Enoh Atmadibrata

Nama :
Enoch Atmadibrata
 
Lahir :
Desa Samarang, Garut,
 Jawa Barat,
19 Nopember 1927
 
Wafat :
Cimahi, Jawa Barat,
 15 April 2011
 
Pendidikan :
SD di Bandung (1924),
SLTP Kertasari, Bandung (1945),
SMA di Bandung (1949),
Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Sipil (1954),
Jurusan Etnomusikologi University of California Los Angeles /UCLA,
Amerika Serikat (1969-1971)
 
Aktifitas Lain :
Pemimpin Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional daerah Jawa Barat
(1975-1985),
Ketua Bidang Studi Pendidikan Seni Tari pada jurusan Pendidikan Seni Drama-Tari dan Musik Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Bandung
(1979),
Pengajar di Jurusan Sinematografi, Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD (1981),
Pengajar Tari University of Santa Cruz, Amerika Serikat,
Pengajar Tari University of Ohio, Amerika Serikat,
Pendiri padepokan kesenian Sunda Tutuka (1986)
 
Karya Tari :
Gending Karesmen,
 Cendrawasih (1959),
Katumbiri (Pelangi, 1960),
Puspalaras (1960),
Hujan Munggaran
(Hujan Pertama 1962)
Sendratari Lutung Kasarung
(1963)
Mundinglayadi Kusumah (1981)
Sangkuriang (1981)
Si Congcorang (1991)
 
Karya Naskah
Wayang Orang :
Jabang Tutuka (1957)
 
Karya Tulis :
Khasanah Kesenian Daerah Jawa Barat (1976),
Tulisan Sunda Dance  dalam buku Grove Dictionary (1977)
Pendidikan Seni Tari Untuk SLTP dan SLTA (1982),
Panungtun Dalang Wayang Golek di Pasundan (1982),
Ibing Sunda (1998),
Ketuk Tilu and Tayuban, Performing Arts (1999),
Khasanah Seni Pertunjukan Daerah Jawa Barat (2007)
 
Pencapaian :
Beasiswa dari University of California/UCLA,
Amerika Serikat (1968)
Penghargaan Kebudayaan sebagai Seniman : Pengabdian terhadap Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat dari Dinas Kebudayaan dari Pariwisata Jawa Barat (2001),
Satya Lencana Kebudayaan RI (2003),
Penghargaan Seniman Kota Bandung dari Walikota Bandung (2007),
Penghargaan Seniman Senior Indonesia Mestro Seni Tradisi dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2009),
Penghargaan kebudayaan dari Gubernur Jawa Barat (2010)

Seniman Tari
Enoch Atmadibrata
 
 
 
Perintis berdirinya STSI Bandung dan Fakultas Ilmu Bahasa dan Seni UPI Bandung ini, lahir di Garut, Jawa Barat, 19 Nopember 1927 lalu. Sudah tertarik kepada kesenian Sunda, terutama seni tari, sejak SMP di Bandung dan belajar dari R. Gandjar. Setelah perang kemerdekaan, ia meneruskannya di Badan Kesenian Indonesia (BKI), Bandung.
 
Pertama kali belajar menari klasik sunda dari Raden Gandjar pada tahun 1943. Selanjutnya setelah perang kemerdekaan RI usai, ia  belajar menari dari R. Tjetje Somantri. Belajar menari wayang dari Moh. Sari Redman di Perkumpulan Kesenian Wirahma Sari Bandung (1950-1957). Mempelajari menari keurseus dan tari topeng Palimanan dari Bi Dasih (1960). Mulai belajar menari secara serius ketika ia berguru kepada Sambas Wirakusumah di Rancaekek, sewaktu menjadi mahasiswa ITB. Tahun 1960 ia belajar tari Topeng Cirebon kepada Bi Dasih.
 
Menulis naskah wayang orang berjudul ‘Jabang Tutuka’ (1957), yang di pentaskan oleh perkumpulan DAMAS di Bandung. Ia juga menciptakan tari ‘Cendrawasih’ (1959), tari ini adalah kreasi tari yang diiringi gamelan degung disertai kacapi suling dan gendang yang diciptakannya untuk memberikan semangat kepada masyarakat Papua)memperjuangkan kesetaraan hak sebagai warga negara Indonesia. Ciptaan tari lainnya antara lain: ‘Katumbiri’ (Pelangi, 1960), ‘Puspalaras’ (1960), dan ‘Hujan Munggaran’ (Hujan Pertama, 1962) yang diiringi Gending Wanda Anyar (Mang Koko-an). Ia juga menciptakan sendratari ‘Lutung Kasarung’ (1963), ‘Mundinglayadi Kusumah’ (1981), ‘Sangkuriang’ (1981) dan ‘Si Congcorang’ (1991).
 
Sedangkan karyanya yang berbentuk buku diantaranya ‘Khasanah Kesenian Jawa Barat’, yang di tulis bersama-sama Atik Supandi S. Kar (Bandung,1976) dan ‘Pendidikan Seni Tari’ (Bandung, 1982) untuk SLTP dan SLTA dan ‘Ibing Sunda’ (1998). Pernah mengikuti kuliah di Universty of California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat (1969-1971) dan mengajar tari Sunda di Ohio dan UCSC, Amerika Serikat (1977). Berkali-kali ia mengikuti misi kesenian ke luar negeri antara lain : Amerika Serikat (1977 dan 1987), Kanada (1977), Hongkong (1978), Kualalumpur (1979), Jerman (1980), Inggris (1982) dan Jepang (1983).
 
Tahun 1974, ia ditarik ke lingkungan Setwilda Jawa Barat, untuk mengurusi tugas-tugas yang ada hubungannya dengan kesenian antara lain, seperti memimpin Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional daerah Jabar (1975-1985). Tahun 1979 menjadi Ketua Bidang Studi Pendidikan Seni Tari pada jurusan Pendidikan Seni Drama-Tari dan Musik Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Bandung. Ia juga mengajar di Jurusan Sinematografi, Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD (1981).
 
Mengikuti Asean Cultural Preservation (1961), Konferensi Asia and Pacific Culture Preservation di Santa Cruz, California, Amerika Serikat (1977), Asian Performing Art di Kuala Lumpur, Malaysia (1978), Festival of Asian Performing Arts di Hongkong (1978), Konferensi Southeast Asean Cultural Preservation di Denpasar, Bali (1980), Asean Cultural Conference di Jakarta (1981). Tahun 1986, ia mendirikan padepokan kesenian Sunda Tutuka.          
 
Ceramahnya di pertengahan tahun 1968 tentang tarian sunda di Konservatori Tari (kini STSI) mengundang decak kagum perwakilan Institute of Ethnomusicology University of California (UCLA). Saat itu, ia memaparkan tentang pentingnya pengemasan pertunjukan dan dokumentasi dalam berbagai kesenian rakyat. Tanpa diduga perwakilan dari University of California langsung memberikan beasiswa kepadanya untuk belajar di Amerika Serikat.
 
Ia juga gemar mendokumentasikan karya dalam media elektronik. Koleksinya adalah ratusan rekaman seni pertunjukan dari berbagai negara dan daerah dalam bentuk film, foto dan kaset. Ia ingin semakin banyak masyarakat mengetahui, lantas menyukai kesenian dan adat istiadat yang Indonesia miiliki. Bersama Yayasan Kesenian dan kebudayaan Jayaloka, ia mengolah dokumentasinya ke dalam bentuk digital, tujuannya agar masyarakat mampu mengenal lebih jauh potensi seni yang dimilikinya.    
 
Menikah dengan Yulianingsih (alm), dikarunia seorang anak, Asep Nugraha. Pengalamannya belajar di luar negeri menunjukkan banyak karya seni rakyat Indonesia butuh pengembangan, terutama pengemasan panggung. Ia khawatir kesenian rakyat akan kehilangan peminat. Wafat dalam usia 84 tahun di rumahnya, jalan Melong Asih, Cibeureum, Cimahi, Jawa Barat. Dimakamkan di tanah kelahirannya di Tarogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
(Dari Berbagai Sumber)
    

You may also like...