Fadjar Sidik

Nama :
Fadjar Sidik
 
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur,
8 Februari 1930
 
Wafat :
Yogyakarta, 18 Januari 2004
 
Pendidikan Formal :
HIS di Yogyakarta,
SMP di Surabaya,
SMA di Surabaya,
Universitas Gajah Mada (1954),
ASRI (1952),
 Art Restoration Technique and Conservation study di Selandia Baru (1968-1970)
 
Pendidikan non-formal :
Sanggar Pelukis Rakyat (1952)
 
Profesi :
Pengajar ASRI
 
Penghargaan :
Anugerah Seni, sebagai pelukis kontemporer dari pemerintah RI (1971)
Penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1993)
 
 
 


Fadjar Sidik
 
 
 
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 8 Februari 1930. Pendidikan formalnya di tempuh di HIS Yogyakarta, sedangkan SMP dan SMA-nya di Surabaya. Tahun 1952, kembali ke Yogyakarta mengikuti kuliah di UGM dan juga ASRI (1954). Selain itu ia juga ikut belajar melukis di Sanggar Pelukis Rakyat di bawah asuhan Hendra Gunawan dan Sudarso di tahun 1952, serta berkesempatan pula selama hampir satu setengah tahun (1968-1970) belajar di Selandia Baru tentang Art Restoration Technique and Conservation.
Sejak Tahun 1957-1961 bermukim di Bali, berkawan dengan sejumlah pelukis antara lain Alimin, Sri Widodo dan O.H. Supono. Pada akhir tahun 1961 kembali ke Yogyakarta dan mengajar di ASRI. Sejak 1966 menjadi dosen tetap di ASRI. Selanjutnya tahun 1967-1983 menjadi Ketua Jurusan Seni Lukis di alamaternya tersebut. Ia dikenal sebagai pengajar yang mampu merangsang diskusi tajam di lingkungan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.
Corak lukisannya beralih dari realisme ke abstrak di awal tahun 60-an. Pilihannya terhadap lukisan abstrak, banyak dipengaruhi oleh masa perantauannya di Bali, yang dianggapnya hanya melukis ‘benda industri’, yang meskipun indah tak semestinya ditangkap sebagai obyek representasi. Ia menganggapnya telah menipu dirinya sendiri, sehingga menciptakan obyek-obyek sendiri untuk keperluan ekspresi.
“Entah mengapa,” tulis Fadjar pada 1970-an, “hasil industri itu banyak yang bentuknya indah dan enak dilihat, tapi tidak untuk dilukis; mereka perlu rusak dulu baru bisa dilukis atau dibuat patung…. Saya kehilangan obyek-obyek pelukisan yang artistik dan puitis. Ah, daripada menggambar obyek-obyek hasil kreasi para desainer industri itu, mengapa tak menciptakan bentuk sendiri saja untuk keperluan ekspresi murni yang bisa memenuhi tuntutan batin yang paling dalam?”


Dinamika Keruangan, cat minyak diatas kanvas,
94 x 64 cm (1969)

Ia kemudian mengembangkan corak lukisan abstrak yang khas yakni dengan menciptakan genre Dinamika Keruangan. Seri lukisan khasnya tersebut di dalamnya memuat tema citraan bermacam-macam, seperti ‘hanya’ menggambarkan bulatan-bulatan atau persegi tiada beraturan, atau sedikit bentuk yang mencitrakan hewan atau Alamo. Selain itu ada juga kesan dekoratif dalam lukisannya yang seringkali terjadi karena susunan bentuk biomorfis berwarna kontras yang ditata berirama di bidang kanvasnya.

 
Fadjar menyebut lukisannya sebagai ‘desain ekspresif’ suatu keinginan untuk mendamaikan antara abstraksi dan empati. Jejak empati Fadjar terhadap alam kemudian melantunkan bukan bentuk-bentuk naturalistik, melainkan sejenis raut khayal yang hidup-bernapas atau biomorfik. Wacana abstraksinya-dorongan ke arah geometri-melahirkan sejenis negasi atau ketakutan terhadap ruang (horror vacui).
 
Tak kurang dari empat dasawarsa lamanya Fadjar Sidik menjelajahi ‘dinamika bentuk dan ruang’ hanya dengan sebuah manifesto tak lebih dari 300 kata. Di lingkungan akademis yang tumbuh dari suasana romantik sanggar, Fadjar menjalarkan semangat modernis yang meletup dari pandangan kritis-rasionalnya. Pada 1970-an, tak segan ia membonceng sepeda motor butut, bertandang menyaksikan kelahiran abstrakisme baru-bidang warna rata, garis yang ditarik dengan mistar di kamar kos muridnya.
 
Pelukis yang pernah menerima Anugerah Seni, sebagai pelukis kontemporer dari pemerintah RI di tahun 1971 dan penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 1993 ini, selalu aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran lukisan tingkat nasional maupun internasional.
 
Tercatat sejak tahun 1957-1993 ia telah beberapa kali menyelenggarakan pameran tunggal serta ratusan kali mengikuti pameran kolektif dengan rekan pelukis lainnya baik di Indonesia – Asia maupun di berbagai Negara Eropa. Pameran tunggalnya antara lain pameran lukisan Retrospektif ‘40 tahun Melukis’ di Gedung Pameran Depdikbud, Jakarta (1991), dan Pameran tunggal di Museum Affandi, Yogyakarta (2002). Sedangkan Pameran bersama yang pernah di ikutinya yakni Pameran Lukis KIAS di Amerika Serikat (1991), Pameran Non Figuratif Indonesia di Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki (1993), dan Pameran PAKIB di Belanda (1993).
 
Seniman senirupa Fadjar Sidik wafat pada hari Minggu, 18 Januari 2004, di rumahnya, di Yogyakarta, setelah menderita gagal ginjal.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply