Edi Sedyawati

 Nama :
Edi Sedyawati
 
Lahir :
Malang, Jawa Timur,
28 Oktober 1938
 
Pendidikan :
SR (1951),
SMP (1954),
SMA (1957),
Fakultas Sastra Jurusan Arkeologi UI (1963),
Pengukuran Pendidikan UI (1974),
Ethnomusicology, East West Center, Amerika Serikat
(September 1974 – Februari 1975),
Program Doktor Fakultas Sastra UI (1985)
 
Karier:
Asisten Pengajar FS/FIB-UI
 (1961-1963),
Pengajar FS/FIB-UI
 (1963- sekarang),
Anggota Komisi Istilah pada Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Departemen P&K (1964-1966),
Pejabat Ketua Bidang Koreografi Lembaga Musikologi dan Koreografi Ditjen Kebudayan P&K
(1969-1974),
Ketua Jurusan Arkeologi UI (1971-1974),
Kepala Jurusan Tari, Akademi Teater dan Tari LPK/IKJJ
(1973-1977),
Ketua Komite Tari DKJ
(1971-1976),
Pembantu Dekan I LPKJ/IKJ (1978-1980),
Pembantu Rektor IKJ
 (1986-1989),
Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra UI (1987-1993),
Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya UI (1989-1993),  
Dirjen Kebudayaan RI
(1993-1999),
Governor Untuk Indonesia,
Asia-Europe Foundattion
(1999-2001)
 
Aktifitas Lain :
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Jakarta
 (1986-1990),
Ketua Himpunan sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat UI (1992-1993),
Ketua Umum Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia
(1995-1999, 1999-2002)
 
Karya Tulis :
Pengarcaan Ganesha Masa Kadiri dan Singhasari : sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian (desertasi gelar doktor)
 
Penghargaan :
Hadiah Pertama untuk riset terbaik dari Universitas Indonesia bidang Humaniora (1986),
Bintang Jasa Utama RI (1995),
Satyalencana Karya Satya (1977),
CHEVALIER DAN’’S L’ONDRE DES ARTS ET DES LETTRES dari pemerintah Republik Perancis (1997),
Mahaputra Utama dari Pemerintah RI (1998),
Penghargaan Sebagai Peneliti Senior Berprestasi dari UI (2012),
Anugerah Indonesian Dance Festival (2012),
Penghargaan di bidang Kebudayaaan dari UNESCO (2015)

Seniman Tari
 Edi Sedyawati
 
 
 
Pada usia 17 tahun, ia dibawa orangtuanya menonton wayang orang Ngesti Pandowo, di Jakarta. Ia sangat terkesan oleh penari Suwarni, yang malam itu memerankan tokoh utama dalam tari blambangan. “Sejak saat itulah timbul keinginan saya untuk belajar tari”, tuturnya. Lahir di Malang, Jawa Timur, bermukim di Jakarta sejak masuk SD. Anak sulung dari dua bersaudara, ayahnya, Iman Sudjahri (alm), mantan pengacara swasta yang menjadi redaktur majalah Indonesia Raja (sebelum masa kemerdekaan RI) dan kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Kementrian Sosial.

 
Menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan RI pada tahun 1993 s/d tahun 1999, dan berperan sangat besar pada pendirian Galeri Nasional di Jakarta. Ia memprakarsai terselengaranya pameran seni rupa negara non-blok pada saat peresmian Galeri Nasional yang diresmikan oleh Presiden Soeharto. Melalui beberapa guru tari, ia berkembang menjadi penari yang sering tampil dalam peran Abimanyu dan Arjuna. Agaknya, penampilan kedua tokoh itu didukung oleh kepribadiannya yang halus dan tenang.
 
Setelah menamatkan studi di tahun 1963, minatnya terhadap dunia tari tak pernah kunjung padam. Meski tak lagi sering tampil di panggung, ia berkembang menjadi pengulas tari yang banyak diperhatikan. Berbagai artikelnya muncul di surat kabar dan majalah. Tak hanya tentang tari, melainkan juga berkenaan dengan dunia arkeologi. Sebuah bukunya, ‘Pertumbuhan Seni Pertunjukkan Tari Ditinjau dari Berbagai Segi’, terbit tahun 1981. Tahun 1974, ia membawa rombongan LPKJ/IKJ dalam studi tari di Minangkabau pada September 1974 sampai Februari 1975, ia menjalani studi etnomusikologi di East-West Center, Amerika Serikat.

 
Ia gembira melihat para orang tua yang mendorong anak-anaknya belajar tari akhir-akhir ini, “Dulu penari mendapat gambaran yang salah, sering dianggap sebagai pertunjukkan yang tidak patut”, katanya. Ia juga mengkritik motivasi beberapa orang tua. Ada orang tua yang ingin melihat anaknya segera tampil di depan umum, setelah pintar menari. “Ini keliru, Seharusnya motivasi itu adalah belajar menari untuk mengembangkan kepribadian. “Jadi memang mengandung aspek pendidikan pribadi”, tambahnya.
 
Desertasinya ‘Pengarcaan Ganesha Masa Kadiri dan Singhasari : sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian’, yang telah diterbitkan oleh EFEO, LIPI dan Rijksuniversiteit Leiden tahun 1994 itu, juga diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Verhandelingen, Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV) No. 160, Leiden yang berjudul Ganesha statuary of the Kadiri and Singhasari periods, A study of art history, sampai saat ini banyak dimanfaatkan oleh para peneliti asing.  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply