Euis Komariah


Euis Komariah
 
 
Lahir di Majalaya, Jawa Barat, 9 September 1949. Setamat SD, melanjutkan sekolahnya ke SMP V Bandung (1962) selanjutnya ke SMA Pasundan. Tahun 1977, ia pindah sekolah dan ke Sekolah Konservatori Karawitan (KOKAR) Sunda di Bandung. Di tempat inilah ia mendalami pendidikan karawitan secara formal.
 
Menyanyikan tembang Sunda sudah dilakukannya sejak masih anak-anak. Pertama kali belajar menembang Sunda dari seorang seniman setempat yang juga berprofesi sebagai juru tulis desa bernama Ansori. Di usia 9 tahun ia sudah mahir melantunkan lagu-lagu kawih kepesindenan, yang diiringi Kacapi atau Celempungan. Saat duduk di bangku SD, ia sudah menjuarai berbagai perlombaan tembang dan kawih Sunda.
 
Keahliannya tersebut terus ia kembangkan, pada kejuaraan tembang sunda tingkat SMP, ia keluar sebagai juara kedua. Ketika duduk di bangku SMA, ia menyabet predikat juara kedua dalam lomba Pasanggiri Tembang Sunda (1964). Tahun 1966, ia menjadi juara umum dalam lomba tembang dan kawih yang diselenggarakan oleh Daya Mahasiswa Sunda di Bandung. Mendapat juara pertama di Pasanggiri Tembang Sunda yang diselenggarakan oleh Galura Sunda. Sejak saat itu, ia kerap manggung dalam pesta atau hajatan.
 
Karena prestasinya yang telah beberapa kali menjuarai pasanggiri tembang dan kawih Sunda, ia di daulat menjadi juri pada kegiatan serupa. Pertengahan tahun 1960-an, ia mulai memiliki album pop Sunda yang direkam di berbagai studio di Jakarta dan Bandung. Juga mendirikan grup degung Dewi Pramanik, yang seluruh anggotanya terdiri dari perempuan. Bersama grupnya tersebut ia juga membuat sejumlah rekaman-rekaman kaset, baik dalam tembang, kawih atau degung.
 
Sejak menikah dengan seniman tari Gugum Gumbira (1968), karirnya semakin cemerlang. Bersama suaminya ia mendirikan studio rekaman dan sanggar seni Jugala. Selain sebagai penembang, ia juga membuat beberapa lagu yang di lantunkannya sendiri, antara lain ‘Kuta Maya’ yang liriknya dibuat oleh Apung Supena Wiratmaja, seorang guru mamaos. Menyanyi bersama Yus Wiradiredja dalam album ‘The Sound of Sunda’ yang direkam Globe Style dari London, Inggris (1990). Album yang berisikan lagu ‘Sorban Palid’, ‘Duh Ieung’ dan ‘Salam Sonojuga’ ini, sangat di gemari baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Berkat albumnya tersebut, ia kerap ditawari pentas di luar negeri, seperti di Jepang (2003), Taiwan (2004), Kanada dan Amerika Serikat pada April 2007.
 
Selain ‘The Sound of Sunda’, sebenarnya Euis juga memiliki album yang diedarkan keberbagai negara oleh Globe Style, yaitu ‘Euis Komariah with Jugala Orchestra’, dan ‘Jaipongan Java’. Jika ditotal hingga tahun 2000 sudah ada sekitar 50 album pop Sunda, degung, jaipongan dan Kliningan, termasuk lagunya yang dibuat di dalam negeri, ‘Modjang Bandoeng’.
 
Maret 2007, ia diminta enam perguruan tinggi di Amerika Serikat untuk mengajar pada workshop gamelan degung dan kawih Sunda selama sebulan, ia pun mengajar di University of Pittsburgh, Bates College, University of California, The Ashland University Departement of Music, Hugh Hodgson School of  Music University of Georgia dan Kenyon College. Di dalam negeri ia juga menjadi pengajar pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.
 
Di semua tempat itu, ratusan mahasiswa belajar gamelan, degung dan kawih Sunda kepadanya. Menyadari keterbatasan kemampuan mahasiswa dalam mempelajari bahasa Sunda, ia hanya memberikan kawih-kawih pendek berisi empat bait lagu. Ia mengaku terkejut melihat semangat para mahasiswa asing. “Di Indonesia, degung Sunda sudah jarang terdengar, padahal seniman dan alatnya masih mudah ditemui. Di luar negeri, biarpun banyak keterbatasan, mereka tetap mau belajar. ujarnya. “Kekayaan seni Indonesia sangat unik dan membanggakan. Anak muda di negeri asing saja begitu cinta pada seni Indonesia, kita harus lebih mencintainya,” tambahnya.
 
Sebuah buku yang berjudul ‘Daweung Tineung Euis Komariah, Sebuah Biografi’ setebal 234 halaman diluncurkan pada bulan April 2010. Peluncuran buku tentang perjalan hidupnya semakin melengkapi karir bermusiknya selama ini. Bersamaan dengan itu juga, diluncurkan pula CD berjudul ‘Kudu Kasaha’ yang berisi 15-16 lagu terbarunya. Ia berharap tembang, kawih, degung dan gamelan Sunda tetap lestari sepanjang masa.
 
Pelantun tembang Cianjuran ini, wafat dalam usia 62 tahun, pada hari Kamis, 11 Agustus 2011 dini hari karena sakit. Maestro tembang sunda itu wafat ditengah-tengah keprihatinan mengenai minimnya perhatian pemerintah daerah untuk kelestraian kesenian tradisional. Meninggalkan empat orang putri. Dirawat di Sentosa International Hospital sejak selasa, 9 Agustus 2011. Jenazah dimakamkan di Majalaya, Bandung, Jawa Barat.      
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Euis Komariah
 
Lahir :
Majalaya, Jawa Barat,
9 September 1949
 
Wafat :
Bandung, Jawa Barat,
11 Agustus 2011
 
Pendidikan :
SD,
SMP V Bandung (1962).
SMA Pasundan.
Konservatori Karawitan  Sunda di Bandung (1977)
 
Kegiatan lain :
Pendiri Lingkung Seni Dewi Pramanik,
Pendiri Jugala Grup,
Guru tembang Sunda untuk penulisan skripsi dan desertasi bagi orang asing seperti Jepang, Amerika Serikat dan Australia,
Pengaja di sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung
 
Album :
The Sound of Sunda (1990),
Euis Komariah with Jugala Orchestra,
Jaipongan Java,
Kudu Kasaha (2010)
 
Penghargaan :
Juara berbagai perlombaan tembang dan kawih Sunda tingkat SD,
Juara Kedua tembang Sunda tingkat SMP,
Juara Kedua lomba Pasanggiri Tembang Sunda (1964),
Juara umum lomba tembang dan kawih yang diselenggarakan oleh Daya Mahasiswa Sunda di Bandung (1964),
Juara pertama di Pasanggiri Tembang Sunda yang diselenggarakan oleh Galura Sunda

You may also like...