Eddy D. Iskandar

Nama :
Eddy D. Iskandar
 
Lahir :
Ciwidey, Bandung,
Jawa Barat, 11 Mei 1951
 
Pendidikan :
Sarjana Muda Akademi Industri Pariwisata/AKTRIPA) Bandung (Lulus 1975),
Akademi Sinematografi LPKJ/IKJ
 
Penghargaan :
Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2010 dalam bidang Film dari pemerintah Kota Bandung,
Penghargaan Anugrah Seni Budaya Jawa Barat (2010).
 
Karya Sastra :
Malam Neraka,
Gita Cinta Dari SMA,
Puspa Indah Taman Hati,
Cowok Komersil,
Semau Gue,
Sok Nyentrik,
 
Filmografi :
Cowok Komersil (1977),
Semau Gue (1977),
Musim Bercinta (1978),
Puspa Indah Taman Hati
(1979),
Gita Cinta Dari SMA (1979),
Roman Picisan (1980),
Sejoli Cinta Bintang Remaja (1980),
Bunga Cinta Kasih (1981),
Biarkan Aku Cemburu (1988)
Si Kabayan Saba Kota (1989),
Komar si Glen Kemon Mudik (1990),
Si Kabayan dan Anak Jin (1991),
Si Kabayan Saba Metropolitan (1992),
Si Kabayan Mencari Jodoh  (1994),
 
Sinetron :
Mentari di Balik Awan (1996),
Harkat Wanita (1996),
Tirai Kasih yang Terkoyak (1997),
Senyum di Wajah Tangis di Hati (1997),
Si Kabayan (1997),
Selalu Untuk Selamanya (1997)


Penulis
Eddy D. Iskandar
 
 
 
Lahir di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, 11 Mei 1951. Minat menulisnya diawali dari hobinya membaca buku. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku yang di pinjam di perpustakaan umum untuk bacaan orang tuanya. Beberapa karya penulis besar, seperti Motinggo Busye, Toha Mohtar, Mochtar Lubis, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail, hingga Pramoedya Ananta Toer kerap di bacanya.
 
Tulisan pertamanya yang berjudul Malam Neraka hadir secara tidak sengaja saat ia mengikuti orientasi mahasiswa baru di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, pada tahun 1970. Tulisan tersebut di muat di Mingguan Mandala yang redaktur budayanya pada saat itu adalah sastrawan Muhammad Rustandi Kartakusumah (alm). Sejak saat itu, ia mulai rajin menulis beragam tulisan, esai, dan puisi.
 
Di tahun 1975, setelah menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, ia pergi ke Jakarta guna menekuni dunia film di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Ia ingin menjadi sutradara. Film dianggapnya sebagai media yang paling mudah mempengaruhi dan melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat.
 
Di Jakarta, ia kerap berada di Taman Ismail Marzuki yang dikenal sebagai gudangnya penulis dan seniman. Namun, bukan menjadi sutradara, ia justru semakin matang sebagai penulis serba bisa. Selain bergaul dengan seniman dari segala profesi, ia juga sering menyaksikan beragam pementasan di TIM. Eddy juga turut bergabung dalam grup wartawan Zan Zapha Grup yang beranggotakan para penulis muda sepertu El Manik dan Noorca M. Massardi. Tulisan-tulisannya kemudian di distribusikan ke berbagai media cetak, terutama majalah populer.
 
Karya tulisnya yang fenomenal, berjudul, Gita Cinta Dari SMA dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Gadis pada tahun 1976. Karyanya ini banyak menuai pujian. Atas permintaan pembaca, ia membuatkan cerita sambungannya, Puspa Indah Taman Hati. Novel Gita Cinta Dari SMA juga diangkat ke layar lebar yang mengorbitkan pasangan, Rano Karno dan Yessy Gusman. Novelnya yang lain, yang berkisah tentang cinta antara tokoh Galih dan Ratna itu juga pernah di reka ulang dalam bentuk sinetron bersambung yang di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Tahun 2004, ia kembali merilis novel Gita Cinta Dari SMA, Di tahun 2010, Gita Cinta Dari SMA kembali di angkat sebagai drama musikal berjudul ‘Gita Cinta The Musical’.
 
Novelnya yang lain, yang juga meraih sukses di pasaran antara lain, Cowok Komersil, yang berhasil dicetak enam kali dalam setahun dengan rata-rata 5.000 buku percetak. Selanjutnya novel Semau Gue diminati sineas film dan menjadi film bertabur bintang, seperti Rano Karno, Yessy Gusman dan Yenny Rachman. Sementara novel dengan 100 halaman berjudul Sok Nyentrik yang di selesaikannya hanya dalam kurun waktu sehari, tercatat berhasil berkali-kali cetak ulang. Salah satu kekuatan novel karya Eddy D. Iskandar karena daya ungkap dan dialognya yang mengalir lancar dan tetap aktual, tidak berpengaruh oleh perubahan trend.
 
Ketenaran tidak membuatnya puas. Ia merasa ada kekosongan batin karena jauh dari kultur asalnya, Jawa Barat. Ia kagum dengan seniman dari daerah lain yang bisa membuat berbagai karya berbasis kearifan lokal. Kesempatan pun datang saat ia di tawari mengelola koran mingguan berbahasa Sunda, Galura, meskipun secara finansial kalah jauh dengan menulis novel popular, namun kepuasan batin sulit dicari tutur penulis berambut Gondrong berwarna putih ini.
 
Berkecimpung di media massa berbahasa Sunda memberikan banyak pengalaman baru. Ia aktif dalam pembuatan karya seni Sunda, antara lain naskah cerita legenda tanah Sunda seperti Kisah Perang Bubat, menggarap pementasan Konser Kecapi Patereman dan musik Perkusi Marakdungga dalam pergelaran kolosal Mahawira Tatar Sunda, sehingga mengangkat pamor tembang Bandungan yang sebelumnya jarang dimainkan. Ia juga aktif merangkul seniman agar berani mementaskan dirinya, seperti Paguyuban Pelawak Sunda atau Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat.
 
Meski sudah terjun dalam pelestarian budaya Sunda, Bakat besarnya sulit di sembunyikan. Tahun 1989, ia diminta menulis skenario film mitos terpopuler Sunda, Si Kabayan. Ia berhasil mengangkat tokoh Si Kabayan yang di bawakan oleh Didi Petet itu menjadi disukai masyarakat Indonesia. Film sekuel Si Kabayan antara lain Si Kabayan Saba Kota (1989), Si Kabayan dan Anak Jin (1991), Si Kabayan Saba Metropolitan (1992), serta Si Kabayan Mencari Jodoh  (1994) menjadi film berbalut kearifan lokal terlaris di Indonesia saat itu. Belakangan Si Kabayan juga di buat dalam bentuk sinetron dengan judul Si Kabayan (1997).
 
Salah satu kunci suksesnya saat menggarap sekuel Kabayan adalah keberaniannya mendobrak kemapanan dan membawa ide segar dalam film, Kecintaannya pada film jualah yang mendorong dirinya bersama produser Chad Parwez Servia membidani lahirnya Forum Film Bandung yang rutin menyelenggarakan Festival Film Bandung (FFB) sejak tahun 1988. Kini ia menjabat sebagai ketua umum FFB.
 
Atas dedikasinya yang besar dibidangnya, tercatat beberapa kali ia meraih penghargaan, diantaranya mendapat nominasi untuk skenario jenis komedi untuk Si Kabayan pada FSI 1997, Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2010 dalam bidang Film dari pemerintah Kota Bandung dan Penghargaan Anugrah Seni Budaya Jawa Barat (2010). Penulis yang kini menjadi ketua umum Festival Film Bandung dan bermukim di Bandung ini, menikah dengan Evi Kusmiati, dikaruniai tiga orang putri Dini Handayani, Novelia Gitanurani, Asri Kembang kasih dan satu orang putra Andre Anugerah. Sampai saat ini ia tetap produktif menulis termasuk menulis sekian banyak skenario sinetron dan film.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply