Faisal Amri

Nama :
Faisal Amri
 
Lahir :
Sitiung, Sumatera Barat,
10 Desember 1971
 
Pendidikan :
Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Padang (1991),
Akademi Seni Karawitan Indonesia, Padang Panjang (1994),
Sendratasik IKIP Padang (1998)
 
Karya Tari :
Orang-orang Tercinta (1995),
Tanduak (1996),
Indang Saliguri (1997),
Hep Ta Hu,
Stop (1997),
Stress (1997),
Resah (1998),
Iyong Laot (1999),
Todak (2001),
Galang (2001),
Rentak Zapin (2001),
Kalam (2002),
Iyong (2002),
Nyanyian Pasir (2003)
 
Pencapaian :
Juara I GKJ Award 1997 untuk kategori Entertainment ,
Juara II GKJ Award 1997 untuk kategori Tradisi,
Penyaji Terbaik, Tari Terfavorit dan Koreografer Terbaik dalam Festival Tari Kreasi Baru di STSI Surakarta 1998,
Penyaji Terbaik III pada Lomba Koreografi Gedung Kesenian Jakarta 1999,
Juara umum dan Koreografi terbaik di Festival Tari Kontemporer Pekan Baru 2001
 

Koreografer dan Penari
Faisal Amri
 
 
 
Lahir di Sitiung, Sumatera Barat, 10 Desember 1971, menekuni tari sejak masih bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Padang, dan tamat ditahun 1991. Melanjutkan pendidikannya di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang dan tamat pada tahun 1994.
 
Setelah itu ia menamatkan pendidikannya di Sedratasik IKIP Padang pada tahun 1998 di tahun yang sama ia hijrah ke Batam. Beberapa pementasan pernah ia ikuti, yaitu pada tahun 1995 ia tampil pada Contemporer Dance Festival (CDF) di Padang dengan karya tari ‘Orang-Orang Tercinta’. Dalam acara Pementasan Koreografer Muda Indonesia di STSI Bandung, tahun 1996, ia tampilkan karyanya yang berjudul ‘Tanduak’. Tahun 1997, boleh dibilang tahun keberuntungannya. Ia meraih dua gelar sekaligus pada acara GKJ Award yaitu juara I untuk kategori Entertainment dalam karya ‘Indang Saliguri’ dan juara II kategori Tradisi dengan karya ‘Hep Ta Hu’. Karena prestasinya itu, ia berhak mempertontonkan karyanya pada acara Pembukaan Jakarta International Festival di GKJ.
 


Nyanyian Pasir (2003)

Masih di tahun 1997, pada Indonesia Dance Festival (IDF) di Taman Ismail Marzuki ia mementaskan ‘Stop’, selain itu ia juga menggelar karya ‘Stress’ dalam pementasan Tari menyongsong Abad 21 di Taman Budaya Padang tahun 1997.
 
Kembali bintang terang berpihak padanya ketika pada acara Festival Tari Kreasi Baru di STSI Surakarta 1998 ia meraih 3 gelar sekaligus yaitu Penyaji Terbaik, Tari Terfavorit, dan Koreografer terbaik dalam karyanya ‘Resah’. Tahun 1999, karyanya ‘Iyong Laot’ mengantarkannya menjadi Penyaji terbaik III pada Lomba Koreografi Gedung Kesenian Jakarta.

 
Juara umum dan koreografer terbaik ia raih pada acara Festival Tari Kontemporer di Pekan Baru tahun 2001, dimana ia membawakan karyanya yang berjudul ‘Todak’. Selain itu ia juga pernah mengikuti Palu Indonesia Dance Forum (PID Forum) 2001 membawakan tari ‘Galang’, Festival Zapin International di Bintan 2001 dengan karya ‘Rentak Zapin’, Festival Cak Durasim di Surabaya 2002 mementaskan karya ‘Kalam’ dan pada Pasar Tari Kontemporer Indonesia di Pekan Baru tahun 2002 dengan karya ‘Iyong’.
 
(The Next Traces 2003)

You may also like...