Eeng Saptahadi

Nama :
Muhammad Jueri Hadi
 
Lahir :
Indramayu, Jawa Barat,
15 Februari 1958
 
Pendidikan :
Institut Kesenian Jakarta (lulus 1985)
 
Filmografi :
Senjata Rahasia Nona (1983),
Cinta di Balik Noda (1984),
Omong Besar (1988),
Cinta Cuma Sepenggal Dusta (1989),
Kipas-Kipas Cari Angin (1989),
Semua Sayang Kamu (1989),
Mutiara di Khatulistiwa (1990),
Takkan Lari Jodoh di Kejar (1990),
Ojek (1991)
 
Sinetron :
Losmen,
Warisan Darah Biru (1993),
Pelangi di Hatiku (1993),
Saling Silang (1994),
Warisan I (1995),
Warisan II (1995),
Vonis Kepagian (1995),
Dua Pilar (1997),
Saat Memberi Saat Menerima,
Air Mata Ibu (1997),
Celana Bulu Jin,
Kawin Gantung,
Jomblo (Seri TV),
Maha Kasih,
Pintu Hidayah,
Selalu Ada Jalan,
Rahasia Hati Lelaki


Seniman Teater
Eeng Saptahadi
 
 
 
Bernama lengkap Muhammad Jueri Hadi. Lahir di Indramayu, Jawa Barat, 15 Februari 1958. Latar Belakang Pendidikannya Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sambil kuliah dan menjadi asisten dosen di IKJ, Eeng yang menyelesaikan pendidikan pada tahun 1985, juga mengikuti kegiatan di beberapa sanggar teater terkenal, semisal Teater Mandiri dan Teater Lembaga.
 
Selain di teater, ia bermain dalam beberapa buah judul film, Diantaranya Senjata Rahasia Nona (1983) dan Cinta di Balik Noda (1984). Perannya yang cukup berarti didapatnya ketika bermain dalam film Omong Besar (1988). Filmnya yang lain yakni Cinta Cuma Sepenggal Dusta (1989), Kipas-Kipas Cari Angin (1989), Semua Sayang Kamu (1989), Mutiara di Khatulistiwa (1990), Takkan Lari Jodoh di Kejar (1990) dan Ojek (1991). Namun agar namanya dapat muncul ke permukaan, ia juga harus bergelut dengan memainkan banyak peran kecil. Usahnya tidak sia-sia, terbukti dalam perhelatan FFI 1989, namanya masuk dalam nominasi Aktor Utama lewat film Semua Sayang Kamu.
 
Pernah bermain beberapa judul sinetron. Namanya semakin dikenal orang, setelah ia tampil dalam sinetron Losmen yang ditayangkan di TVRI pada dekade tahun 1980-an. Di sinetron yang disutradarai oleh dosennya, W. Sihombing (alm) tersebut, ia bermain bersama Dewi Yull, Ida Leman dan Mang Udel. Dikenal dengan aktingnya sebagai bintang antagonis. Dalam perjalanan karirnya, tercatat ia turut membintangi sinetron Pelangi di Hatiku (1993), Saling Silang (1994) dan Air Mata Ibu (1997), serta serial TV Jomblo. Pada Festival Sinetron Indonesia 1996, namanya sempat dicalonkan sebagai Aktor Utama Drama dalam sinetron Vonis Kepagian (1995).
 
Dua puluh tahunan bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan karier di bidang akting. Namun, Eeng Saptahadi mampu membuktikan itu. Aktor yang terjun ke dunia peran sejak tahun 80-an ini tak pernah sekalipun alih profesi. Bisa jadi karena itulah aktingnya kian matang. Jam terbangnya yang tinggi membuat Eeng tak pernah lagi memilih peran. Prinsipnya selalu belajar mempertajam ilmu. Semua peran, terangnya, membutuhkan emosi, yang penting adalah kita bisa mengimajinasikan setiap peran yang diberikan.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...