tidak tahu ia tidak lahir di tanah Batak. Ia lelaki Jawa tulen yang lahir pada 5 Februari 1951 di Jakarta dari orangtua asli Purwokerto, jawa Tengah. “Kebetulan mungkin tampang saya keras sebagaimana tampang orang Batak,” kata ayah dari Gagah Pangestu Gusti ini.
 
Tetap dengan rendah hati ia mengaku, kebanyakan perannya sebagai orang Batak hanya sampai pada pengertian permukaan. “Jarang sekali dapat peran orang Batak sampai pada pengertian keterlibatan kultural,” ujarnya. Generasi sekarang bisa saja hanya mengenalnya lewat sinetron masa kini, seperti Saras dan Zorro, di mana ia tetap kebagian peran tambahan. “Ini dunia industri Bung,” kata lelaki bernama lengkap Kardiman Dorman Borisman ini. Kesadaran bahwa hiburan telah memasuki era industri bersama dengan maraknya televisi swasta di Tanah Air membuatnya sebagai aktor bertahan sampai sekarang. “Pokoknya asal skenarionya tidak konyol-konyol amat, saya pasti terima,” kata dia lagi. Ia sadar dunia film dan sinetron sangat berbeda dari dunia film yang ia kenal ketika bermain dalam film garapan Wim Umboh atau Syumanjaya.
 
“Dulu ada proses. Sekarang semua instan. Ya itulah industri. Kami datang ke tempat syuting kadang-kadang tanpa naskah sama sekali. Begini, begini, ah sudah kita langsung ambil…,” tutur suami dari Sukowati ini. Keaktoran yang melekat padanya sebagai pemain teater sejak tahun 1971 tak membuat dia canggung berhadapan dengan pemain muda yang hanya mengandalkan tampang. “Banyak aktor, yang tidak tahan menghadapi era industri hiburan belakangan ini lalu memilih tidak bermain lagi,” katanya. “Kita harus sadar sepenuh-penuhnya, orang seperti Didi Petet atau Mathias Muchus dan saya hanya kebagian peran khusus saja. Tidak bisa lagi seperti mereka yang lebih muda, yang sekali casting langsung dapat peran,” katanya. “Peran khusus itu, ya itu tadi, seperti peran yang memerlukan pendalaman karakter, seperti menjadi Batak, Jawa, atau Sunda”, tambahnya.
 
“Sebenarnya, menjadi aktor itu hakikatnya memerankan orang lain,” tegasnya. Selain berusaha tetap hadir dalam dunia peran, ia memperlakukan industri hiburan sebagai penopang kegiatan teaternya. “Saya melakukan subsidi silang. Saya gunakan honor dua episode sinetron untuk membiayai produksi sebuah pementasan Eksekusi,” kata aktor dan sutradara terbaik dalam Festival Teater Jakarta tahun 1975 ini.
 
Eksekusi yang dimaksudnya tak lain judul naskah teater yang ia pentaskan pada 10-11 Desember 2003 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) bersama Teater Jakarta Timur yang ia dirikan tahun 1971 silam. Ia adalah sedikit orang di dunia hiburan yang masih menganggap eksplorasi keaktoran tetap penting untuk menghasilkan karya bermutu. Tetapi, ia tetap tidur di pangkuan industri sebagai basis untuk tetap hadir dan diperhitungkan. Ia sadar benar bahwa penolakan berarti terlempar dan kehilangan muka di mata keluarga.
 
Ia menganggap keterlibatannya dalam film dan sinetron belakangan tak berbeda dari ketika ia menjadi pengasong lukisan di Ubud atau pedagang ayam dan sopir bemo di Jakarta. Berbagai profesi itu pernah ia jalani untuk tetap bisa berkreativitas di dunia teater. “Inilah cara ia tetap menjaga idealismenya di dunia kesenian”, katanya. Sebenarnya, diam-diam ia berharap dunia teater juga bisa memasuki era di mana penonton datang berduyun-duyun seperti menonton musik klasik. “Tetapi tetap dunia ini dunia idealisme. Kalau saya mau, banyak partai menawarkan kerja sama. Tetap saya tidak mau karena tuntutannya saya harus mengorbankan idealisme dan harus mengagungkan partai itu,” tuturnya. Namanya mulai dikenal di dunia layar perak ketika bermain dalam film ‘Kenangan Desember’ (1974).
 
Setelah membintangi film remaja bersama Rano Karno, Dorman justru malang-melintang dalam film mistik bersama Suzzanna (almh) dan Bokir (alm). Ia, tercatat membintangi ‘Nyi Roro Kidul’, ‘Bangkitnya Nyi Roro Kidul’, ‘Nyi Ageng’, ‘Nyai Pelet’, ‘Malam Jumat Kliwon’, ‘Ratu Buaya Putih’, ‘Dendam Nyi Roro Kidul’, ‘Srigala’, serta beberapa lainnya. “Keterlibatannya dalam film-film itu tetap dalam bingkai mencari penopang bagi kegiatan idealismenya di dunia teater”, tuturnya.
 
Sejak Teater Gelanggang Remaja Jakarta Timur, nama lama sebelum berubah menjadi Teater Jakarta Timur, ia dirikan tahun 1971, lelaki bercambang ini telah memutuskan untuk selamanya berada di dunia akting. Selain mendirikan kelompok ini, ia juga aktif terlibat bersama Teater Ketjil pimpinan Arifin C Noor dan Teater Populer pimpinan Teguh Karya. “Saya seperti magang di sana. Bahkan dengan Teater Ketjil pernah berkeliling di Amerika Serikat tahun 1980-an membawa naskah Sumur tanpa Dasar,” katanya.
 
Keterlibatan intens di dunia peran ini yang membuat Dorman tampil sebagai aktor serba bisa. Bahkan ketika sesi pemotretan ia menantang, “Saya harus berperan sebagai apa? Paling-paling jadi orang Batak Bung, he-he.” Sebagai aktor, ia menyamakan dirinya sebagai tukang. “Pokoknya tergantung permintaan, mau bikin kamar mandi atau rumah juga bisa. Mirip-mirip tanah liat ya. Jadi dibentuk apa saja tergantung yang membentuk”, katanya. Perumpamaan tanah liat ini barangkali pas dengan daya tahan lelaki yang suka mengenakan baret ini dalam dunia seni peran. Ia telah menjajal dunia panggung, layar perak, dan televisi sejak memutuskan hidup sebagai aktor.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...