Emha Ainun Nadjib

Nama :
Emha Ainun Nadjib
 
Lahir :
Jombang, Jawa Timur,
 27 Mei 1953

Pendidikan :
SD, Jombang (1965);
SMP Muhammadiyah Yogyakarta (1968),
Pesantren Gontor, Ponorogo (tidak tamat),
 SMA Muhammadiyah
 Yogyakarta (1971),
FE UGM (tidak tamat)
 
Pendidikan Informal :
Lokakarya Teater di Filipina (1980),
International Writing Program, Universty of Iowa, Amerika Serikat (1984)
 
Karier :
Pengasuh ruang sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970),
 Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini (1973-1976),
Penulis Puisi dan Kolumnis di beberapa media
 
Penghargaan :
The Muslim News Award dari Islamic Excellence di London, Inggris (2005),
Satyalencana Kebudayaan (2011)
 
Karya Teater :
Geger Wong Ngoyak Macan (1979)
Patung Kekasih (1979),
Keajaiban Lik Par (1980),
Mas Dukun (1982),
Santri-Santri Khidhir (1990), Lautan Jilbab (1990),
Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993),
Perahu Retak (1992),
Tikungan Iblis (2010)
Nabi Darurat Rasul AdHoc  (2012)
 
Filmografi :
RAYYA, Cahaya di Atas Cahaya (skenario film ditulis bersama Viva Westi, 2011)
 
Karya  Puisi/Buku :
‘M’ Frustasi (1976),
Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
Sajak-Sajak Cinta (1978),
Nyanyian Gelandangan (1982),
102 Untuk Tuhanku (1983),
Suluk Pesisiran (1989),
Lautan Jilbab (1989),
Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
Cahaya Maha Cahaya (1991),
Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
Abacadabra (1994),
Syair-syair Asmaul Husna (1994)
 
Karya  Essai/Buku :
Dari Pojok Sejarah (1985),
Sastra Yang Membebaskan (1985)
Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
Markesot Bertutur (1993),
Markesot Bertutur Lagi (1994),
Opini Plesetan (1996),
Gerakan Punakawan (1994),
Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
Slilit Sang Kiai (1991),
Sudrun Gugat (1994),
Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
Bola- Bola Kultural (1996),
Budaya Tanding (1995),
Titik Nadir Demokrasi (1995),
Tuhanpun Berpuasa (1996),
Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997),
Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997),
Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998),
Kiai Kocar Kacir (1998),
Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (Penerbit Zaituna, 1998),
Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999),
Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
Menelusuri Titik Keimanan (2001),
Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
Segitiga Cinta (2001),
Kitab Ketentraman (2001),
Trilogi Kumpulan Puisi (2001),
Tahajjud Cinta (2003),
Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003),
Folklore Madura (Agustus 2005, Yogyakarta, Progress),
Puasa Itu Puasa (Agustus 2005, Yogyakarta, Progress),
Syair-Syair Asmaul Husna (Agustus 2005, Yogyakarta, Progress)
Kafir Liberal (Cetakan II, April 2006, Yogyakarta, Progress),
Kerajaan Indonesia (Agustus 2006, Yogyakarta, Progress),
Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006, Kompas),
Istriku Seribu (Desember 2006, Yogyakarta, Progress),
Orang Maiyah (Januari 2007, Yogyakarta, Progress,),
Tidak. Jibril Tidak Pensiun (Juli 2007, Yogyakarta, Progress),
Kagum Pada Orang Indonesia (Januari 2008, Yogyakarta, Progress),
Dari Pojok Sejarah; Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Mei 2008, Yogyakarta, Progress)
DEMOKRASI La Raiba Fih (Cetakan III, Mei 2010, Jakarta, Kompas)
Spirit Journey Emha Ainun Nadjib (2012, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama)
Tuhan Pun Berpuasa (Agustus 2012, Jakarta,  Gramedia Pustaka Utama)


Emha Ainun Nadjib
 
 
 
Rotterdam, Balanda, Juni 1984, disebuah park atau semacam alun-alun. Pada acara Poetry International’ 1984, ia naik pentas didampingi Zapata, pemain perkusi kelahiran Suriname yang berdomisili di Amsterdam, belanda. Kedua orang yang dirubung ribuan penonton ini melempar improvisasinya dengan kata, Zapata lewat tetabuhannya. Penonton bertepuk riuh. Di akhir pentas, tiba-tiba ia berdzikir Laailaaha Illallah, dan Zapata segera mengentakan gendangnya. Ketika dzikir itu berakhir dengan raungan, Zapata menghentikan pukulannya. Akibatnya, penonton menggeliat, terkesima, lantas lebih gemuruh bertepuk tangan.
 
“Alhamdulillah, kami selamat,” tuturnya, dalam sebuah suratnya ke tanah air, mengenai pertunjukannya itu. Sebelum naik pentas, penyair yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Gontor, Jawa Timur, ini sempat grogi melihat penampilan para peserta sebelumnya. Di tanah air, ulahnya membaca puisi dengan iringan tetabuhan terdiri dari gong, bonang, gendang dan saron, pernah membuat bingung Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pihak DKJ tidak tahu, puisi-puisi semacam itu mesti digolongkan apa sastra, musik, atau apa.
 
Ia sendiri tidak pernah ambil pusing, keseniannya itu masuk mana. “Saya hanya ingin mengadakan pertunjukan berdasarkan prinsip sosial yang saya miliki,” kata anak keempat dari lima bersaudara itu. Ia merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti yang berpangkalan dirumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga mulai tertarik menjadi kolumnis.
 
Ayahnya, Almarhum M.A. Lathif, adalah seorang petani, yang pernah memiliki kuda tunggang. “Waktu remaja, saya dulu suka naik kuda itu,” tuturnya. Penyair yang pernah dikeluarkan dari Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, karena menjadi pemimpin demonstrasi ini pernah hidup di ‘jalanan’ Yogyakarta selama lima tahun (1970-1975). Mempelajari sastra dari Umbu Landu Paranggi, yang sangat mempengaruhi karya tulisnya.
 
Tahun 1984 s/d 1986, ia menetap di Amsterdam dan Den Haag, Belanda. Selama di Den Haag, dari membantu Prof. C. Brower melaksanakan lokakarya tentang agama, kebudayaan dan pembangunan. Salah satu pendiri Teater Dinasti dan ayah dari Noe, vokalis bad Letto ini menikah dengan penyanyi Novia Kolopaking. Pernah mengikuti festival sastra dan konser bersama Kiai Kanjeng ke Australia, Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara eropa.
 
Bersama komunitas Masyarkat Padhang mBulan dan kelompok gamelan Kiai Kanjeng, ia berkeliling nusantara. Ia juga menyelenggarakan acara-acara bersama Jamaah Maiyah Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah salah satu forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender, yang diadakan di Jakarta setiap satu bulan sekali dan sudah beralngsung lebih dari 10 tahun. Di kota lain juga masih mempunyai agenda rutin bulanan seperti Mocopat Syafaat Yogyakarta, Padhangmbulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya, Paparandang Ate Mandar, Maiyah Baradah Sidoarjo, dan masih ada beberapa lain yang bersifat tentative namun sering seperti di Bandung, Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali.
 
Penyair yang akrab dipanggil ‘Cak Nun’ ini, pernah tampil di Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Aktif berteater bersama Halim Hd di sanggar Bambu dan Teater Dinasti. Menikah dengan seorang penyanyi, Novia Kolopaking, pada 22 Maret 1997, dikaruniai 4 orang anak dan satu orang anak dari istrinya terdahulu, Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau yang dikenal dengan Noe, yang juga vokalis grup musik Letto. 
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply