Erros Djarot


Erros Djarot
 
 
 
Namanya sebagai budayawan mulai melambung ketika menciptakan karya musik monumental Badai Pasti Berlalu. Lagu tersebut merupakan soundtrack untuk film yang berjudul sama pada awal tahun 1970-an. Tahun 80-an, kembali namanya mencuat setelah berhasil menjadi sutradara film Tjoet Nya’ Dien. Film itu konon menjadi film Indonesia termahal pada zamannya dan sekaligus proyek idealis Erros. Film ini telah mengantarkan Indonesia untuk pertama kali berkibar di di Festifal Film Cannes, Perancis.
 
Sukses di dunia musik dan film tidak lantas membuat adik dari aktor Slamet Rahardjo Djarot itu tetap di dunia entertainment. Tahun 1990-an, ia malah memasuki dunia jurnalistik dengan menerbitkan Tabloid Detik. Tabloid ini pun menjadi fenomenal dan merupakan bacaan alternatif yang menyegarkan sekaligus mencerdaskan. Tapi akhirnya, tanggal 24 Juni 1994, tabloid yang kerap menyuarakan kritik kepada rezim Orde Baru itu dibredel.
 
Bagi banyak orang, nama Erros Djarot lebih dikenal sebagai budayawan ketimbang sebagai politisi. Karya-karya budayanya banyak beredar dan mudah diapresiasi masyarakat. Walaupun sebenarnya sejak duduk di bangku sekolah ia sudah aktif dalam dunia politik sebagai kader ‘barisan Banteng’ selaku fungsionaris GSNI di Kota Yogya.
 
Aktifitasnya di GSNI ini tampaknya memiliki andil besar menjadikannya seorang nasionalis-humanis. Pada tahun 1970 ia melanjutkan studinya ke Sekolah Teknik Tinggi Koln, Jerman. Kemudian ia juga belajar di sekolah perfilman di Inggris. Selama 11 tahun ia berada di luar negeri yang membuatnya akrab dengan pergerakan internasional. Ketika berangkat ke luar negeri, ia mengaku tidak memiliki dan tidak dibekali modal. Uang yang dipunyainya hanya 12 dollar. Namun, karena bekerja keras dan memiliki kemauan untuk maju, maka ia tetap bisa bertahan hidup dan kembali ke tanah air dengan banyak bekal ilmu dan pengalaman.
 
kembali ke Indonesia, Erros mulai tertarik terjun ke dunia politik praktis. Tahun 1983 ia mendirikan Litbang Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Tahun 1988 ia sempat menonaktifkan diri dari politik praktis. Baru pada tahun 1993 kembali aktif ke panggung politik ketika Megawati Soekarnoputri dicalonkan sebagai Ketua Umum PDI menggantikan Soerjadi.
 
Sebelumnya, tahun 1983-1986, Erros sempat menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas 17 Agustus. Memasuki dunia politik ternyata tidak berarti Erros meninggalkan yang lain, seperti kegiatan kebudayaan. Baginya, aspek kesenian dan kebudayaan sangat membantu dalam memahami makna kehidupan.
 
Kegiatannya sebagai seniman dan budayawan masih terus berjalan, masih mengarang lagu, menulis cerpen, menulis skenario, walaupun hanya untuk dinikmati sendiri. Semua kegiatan kebudayaan itu membuatnya tidak pernah merasa sepi. Sampai-sampai waktu seminggu itu kurang baginya. Baginya kebudayaanlah yang membuat seorang manusia lebih mengenali dirinya, mengenal apa yang di luar dirinya, dan untuk semakin memperkuat jati diri. Ia akan terus melakukan ini sampai mati, karena itu ia merasakan kebudayaan sebagai anugerah yang luar bisa dari Tuhan.
 
Selain sibuk di partai, Erros merupakan orang yang suka bergaul dengan berbagai kalangan termasuk LSM. Ia juga suka merancang bisnis, tetapi mengaku tidak bisa menjadi direktur utama. Jabatan yang rasanya lebih pas adalah komisaris. Sebab, ia melihat dirinya itu tidak berbakat karena tidak bisa menipu. Padahal, menurut pengamatannya, seorang bisnisman harus bisa menjilat pejabat, bisa berbohong, bisa membohongi pajak dan menutupi banyak hal.
 
Kegiatan lain yang masih dilakukan adalah menjalin komunikasi dengan rekan-rekan perfilman nasional. Erros juga mengaku masih memiliki banyak impian yang belum tercapai. Terlalu banyak yang belum dicapai dalam merampungkan mimpi-mimpinya. Ia juga menganggap jabatan yang disandangnya saat ini hanya sementara.
 
Hingga saat ini Erros mengaku kadang-kadang masih suka naik bis kota. Semua itu adalah bagian dari proses pendewasaan diri dan pengenalan lingkungan secara utuh. “Bagi saya tidak pentinglah jabatan-jabatan ini semua. Pada saatnya ketika sebelum mati, saya tidak mau membayangkan dosa-dosa saya kepada rakyat. Kalau saya mati, saya telah mengerjakan pekerjaan saya yang belum selesai. Saya tak mau meninggalkan hutang, apalagi hutang kepada rakyat. Kalau saya dipanggil saya mau istirahat dengan damai. Tetapi selama saya hidup saya akan bekerja”,”urainya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Erros Djarot
 
Lahir :
Rangkas Bitung, Banten,
 22 Juli 1950
 
Pendidikan :’
Sekolah Tinggi Tekhnik, Koln, (Jerman)
Sekolah Perfilman, (Inggris)
 
Profesi :
Budayawan,
Politisi
 
Penghargaan :
Pemenang Bronze Medal, mewakili Inggris Raya dalam Lomba Photo International Competition Nikon, (1978),
Nominator Mike Burke’’s Award,
Sutradara terbaik pada FFI 1988 dakam film Tjoet Nya’ Dien,
BBC documentary Competition, (1997),
Film Dokumenter Kantata Takwa yang dibuat bersama Slamet Rahardjo dan Gotot Prakosa meraih penghargaan Golden Hanoman dan Geber Award pada Jogja Netpac Asian Film Festival 2008
 
Filmografi :
Kawin Lari (1974),
Perkawinan Dalam Semusim (1976),
Badai Pasti Berlalu ((1977),
Kembang Padang Kelabu (1980),
Usia 18 (1980),
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980),
Di Balik Kelambu (1982),
Ponirah Terpidana (1983),
Secangkir Kopi Pahit (1984),
Bila Saatnya Tiba (1985),
Kodrat (1986),
Tjoet Nya’ Dien (1986),
Kantata Takwa (1990)
 

You may also like...