Dorothea Rosa Herliany

Nama :
Dorothea Rosa Herliany
 
Lahir :
Magelang, Jawa Tengah,
20 Oktober 1963
 
Pendidikan :
SD
SMP
SMA Stella Duce (Yogyakarta)
FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (1983-1987)
 
Karier :
Pemimpin Redaksi Jurnal Kolong Budaya (1995-2004),
Wakil Pimpinan Umum Majalah Matabaca (2002-2004),
Pendiri Penerbit IndonesiaTera (1998),
Ketua Lembaga Keadilan dan Perdamaian bagi Perempuan NUR (2010)
 
Karya Puisi  :
Nyanyian Gaduh (1987),
Matahari yang Mengalir (1990),
Kepompong Sunyi (1993),
Nyanyian Rebana (1993),
Nikah Ilalang (1995 & 2003),
Blencong (1995),
Karikatur dan Sepotong Cinta (1995),
Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999),
Perempuan yang Menunggu (2000),
Farida Oetoyo : Menari Diatas Ilalang (2001),
Sebuah Radio Kumatikan (2001)
Kill the Radio (2007)
 
Penghargaan :
Sastrawan Terbaik pilihan PWI Jawa Tengah (1995),
Budayawan terbaik dari Pemda Magelan, Jawa Tengah (1995),
Buku Puisi Terbaik ‘Mimpi Gugur Daun Zaitun’ dari DKJ (2000),
Pemenang kedua Sayembara Kumpulan Puisi Terbaik PKJ-TIM
 1998-2000,
 Pengarang Terbaik dari Pusat Bahasa (2003),
Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayaan & Pariwisata (2004)


Penyair
Dorothea Rosa Herliany
 
 
Dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, tanggal 20 Oktober 1963. Sejak kecil Rosa (panggilan akrabnya) suka membaca, meski ia bukan berasal dari keluarga berada yang mampu membeli buku. Ayahnya, A. Wim Sugito, ayahnya, seorang pegawai negeri sipil di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang. Ibunya, A. Louisye, seorang ibu rumah tangga. Kebiasaan membaca itu timbul karena ia sering main ke rumah tetangganya yang mempunyai banyak buku dan majalah.
 
“Dari sering membaca kemudian muncullah kemampuan untuk membuat cerita atau puisi,” ujar Rosa. Tulisan pertamanya yang berbentuk opini, dimuat di majalah Hai, ketika ia masih SMP. “Sejak saat itu semangat saya untuk menulis terus menggebu,” kenangnya. Bahkan cita-citanya menjadi psikolog ia tinggalkan.
 
Tamat dari SMA Stella Duce, Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (Universitas Sanata Dharma). Sewaktu kuliah keinginannya untuk menjadi penulis semakin mantap, apalagi di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, tempat Rosa kuliah, sering dilangsungkan berbagai lomba penulisan, latihan mengarang atau melakukan jenis kegiatan yang bersifat pengemukaan ekspresi. Hal ini membuat Rosa semakin terpacu menulis di media, puisi-puisinya muncul di harian Sinar Harapan dan Suara Pembaruan. “Waktu itu senangnya bukan main, karena itu bagi saya hal yang luar biasa,” tutur pengagum penyair dan penulis Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, dan Arswendo Atmowiloto ini.
 
Setelah tamat dari IKIP Sanata Dharma tahun 1987, ia sempat beberapa tahun menjadi guru di SMA Gama Yogyakarta. Tapi akhirnya ia terjun total sebagai penyair dan penggiat kebudayaan. Pernah menjadi koresponden harian Suara Pembaruan, majalah Prospek, majalah Sarinah dan sejak tahun 1995 menjadi redaktur Jurnal Kebudayaan Kolong terbitan Magelang, Jawa Tengah.
 
Bersama suaminya, Andreas Dharmanto (damtoz) yang juga bergelut di bidang penulisan, sejak 1997, mengelola IndonesiaTera, yayasan yang bergerak di bidang penelitian, penerbitan, dan dokumentasi kebudayaan. Pernah mengikuti Pertemuan Sastrawan Muda ASEAN di Philiphina tahun 1990, dan Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda tahun 1995. Tahun 2000, ia menjadi writer-residence di Australia.
 
Kumpulan sajaknya yang memuat sajak Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nyanyian Rebana (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999) dan Kill the Radio (2001) terpilih sebagai pemenang kedua Sayembara Kumpulan Puisi Terbaik 1998-2000 PKJ-TIM.
 
Karya tulis ibu dari Regina Redaning dan Sabina Kencana Arimanin tan ini, telah dimuat di Heat (Australia, 1999), Secret Needs Words (Amerika Serikat), Archipel (Belanda, 2002), Generation Asia (Australia, 2002) Building A New Road (bahasa Jepang 2003 dan bahasa Korea 2004), Van Hoc Nuoc Ngoai (bahasa Vietnam 2004), The Seattle Review (Amerika Serikat, 2005) dan ASIA, Magazine of Asian Literature (Korea Selatan, 2007).     
 
(Dari berbagai sumber)

You may also like...

Leave a Reply