Dwiki Dharmawan

Nama :
Dwiki Dharmawan
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
19 Agustus 1966
 
Pendidikan :
SMA
 
Profesi :
Komposer
 
Aktivitas Lain :
Pendiri Sekolah Musik Farabi,
Anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (2005-2007),
Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Artis (PAPRI),
Direktur Asean Jazz Festival 2012
 
Penghargaan :
The Best Keyboard Player pada Yamaha Light Music Contest 1985 di Tokyo, Jepang (1985),
Meraih Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik FFI 1991 dalam film Cinta Dalam Sepotong Roti (1991),
The Best Seller Album Prize di the HDX Awards (1996), Grand Prize pada 2000 Asia Song Festival di Manila, Filipina (2000),
Gelar Kanjeng Raden Ario dari Keraton Surakarta Hadiningrat (2008),
Jazz Ambassador dari Java Jazz Festival (2009)
 
 


Musisi
Dwiki Dharmawan
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, tahun 1966, belajar piano klasik pada usia 6 tahun. Di usia 13 tahun, ia belajar piano jazz kepada Elfa Secioria (alm). Sejak kecil telah sering menciptakan karya musik instrumental. Kariernya dimulai tahun 1985 saat membentuk grup musik ‘Krakatau’ bersama Pra B. Dharma, Donny Suhendra dan Budhy Haryono dimana kemudian ia meraih penghargaan ‘The Best Keyboard Player’ pada Yamaha Light Music Contest 1985 di Tokyo, Jepang.
Setelah merilis 5 album yang lebih bernuansa Pop Fusion bersama Krakatau, kegelisahannya dipenghujung tahun 1990 membuatnya menekuni berbagai musik tradisi Indonesia, dimulai dengan eksplorasinya dengan musik sunda, tanah kelahirannya, kemudian merilis album ‘Mystical Mist serta ‘Magical Match’. Baginya tradisi Indonesia yang sangat beragam adalah kekayaan dan sumber inspirasi yang tiada habisnya.
Hasratnya untuk bereksplorasi dengan berbagai kekayaan tradisi mulai dari Aceh, Melayu, Jawa, Bali, dan musik-musik Indonesia Timur tak terbendung. Namun yang terpenting adalah bagaimana karya musik tersebut bisa mengangkat derajat musik tradisi Indonesia serta memperkenalkannya dengan skala internasional.
Sebagai komposer, ia telah bekerjasama dengan sutradara terkemuka Indonesia, Garin Nugroho, menjadi penata musik film-film karya Garin, diantaranya pada film ‘Cinta Dalam Sepotong Roti’ yang mengantarnya meraih Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik FFI 1991, ‘Rembulan di Ujung Dahan’, serta ‘Rindu Kami PadaMu’. Tahun 2000 ia mendapat Grand Prize Winner pada Asia Song Festival 2000 di Filipina.
Tahun 2005, ia menjadi co music director untuk pagelaran musik spektakular Megalithicum Quantum di Jakarta dan Bali. Selain sudah menghasilkan 9 album dengan Krakatau serta puluhan artis papan atas Indonesia, ia juga merilis album solo ‘Nuansa’ (2002) dibawah label Sony Music Entertainment, didukung oleh musisi kaliber dunia seperti Mike Stern, Lincoln Goiness, Richie Morales, Neil Stubenhaus, Ricky Lawson dan Mike Thompson dari Amerika Serikat serta beberapa musisi Australia seperti Steve Hunter, David Jones dan Guy Strazullo.

Tahun 2006, ia merilis 2 buah album terbarunya bersama Krakatau yaitu album ‘Two Worlds’ yang merupakan album hasil kerja kolaboratif Krakatau dengan musisi mancanegara sepanjang North America dan European Tour 2004-2005 dan album ‘Rhythm of Reformation’ yang merupakan  percussion pieces dari Krakatau.

Kepeduliannya terhadap kemajuan musik di Indonesia diwujudkannya dengan mengembangkan Lembaga Pendidikan Musik Farabi, sebuah sekolah musik yang banyak diminati kawula muda dan memberikan pelajaran musik jazz, klasik maupun tradisional. Ia juga aktif pada organisasi seni dengan menjadi anggota komite musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta menjadi Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Artis, Penata Musik dan Pencipta Lagu Indonesia (PAPPRI).
Pasca Tsunami di Aceh dan Nias, awal tahun 2005, ia menggagas konser amal ‘Jazz for Aceh’ yang melibatkan ratusan musisi jazz Indonesia. Ia adalah musisi Indonesia yang telah banyak tampil diberbagai ajang musik internasional. Bersama grupnya ‘Krakatau’, Ia telah menampilkan karya-karya musiknya diantaranya di Lincoln Center Out of Door Festival 2004 (New York, Amerika Serikat), Chicago Cultural Center (Amerika Serikat), Hot Summer Jazz St Paul (Amerika Serikat), University of District of Columbia (Washington DC, Amerika Serikat), Olscamp Hall Bowling Green State University Ohio (Amerika Serikat), Krannert Center University of Illinois, (Amerika Serikat), Urbana (Amerika Serikat), Colorado Springs (Amerika Serikat), Toronto Jazz Festival (Kanada) dan Vancouver Jazz Festival (Kanada), juga pada berbagai konser di benua Eropa dan Asia seperti  Sziget Festival 2003 (Hongaria), Midem-Cannes 2000 (Perancis), North Sea Jazz Festival 2005 (Belanda), Montreux Jazz Festival 2005 (Swiss) serta puluhan penampilan lainnya di China, Jepang, Australia, Spanyol, Bulgaria, Romania, Serbia-Montenegro, Republik Ceko, Republik Slovakia, Venezuela, Malaysia, Singapura dan lain-lain.
Musik Krakatau cukup mendapat perhatian secara internasional karena berhasil memadukan gamelan serta musik-musik tradisi Indonesia lainnya dengan Jazz dengan pencapaian musikal yang pas. Jurnal Worlds of Music yang diterbitkan di Amerika Serikat menulis Krakatau sebagai bagian penting dari khazanah World Music.
Pada penampilannya yang ke-8 di JavaJazz 2-4 Maret 2012, suami dari penyanyi Ita Purnamasari ini, bersama ‘Krakatau’ ia tampil mendukung konser Bobby McFerrin, pelantun lagu ‘Don’t Worry be Happy’. Selain itu, bersama para musisi tradisional angklung dari Saung Angklung Udjo di Bandung, Jawa Barat, ia tampil dalam sesi A Tribute to Herbie Hancock di hari terakhir JavaJazz 2012.   
(Dari Bebagai Sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply